Minuman Bergula Tingkatkan Risiko Diabetes

DokterSehat.Com – Minuman ringan bergula meningkatkan risiko Anda terkena diabetes tipe 2. Setiap tambahan konsumsi satu kaleng atau botol (340 ml) minuman bergula sehari meningkatkan kemungkinan terkena diabetes tipe 2 sebesar 22%. Semakin banyak Anda minum minuman berpemanis gula, semakin besar kemungkinan Anda untuk mendapatkan diabetes tipe 2.



Demikian kesimpulan dari sebuah penelitian besar yang dilakukan London Imperial College di Inggris dan delapan negara Eropa lain. Dari 330.234 orang yang diikuti selama 16 tahun penelitan, sebanyak 12.403 orang mengembangkan diabetes tipe 2.

Sebagaimana diketahui, diabetes tipe 2 adalah penyakit kronis yang ditandai oleh resistensi insulin dan terutama terkait dengan faktor genetik (keturunan) dan gaya hidup. Indonesia menempati urutan ke-4 dunia dengan jumlah penderita di atas 21 juta orang. Menurut Riskesdas tahun 2007, diabetes adalah penyebab kematian nomor-2 di daerah perkotaan Indonesia.

Meskipun penelitian tersebut tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat yang pasti antara konsumsi minuman bergula dengan diabetes, namun hubungan antara keduanya sangat kuat. Peningkatan risiko hanya turun sedikit menjadi 18% setelah menyesuaikan temuan untuk memperhitungkan indeks massa tubuh (BMI). Hal itu menunjukkan bahwa bukan hanya kelebihan berat badan yang menyebabkan tren.

Dalam penelitian sebelumnya, konsumsi sekaleng minuman berpemanis gula sehari telah dikaitkan dengan peningkatan kejadian diabetes tipe 2 di populasi Amerika Serikat sebesar 25%. Temuan ini menunjukkan bahwa korelasi yang sama juga berlaku di Eropa. Minuman bergula dapat menyebabkan diabetes tipe 2 karena efeknya pada berat badan. Selain itu, minuman tersebut juga memiliki efek glikemik yang dapat menyebabkan lonjakan cepat dalam glukosa darah, serta gangguan terhadap hormon insulin, yang biasanya mengatur gula darah.

Para penulis juga mengamati peningkatan signifikan insiden diabetes yang berkaitan dengan konsumsi minuman ringan berpemanis buatan, namun hubungan itu menghilang setelah memperhitungkan BMI peserta, yang mungkin menunjukkan bahwa hubungan itu tidak kausal tetapi didorong oleh berat badan peserta. Konsumsi jus buah dan madu murni tidak secara nyata berkaitan dengan insiden diabetes.