Mengenal Parkinson, Penyakit Yang Lama Diidap Oleh Legenda Tinju, Muhammad Ali

DokterSehat.Com – Belakangan ini dunia olahraga dunia kehilangan salah satu nama besar yang melegenda berpuluh-puluh tahunnya. Muhammad Ali berpulang pada usia 74 tahun. Dikenal sebagai legenda tinju yang sangat hebat, Ali menderita sebuah penyakit yang membuatnya tidak bisa mengendalikan gerakan tubuhnya dengan baik, yakni parkinson, semenjak usianya 42 tahun. Memang, meninggalnya sang legenda tidak disebabkan oleh penyakit ini. Sebenarnya, seperti apakah penyakit parkinson ini?

doktersehat-parkinson-otak-brain-penyakit-meningitis

Seringkali kita hanya mendapatkan penjelasan penyakit parkinson sebagai penyakit yang disebabkan oleh kepala yang sering terbentur keras. Dalam hal ini, para petinju memiliki resiko besar mendapatkannya. Namun, parkinson sendiri bisa dijelaskan sebagai gerakan tubuh yang kerap kali mengalami tremor atau gemetaran yang terjadi karena otak sudah tidak mampu lagi secara sempurna mengendalikan gerakan tubuh. Di dalam otak, produksi dopamin mengalami gangguan yang parah sehingga menyebabkan kondisi ini. Parkinson sendiri kerap kali menyerang para lansia.

Sel-sel saraf pada basal ganglia, salah satu bagian otak yang memiliki fungsi utama dalam mengendalikan gerakan tubuh, mengalami kerusakan parah dan menyebabkan tremor pada tubuh. Parkinson sendiri bisa ditandai dengan adanya tangan dan kaki yang cenderung terus gemetaran meskipun kita berada dalam posisi diam, dagu yang terus bergetar layaknya kita sedang mengunyah makanan, hingga mengganggu proses menulis dengan tangan. Selain itu, penderita parkinson bisa mengalami masalah sendi kaku yang bisa memicu kesulitan berjalan, kesulitan menoleh, kesulitan menelan makanan, dan membuat suara yang diproduksi semakin redup.

Penderita parkinson akan mengalami penurunan kualitas hidup yang sangat signifikan dimana seiring dengan bertambahnya usia, gejala penyakit ini cenderung semakin parah. Banyak kasus dimana penderita parkinson akan kesulitan berjalan dan membutuhkan kursi roda. Padahal, obat-obatan atau terapi parkinson saat ini cenderung lebih berfungsi sebagai mengurangi gejala atau sekadar memperlambat semakin parahnya penyakit ini.