Mengenal Kejang dan Epilepsi

DokterSehat.Com – Epilepsi adalah kelainan yang ditandai dengan kejang berulang. Seseorang biasanya baru dapat dikatakan menderita epilepsi bila sudah pernah mengalami kejang lebih dari satu kali. Ada beberapa jenis epilepsi dan kejang. Obat-obat epilepsi diperlukan untuk mencegah kejang berulang. Tindakan operasi hanya diperlukan bila tidak berhasil dengan obat-obatan.

doktersehat-neuron

Apa itu kejang dan apa itu epilepsi?

Kejang, yaitu gerakan atau tingkah laku abnormal akibat aktivitas listrik yang abnormal di dalam otak, merupakan gejala epilepsi. Meskipun demikian, tidak semua orang yang mengalami kejang menderita epilepsi.

Kejang non-epilepsi dapat juga disebabkan oleh stres atau masalah psikologis. Namun, kejang epilepsi sulit dibedakan dengan non-epilepsi. Pemeriksaan EEG dan respon terhadap obat anti epilepsi merupakan contoh petunjuk yang dapat membedakan kejang epilepsi dan non-epilepsi.

Kejang juga dapat disebabkan oleh cedera kepala, gula darah rendah (hipoglikemia), kadar natrium darah rendah, demam tinggi, alkohol, atau penyalahgunaan obat. Kejang yang berhubungan dengan demam biasanya terjadi pada usia bayi hingga 6 tahun.

Apa yang menyebabkan epilepsi?

Epilepsi terjadi akibat adanya aktivitas listrik yang abnormal di dalam otak. Sel-sel otak saling berkomunikasi dengan mengirimkan sinyal listrik dalam pola yang teratur. Pada epilepsi, sinyal listrik ini beraktivitas melebihi batasan normal. Sinyal abnormal ini kemudian menyebar ke area otak di sekitarnya dan menciptakan “badai elektrik” yang tidak terkendali. Sinyal elektrik ini akan dijalarkan ke otot, menyebabkan kejang.

Terdapat sekitar 180.000 kasus epilepsi baru setiap tahun. Kurang lebih 30% terjadi pada anak-anak. Anak-anak dan lansia merupakan golongan yang paling sering menderita epilepsi.

Hampir 70% kasus epilepsi pada dewasa dan anak-anak tidak diketahui penyebabnya. Jika diketahui, penyebab epilepsi biasanya adalah timbulnya cedera pada sel otak, yang dapat disebabkan oleh:

  • Kadar oksigen dalam darah terlalu rendah (hipoksemia)
  • Cedera kepala
  • Tumor otak
  • Kelainan genetik yang mempengaruhi otak
  • Infeksi, misalnya meningitis atau ensefalitis
  • Stroke atau kelainan sirkulasi darah dalam otak yang lain
  • Kadar zat tertentu dalam darah yang abnormal, misalnya natrium dan gula darah

Meskipun penyebab epilepsi sulit ditemukan, umumnya terdapat faktor tertentu yang memicu atau mencetuskan kejang. Faktor pencetus tersebut antara lain:

  • Lupa minum obat anti epilepsi
  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Kokain dan obat-obatan NAPZA lainnya
  • Kurang tidur
  • Obat-obat yang mempengaruhi metabolisme obat anti epilepsi yang sedang dikonsumsi
  • Menstruasi

Gejala epilepsi berdasarkan jenisnya

Berdasarkan aktivitas otak yang terjadi, kejang epilepsi dibagi menjadi dua golongan besar: generalisata dan parsial (disebut jaga lokal atau fokal). Kejang generalisata terjadi karena sinyal elektrik abnormal timbul di seluruh bagian otak; sedangkan kejang parsial terjadi karena sinyal abnormal hanya timbul di bagian otak tertentu. Bagian otak yang memicu timbulnya kejang dapat disebut fokus. Berikut ini adalah jenis kejang epilepsi beserta gejalanya.

Baca Juga:  Agar Tidak Terkena Masalah Pencernaan, Lakukan Hal-Hal Berikut
Kejang generalisata Gejala
“Grand Mal” atau tonik-klonik generalisata Tidak sadar, pingsan; kejang, kaku otot (tonik) selama 30-60 detik, diikuti gerakan menyentak (klonik) selama 30-60 menit.
Absence Gejala hanya muncul dalam waktu singkat (hanya beberapa detik), tidak spesifik, bisa berupa gerakan stereotipik (berkedip-kedip, menggerak-gerakkan bibir) atau hanya sekedar tatapan kosong, setelah itu lupa dengan apa yang terjadi selama beberapa detik tersebut sehingga seolah-olah ada waktu yang hilang.
Mioklonik Gerakan menyentak yang hanya timbul sekali-sekali saja, biasanya pada kedua sisi tubuh.
Klonik Gerakan menyentak berulang kali dalam satu kali serangan.
Tonik Otot kaku, kencang, sukar digerakkan.
Atonik Hilangnya tonus (ketegangan) otot, sehingga sering mendadak jatuh.

 

Kejang parsial Gejala
Kejang parsial sederhana Gerakan menyentak atau kaku otot pada bagian tubuh tertentu saja; atau gangguan panca indera tertentu; atau gangguan ingatan atau emosional.
Kejang parsial kompleks Otomatisasi, misalnya seperti mengunyah, tidak bisa diam, berjalan-jalan tanpa tujuan dan gerakan lain yang timbul berulang kali, secara tidak sadar, tetapi terkoordinir dengan baik.
Kejang parsial dengan generalisata sekunder Gejala awal seperti kejang parsial, tetapi kemudian muncul gejala kejang generalisata dalam satu kali serangan.

Bagaimanakah pengobatan epilepsi?

Mayoritas kejang epilepsi dapat dicegah kekambuhannya dengan menggunakan obat-obatan. Jenis obat yang digunakan bergantung pada beberapa faktor, termasuk berat ringan dan frekuensi kekambuhan serta usia penderita, status kesehatan pendertia secara keseluruhan, dan riwayat pengobatan sebelumnya.

Pada beberapa jenis epilepsi, penderita dapat berhenti minum obat setelah beberapa tahun, tetapi ada juga yang memerlukan obat-obatan seumur hidupnya. Penderita yang telah tidak mengalami kekambuhan dalam jangka waktu tertentu akan dievaluasi untuk menentukan apakah obat boleh dihentikan atau tidak. Semua itu disesuaikan dengan jenis epilepsi dan kondisi penderita.

Yang jelas, obat-obat epilepsi dapat dipertimbangkan untuk dihentikan pada penderita yang tidak mengalami kekambuhan selama paling tidak 10 tahun. Kalaupun penggunaan obat tersebut akan dihentikan, penghentiannya akan dilakukan secara bertahap dengan terlebih dahulu menurunkan dosisnya sedikit demi sedikit sambil melihat respon pendertia hingga akhirnya penderita tidak perlu minum obat sama sekali.