kirim artikel kesehatan
kontak kami
direktori rumah sakit indonesia

Minuman dengan pemanis gula dapat meningkatkan resiko penyakit jantung pada wanita

Share Artikel ini melalui: Twitter Facebook MySpace Digg Digg friendster wordpress technorati
Diterbitkan pada tanggal 1 - 04 - 2009 | 3 komentar

DokterSehat-Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa wanita yang teratur minum minuman dengan pemanis gula beresiko tinggi terkana penyakit jantung koroner (PJK). Penelitian terdahulu mengungkapkan pula bahwa minuman berpemanis gula (Sugar sweetened beverages) (SSB) akan memiliki peningkatan berat badan dan terjadinya resiko diabetes tipe 2. Dalam penelitian ini peneliti mengamati hubungan antara konsumsi SSBs dan resiko PJK pada wanita. Peneliti menggunakan data 88.520 wanita pada usia 34-59 tahun pada tahun 1980-2004. Pada awal penelitian, wanita tidak mengidap PJK, stroke, atau diabetes. Data konsumsi SSB didapatkan dari tujuh kali kuisioner yang dilakukan antara tahun 1980 dan 2002.

Selama 24 tahun, peneliti mendapatkan 3.105 kasus PJK (mematikan dan tidak). Peneliti mengkelompokkan konsumsi SSB menjadi lima kategori < 1/bulan, 1–4/bulan, 2–6/minggu, 1/hari, and = 2 sajian/hari. Setelah disesuaikan dengan faktor pola konsumsi, peneliti menemukan bahwa resiko PJK meningkat saat konsumsi SSB meningkat. Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa minuman dengan pemanis buatan tidak memicu PJK. FAN

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 0 (from 0 votes)




Artikel Sejenis

3 komentar | beri komentar

  1. avatar comment-top

    Emanknya tanda2 PJK 2h pa sich?

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    comment-bottom
  2. avatar
    FITRIYONO AYUSTANINGWARNO Says:
    April 5th, 2009 at 4:37 pm
    comment-top

    dikutip dari solusi sehat.net

    Deteksi Dini

    Untuk mencegah serangan jantung paling baik adalah dengan mengontrol faktor risiko serta mendeteksi gejala atau tanda-tanda PJK secara dini. Pemeriksaan darah secara rutin tiap tahun, seperti kadar kolesterol, trigliserida dan gula darah, dapat mendeteksi adanya kelainan secara dini. Sehingga bila ada kelainan dapat dikendalikan baik dengan diet ataupun obat-obatan. Penting juga untuk memeriksakan tekanan darah secara periodik, misalnya tiap 3 bulan, untuk mengetahui adanya hipertensi secara dini.

    Pengobatan hipertensi secara dini disamping dapat mencegah penyakit jantung juga sangat penting untuk mencegah stroke. Pada hipertensi yang masih ringan, seringkali dapat dikendalikan hanya dengan diet rendah garam dan olah raga teratur.

    Adanya nyeri dada yang timbul saat melakukan aktivitas dan berkurang dengan istirahat, merupakan salah satu tanda khas adanya penyakit jantung koroner. Apalagi bila nyeri dada itu disertai penjalaran ke lengan, punggung, leher atau rahang. Lebih lagi bila disertai keringat dingin atau mual/muntah, maka harus diwaspadai sebagai serangan jantung. Bila ada gejala ini sebaiknya segera diperiksakan ke dokter/rumah sakit terdekat.

    Pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) dapat mendeteksi adanya tanda penyempitan koroner, gangguan irama jantung maupun penebalan dinding jantung, dsb. Adanya kelainan yang dideteksi lebih dini dapat digunakan untuk mengatur strategi pengobatan yang lebih tepat.

    Apabila terdapat keluhan nyeri dada yang khas tetapi tidak tampak tanda penyempitan koroner pada pemeriksaan EKG saat istirahat, maka diperlukan pemeriksaan treadmill, yaitu pasien diminta berjalan diatas ban berjalan yang makin lama putarannya makin cepat, sementara dilakukan perekaman EKG secara periodik setiap 2-3 menit. Apabila terdapat penyempitan koroner, maka akan tampak perubahan pada gambaran rekaman EKG.

    Pemeriksaan lain yang kadang-kadang diperlukan adalah ekokardiografi. Pemeriksaan ini dapat menilai gerakan otot dinding jantung, katup-katup jantung dan aliran darah dalam jantung. Adanya penyempitan atau kebocoran katup jantung, kebocoran sekat bilik (ventrikel) atau serambi (atrium) jantung dapat diketahui dengan alat ini.

    Tetapi alat ini tidak secara rutin digunakan untuk deteksi dini penyakit jantung koroner. Dengan sedikit modifikasi (mengganti transducer), alat ini dapat digunakan untuk menilai adanya penyempitan pada pembuluh karotis di leher (pembuluh yang mengalirkan darah dari jantung ke otak). Adanya penyempitan di karotis dapat digunakan sebagai indikator tak langsung untuk menilai penyempitan arteri koroner.

    Pemeriksaan yang digunakan untuk memastikan adanya penyempitan pembuluh darah koroner disebut kateterisasi jantung. Pemeriksaan ini sampai sekarang masih digunakan sebagai standar utama untuk mendiagnosis penyempitan pembuluh darah koroner. Pemeriksaan ini juga digunakan sebagai dasar untuk menentukan tindakan terapi lebih lanjut, seperti melebarkan penyempitan koroner dengan balon, maupun operasi bedah pintas koroner.

    Itulah sebabnya mengapa serangan jantung adalah manifestasi PJK yang paling menakutkan. Tetapi hal ini sebenarnya dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko PJK, dengan menjalankan pola hidup sehat serta melakukan deteksi dini secara berkala.

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 1 Thumb down 0

    comment-bottom
  3. avatar comment-top

    punya karya ilmiah mengenai pemanis (gula pasir/sukrosa) ga??

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Memberi Komentar