Menurut Pakar Kesehatan, Hari Kerja Kita Seharusnya Hanya 4 Hari Dalam Seminggu

DokterSehat.Com – Kebanyakan tempat kerja di seluruh dunia akan mempekerjakan karyawannya lima atau enam hari dalam seminggu. Hal ini berarti, kita bisa bekerja hingga 50 atau bahkan 70 jam dalam seminggu. Memang, kita bisa menikmati waktu akhir pekan bersama dengan keluarga, berlibur, atau bahkan sekadar bersantai dan beristirahat, namun, menurut pakar kesehatan, waktu bekerja yang selama ini diterapkan ini ternyata tidak ideal. Waktu ideal bagi kita untuk bekerja ternyata hanya empat hari dalam seminggu. Apa alasan dari rekomendasi ini?

doktersehat-overtime-sibuk-kerja-lembur-stress-memunda-pekerjaan-wanita-resiko-jantung-resiko-kesehatan-wanita-karir

Adalah psikolog bernama Anders Ericsson yang menyarankan kita untuk mengubah hari kerja kita menjadi hanya empat hari dalam seminggu ini. Menurut beliau, anjurannya ini disebabkan oleh kecenderungan manusia yang hanya mampu berkonsentrasi penuh selama empat hingga lima jam saja setiap harinya. Andai kemampuan untuk berkonsentrasi ini ditekan secara maksimal atau bahkan berlebihan setiap harinya, maka kita pun akan lebih mudah menurunkan produktifitas kerja dan pada akhirnya membuang-buang waktu saja di tempat kerja.

Salah seorang CEO perusahaan teknologi bernama Ryan Carson sendiri ternyata menyetujui anjuran dari Ericsson ini. Semenjak tahun 2006 silam, Ia memberikan waktu yang lebih banyak bagi karyawannya agar bisa menikmati saat-saat bersama keluarga atau bersantai. Dengan memberikan waktu kehidupan yang lebih seimbang dan manusiawi, produktifitas karyawannya ternyata justru semakin meningkat karena mereka kini bekerja dengan perasaan lebih berbahagia.

Jason Fried, CEO perusahaan software lainnya juga mulai menerapkan anjuran dari Ericsson ini. Hasilnya, karyawannya justru terlihat semakin fokus dan mengalami peningkatan kualitas dan produktifitas kerja dengan signifikan. Bahkan, diketahui bahwa karyawannya tidak mudah terkena stress dan jumlah karyawan yang absen karena sakit pun semakin menurun.

Baca Juga:  Jangan Disepelekan, Stress Memang Mampu Membuat Kita Jatuh Sakit

Apakah peraturan ini akan bisa diterapkan di tanah air? Kita lihat saja nanti.