Mitos Mengenai Penyakit Down Syndrome

DokterSehat.Com – Jumlah orang yang terkena penyakit down syndrome di Indonesia memang masih cukup jarang. Namun, kita tentu cukup terbiasa untuk melihat orang yang terkena penyakit yang sangat mudah dikenali dengan bentuk wajah yang khusus ini. Minimnya informasi tentang penyakit down syndrome membuat ada banyak sekali mitos yang berkembang di masyarakat. Apa sajakah mitos-mitos yang berkaitan dengan penyakit down syndrome?

shutterstock_114508171 (1) copy

Mitos pertama yang dipercaya masyarakat mengenai penyakit down syndrome adalah penyakit ini terjadi karena faktor genetik dimana penderitanya mengalami kelainan genetika yang sangat langka. Mitos ini ternyata salah kaprah mengingat kelainan ini sama sekali tidak langka dan termasuk cukup sering terjadi. Di Amerika Serikat sendiri, setidaknya satu dari 691 bayi terlahir dengan kondisi down syndrome dan rasio ini setara dengan 6.000 bayi yang lahir dalam waktu satu tahun. Di Amerika Serikat sendiri, penderita down syndrome tercatat mencapai 400.000 orang. Selain itu, faktor genetis yang menyebabkan munculnya kelahiran penderita down syndrome ternyata hanya 1 persen saja. Sisanya, penyebab dari down syndrome justru lebih sering terjadi karena kehamilan yang melebihi usia 35 tahun.

Penderita down syndrome sendiri sering dianggap sebagai orang-orang dengan harapan hidup yang rendah. Padahal, dalam realitanya, asalkan mereka diperlakukan layaknya orang biasa, harapan hidupnya akan cenderung sama dengan orang biasa. Penderita down syndrome juga kerap dianggap sebagai mereka yang memiliki kemampuan kognitif yang rendah. Padahal, dalam realitanya ada banyak penderita down syndrome yang berprestasi dan bahkan memiliki kemampuan yang hebat dan belum tentu bisa dilakukan oleh manusia normal.

Satu hal yang pasti, kita tidak boleh mengasingkan penderita down syndrome mengingat mereka juga memiliki hak dan kemampuan untuk berperilaku layaknya orang normal. Bahkan, pakar kesehatan menyebutkan jika anak-anak down syndrome sebenarnya juga memiliki kemampuan yang cukup untuk bersekolah bersama dengan orang-orang normal. Manusia down syndrome yang sudah dewasa juga bisa bekerja dengan normal asalkan diberi pengarahan yang tepat. Selain itu, jika kita memperlakukan penderita down syndrome dengan baik dan normal layaknya teman dan sahabat biasa, maka mereka pun akan memperlakukan kita dengan baik. Tahukah anda, penderita down syndrome bahkan dikenal memiliki kemampuan bersahabat yang sangat baik. Melihat adanya fakta ini, kita tentu harus memperlakukan penderita down syndrome dengan baik layaknya manusia biasa.