Benjolan di Pangkal Paha, Leher, atau Ketiak, Waspada Penyakit Ini

Doktersehat-Benjolan-di-Pangkal Paha-Leher-Ketiak
Photo Source: thepinsta.com

DokterSehat.Com – Pada umumnya benjolan bisa dialami oleh semua orang. Umumnya hal ini merupakan situasi yang normal dan kondisi ini akan mereda saat kondisi kesehatan Anda membaik.

Akan tetapi, Anda harus mewaspadai apabila benjolan di pangkal paha, ketiak, dan leher karena kemungkinan terjadi pembengkakan kelenjar getah bening. Kelenjar ini merupakan salah satu komponen daya tahan tubuh yang berfungsi sebagai markas sel darah putih.

Sel darah putih bertindak mirip seperti ‘penjaga’ yang mengitari sirkulasi darah, mencari dan membasmi kuman atau virus yang berhasil masuk ke tubuh. Sedangkan kelenjar getah bening seperti halnya ‘pos penjagaan’ memiliki area tanggung jawabnya masing-masing.

baca juga: Orang dengan Paha Besar Lebih Aman dari Diabetes?

Saat infeksi sudah menyebabkan pembengkakan, maka benjolan tersebut bisa menjadi tumor jinak yang tumbuh di sekitar jaringan kulit. Sementara saat sudah menjadi kanker atau biasa disebut limfoma penyakit ini dapat memengaruhi sistem limfatik.

Sistem limfatik merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang membentuk pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker.

Cairan limfatik adalah cairan putih menyerupai susu yang mengandung protein lemak dan limfosit yang semuanya mengalir ke seluruh tubuh lewat pembuluh limfatik, ada dua macam sel limfosit yaitu sel B dan T.

Sel B berfungsi membantu melindungi tubuh melawan bakteri dengan membuat antibodi yang memusnahkan bakteri.

Gejala Kelenjar Getah Bening

Gejala dan penyakit kanker kelenjar getah bening meliputi pembengkakan kelenjar getah bening pada leher, ketiak atau pangkal paha. Pembengkakan kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan secara drastis, rasa lelah yang terus menerus, batuk-batuk dan sesak napas, gatal-gatal, demam tanpa sebab dan berkeringat malam hari.

Sering kali penderita tidak menunjukkan gejala yang khas. Benjolan ini jika ditekan tidak terasa sakit, berbeda dengan lymphadenitis yang akan terasa sakit jika ditekan.

Karena tidak ada keluhan khas, banyak pasien yang baru berobat sudah masuk stadium lanjut sehingga sel kanker sudah menyebar dan sulit diangkat dengan operasi.

Diagnosis Kelenjar Getah Bening

Jika Anda mengalami pembengkakan pada kelenjar getah bening atau gejala lain yang menandakan limfoma non-Hodgkin, maka dokter harus mencari tahu apakah gejala tersebut berasal dari kanker atau penyakit yang lain.

Anda akan diminta menjalankan tes darah dan prosedur diagnosis berikut:

  1. Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak dan selangkangan Anda. Dokter juga akan memeriksa limpa dan hati Anda untuk memastikan apakah ada pembengkakan.

  1. Tes darah

Laboratorium akan melakukan pemeriksaan darah lengkap untuk memeriksa jumlah sel-sel darah. Laboratorium juga akan memeriksa zat-zat lain, seperti Lactate dehydrogenase (LDH). Limfoma menyebabkan tingkat LDH yang tinggi.

  1. Sinar X untuk dada

Anda perlu menjalani sinar X untuk memeriksa kelenjar getah bening yang bengkak atau tanda-tanda penyakit lain di dada Anda.

  1. Biopsi

Dokter akan mengambil jaringan untuk mencari sel-sel limfoma. Biopsi adalah satu-satunya cara terbaik untuk mendiagnosis limfoma. Dokter bisa mengangkat seluruh kelenjar getah bening (biopsi eksisi) atau hanya sebagian kelenjar getah bening (biopsi insisional).

Selain itu, dokter patologi akan memeriksa jaringan sel-sel limfoma dengan menggunakan mikroskop.

Makin tua usia makin tinggi risiko terkena limfoma karena daya tahan tubuh seseorang yang menurun. Hingga kini penyebab limfoma belum diketahui secara pasti. Terdapat empat kemungkinan penyebabnya yaitu faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteri dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet, pewarna kimia).

Tingkat Keganasan

  • Limfoma indolen (derajat rendah) tumbuh lambat sehingga diagnostik awal lebih sulit. Pasien dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun tetapi belum ada pengobatan yang menyembuhkan. Pasien biasanya memberi respon baik pada terapi awal, tetapi sangat mungkin kambuh lagi. Penderita limfoma indolen bisa mendapat terapi hingga enam kali sepanjang hidup, tetapi makin lama responnya menurun.
  • Limfoma agresif (derajat keganasan tinggi) cepat tumbuh dan menyebar. Jika dibiarkan tanpa pengobatan dapat menyebabkan kematian dalam enam bulan. Angka harapan hidup rata-rata lima tahun dan 30-40 persen sembuh.

Tahapan Kelenjar Getah Bening

Ada dua jenis kanker sistem limfotik yaitu penyakit hodgkin dan limfoma non-hodgkin. Gejala utama limfoma non-Hodgkin adalah benjolan di pangkal paha, leher atau ketiak. Namun, tidak semua pembengkakan kelenjar getah bening menunjukkan gejala kanker.

Dokter harus mengetahui tingkatan untuk merencanakan pengobatan yang terbaik. Tahapan ini berdasarkan lokasi tempat sel-sel limfoma ditemukan (di kelenjar getah bening atau di organ atau jaringan lain) dan jangkauan area yang terkena.

Beberapa  tahapan yang bisa dijalani di antaranya:

  • Stadium 1

Sel-sel limfoma berada dalam satu kelompok kelenjar getah bening (misalnya di leher atau di ketiak). Atau, jika sel-sel abnormal itu tidak berada dalam kelenjar getah bening, tapi hanya pada satu bagian jaringan atau organ tubuh saja (misalnya di paru-paru, tapi tidak di hati atau di sumsum tulang).

  • Stadium 2

Sel-sel limfoma berada sekurangnya di dua kelompok kelenjar getah bening, pada sisi diafragma yang sama (baik di atas atau di bawah) atau sel-sel limfoma ini berada di organ tubuh dan di kelenjar getah bening di sekitarnya (pada sisi yang sama seperti diafragma).

baca juga: Pembengkakan Kelenjar Getah Bening pada Anak, Berbahayakah?

  • Stadium 3

Limfoma terdapat dalam kelompok kelenjar getah bening di atas dan di bawah diafragma. Juga dapat ditemukan di organ atau di jaringan di sekitar kelompok kelenjar getah bening ini.

  • Stadium 4

Limfoma ini berada di seluruh satu organ atau jaringan (selain di kelenjar getah bening) atau berada dalam hati, darah, atau sumsum tulang.