Ngeri, Kurang Tidur Bisa Membuat Otak Memakan Sel-Selnya Sendiri

DokterSehat.Com – Semakin dewasa seseorang, semakin besar pula kecenderungannya untuk mengalami masalah kurang tidur. Sebagian orang masih harus menyelesaikan berbagai macam pekerjaan hingga tengah malam. Sebagian lain memiliki kebiasaan untuk nongkrong hingga larut malam, bermain game, atau menonton acara televisi semalaman. Meskipun terlihat mengasyikkan, kurang tidur ternyata bisa memberikan dampak yang sangat buruk bagi kesehatan tubuh.

doktersehat-otak-xray-mri-infeksi-parkinson

Tak hanya bisa memicu berbagai macam penyakit berbahaya, sebuah penelitian terbaru bahkan menunjukkan fakta mengerikan dimana kurang tidur bisa membuat otak kita mulai memakan sel-selnya sendiri. Sebagai informasi, karena kondisi kurang istirahat ini, sel-sel otak yang seharusnya memiliki fungsi untuk membersihkan diri justru menjadi lebih aktif dan agresif. Para ilmuwan menyebut sel-sel yang memiliki fungsi membersihkan diri ini sebagai sel astrocyte. Biasanya, sel ini mampu memutus sambungan antar sel pada otak yang disebut sebagai sinapsis dengan tujuan perbaikan atau membentuk sambungan yang baru. Sayangnya, dalam penelitian yang dilakukan pada tikus laboratorium yang mengalami kurang tidur selama berhari-hari ini, terlihat jelas bahwa sel-sel pada otak tikus ini melakukan fungsinya dengan berlebihan dan lebih agresif sehingga akhirnya memicu kerusakan yang hampir sama dengan yang terjadi pada penderita penyakit Alzheimer.

Michele Bellesi, ilmuwan yang menemukan fakta mengerikan ini dari Marche Ploytechnic, menyebutkan bahwa dalam penelitiannya Ia membagi dua kelompok tikus laboratorium. Satu kelompok dibebaskan untuk tidur lama seperti biasa, sementara itu, kelompok lainnya dikondisikan agar mengalami masalah kurang tidur kronis. Pada kelompok tikus yang mengalami masalah kurang tidur ini, terlihat jelas bahwa sel astrocyte mengalami peningkatan aktifitas hingga 8-13,5 persen, jauh lebih tinggi dari angka 6 persen yang dialami pada kelompok tikus yang tidur dalam waktu yang lama. Peningkatan aktifitas ini ternyata bisa memicu kerusakan pada otak yang cukup parah.