Merokok Di Usia Muda, Makin Sulit Berhenti

DokterSehat.Com – Seseorang yang merokok pada usia 13 tahun akan lebih susah berhenti, lebih bermasalah dengan kesehatannya. Perokok usia muda yang lebih banyak merokok memiliki otak yang jelas berbeda dibandingkan remaja yang kurang merokok, studi baru menunjukkan.



Studi-studi sebelumnya pada partisipan yang lebih tua menunjukkan bahwa perokok memiliki struktur yang berbeda dalam berbagai wilayah otak, menurut penulis senior Edythe D. London, peneliti Semel Institute for Neuroscience and Human Behavior di UCLA dan David Geffen School of Medicine di Los Angeles, Amerika Serikat.

Dan, studi pada hewan dewasa, memperlihatkan, nikotin merusak dan membunuh sel-sel otak, kata London, mengutip mengutip FoxNews.com, Selasa (4/3).

Walau tidak menunjukkan sebab akibat, temuan itu memperlihatkan ada efek paparan rokok terhadap struktur otak perokok muda, yang riwayat merokoknya relatif lebih singkat, ujar London.

London dan timnya dari UCLA memetakan otak 42 partisipan berusia 16-21 tahun menggunakan MRI dan menanyai mereka tentang sejarah merokok dan ketagihan mereka pada rokok.

Sebanyak 16 partisipan adalam perokok. Mereka rata-rata mulai mengisap rokok sekitar usia 15 tahun dan merokok enam sampai tujuh batang setiap hari.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Neuropsychopharmacology ini tidak menjelaskan perbedaan otak perokok dengan nonperokok. Meski begitu, di antara para perokok, mereka yang melaporkan lebih banyak merokok memiliki insula yang lebih tipis. Insula adalah wilayah di cerebral cortex yang berfungsi untuk mengambil keputusan. Efek ini tampaknya terbatas pada insula kanan.

Studi sebelumnya mengatakan bahwa insula memainkan peran sentral dalam ketergantungan tembakau, dengan kepadatan tertinggi reseptor nikotin dalam otak.

Para peneliti juga menemukan insula yang tipis dalam otak orang-orang yang lebih ketagihan rokok dan merasa lebih bergantung pada rokok.

Menurut London, orang muda berusia 18-25 tahun menempati peringkat tertinggi perokok di AS, atau 30 persen.

Baca Juga:  Jangan Salah, Pemilihan Jenis Sabun Juga Penting Untuk Kulit

Karena otak masih dalam perkembangan, merokok selama periode krisis ini dapat menghasilkan perubahan neurobiologis yang mendorong ketergantungan tembakau di kehidupan mendatang, kata dia.
Perubahan struktur insula dapat mempengaruhi ketergantungan rokok dan penyalahgunaan zat lain.

Orang-orang yang mulai merokok lebih dini bakal lebih sulit berhenti merokok dan memiliki konsekuensi kesehatan yang lebih serius dibandingkan mereka yang merokok di usia yang lebih tua, kata London.

Dr Nasir Naqvi, peneliti penyalahgunaan zat di Columbia University di New York City, mengatakan pertanyaan kuncinya apakahan perubahan berlangsung ketika berhenti merokok atau tetap bertahan.
Naqvi yang tidak terlibat penelitian baru adalah peneliti yang mempelajari insula. Menurut dia, insula yang menggerakkan kecanduan seperti sebuah pedal gas dan juga mengontrolnya dengan membuat keputusan seperti pedal rem.

Menurut dia, insula pada perokok berat lebih tipis, menurut dia, mungkin karena mereka kehilangan kemampuan mengatasi pedal rem dan kurang bisa mengontrol ketagihan rokok.

Yang kita ketahui adalah sekali Anda ketagihan rokok, Anda akan selalu memiliki kemungkinan tinggi untuk kambuh, meski sudah absen bertahun-tahun, kata Naqvi.

Simone Kuhn, yang mempelajari plastisitas otak selama hidup di Max Planck Institute for Human Development di Berlin, Jerman, melihat studi kecil ini menarik. Terutama karena mempelajari kelompok umur muda.

Kuhn mengatakan studi terhadap perubahan prefrontal cortex kelompok usia 16 hingga 21 rada sulit. Karenanya perlu penelitian lebih lanjut dengan membandingkannya dengan otak perokok usia dewasa.
Meski begitu, Jelas saya setuju efek perubahan struktur otak dari merokok di kalangan remaja adalah topik yang sangat menarik. Ini dapat dimanfaatkan untuk kampanye antirokok, terutama pada kelompok usia ini, dengan fakta-fakta ilmiah, kata Kuhn kepada Reuters Health.