Plasenta Previa: Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Doktersehat - Plasenta Previa
Photo Credit: Flickr.com/Jessica Miller

DokterSehat.Com– Plasenta previa atau plasenta letak rendah adalah kondisi ketika sebagian atau seluruh plasenta menutupi mulut rahim. Plasenta atau ari-ari akan terbentuk dan menempel pada dinding rahim saat seorang wanita menjadi hamil.

Organ ini terhubung dengan bayi melalui tali pusar yang berfungsi untuk menyalurkan oksigen dan nutrisi untuk bayi, sekaligus untuk membuang zat-zat sisa dari darah bayi. Selama masa kehamilan, rahim seorang wanita akan berkembang dan plasenta dengan kondisi normal akan melebar ke arah atas serta menjauhi leher rahim atau serviks.

Apabila tetap berada di bagian bawah rahim atau di dekat serviks, plasenta dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir janin. Kondisi inilah yang disebut plasenta previa.

Seperti diketahui, selama memasuki masa kehamilan, plasenta dapat ikut bertumbuh mengikuti pertumbuhan dan perkembangan janin. Pada awal kehamilan, plasenta berada pada posisi rendah dalam rahim.

Kemudian, seiring dengan pertumbuhan janin, plasenta biasanya akan bergerak ke atas rahim. Menjelang waktu kelahiran, plasenta berada pada bagian atas dan samping rahim. Posisi ini memungkinkan bayi lahir dengan lancar melewati leher rahim.

Pada kondisi normal plasenta biasanya melekat pada bagian atas rahim dan jauh dari leher rahim. Berdasarkan letaknya tersebut, maka kondisi ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

  • Plasenta previa lateralis yaitu plasenta yang melekat rendah di dekat leher rahim namun tidak menutupi jalan lahir.
  • Plasenta previa parsialis yaitu plasenta yang melekat rendah di dekat leher rahim dan menutupi sebagian jalan lahir.
  • Plasenta previa totalis yaitu plasenta yang melekat rendah di dekat leher rahim dan menutupi keseluruhan jalan lahir.
  • Plasenta previa marginalis yaitu plasenta yang menutupi tepat di perbatasan leher rahim (tepi plasenta menyentuh pintu leher rahim). Melahirkan normal masih mungkin pada kondisi ini.

Penyebab Plasenta Previa

Hingga kini, penyebab pasti plasenta previa belum diketahui dengan pasti. Namun terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan ibu hamil rentan mengalami plasenta previa, seperti:

  • Menjalani kehamilan kembar.
  • Hamil pada usia 35 tahun atau lebih.
  • Merokok atau menggunakan obat terlarang.
  • Memiliki riwayat kehamilan empat kali atau lebih.
  • Pernah menjalani operasi Caesar.
  • Pernah menjalani operasi di daerah rahim.

Meski begitu, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa plasenta previa bisa terjadi karena pelanggaran integritas endometrium (lapisan mukosa rahim). Di mana sel telur yang dibuahi tidak bisa menempel pada tempat yang seharusnya yaitu fundus uterus.

Kemungkinan tidak menempelnya sel telur pada rahim bisa disebabkan karena kerusakan endometrium (lapisan terdalam pada rahim dan tempatnya menempelnya ovum yang telah dibuahi). Deformasi semacam ini biasanya terjadi sebagai akibat kuretase ginekologi (aborsi adalah salah satunya).

Gejala Plasenta Previa

Sebagian kasus plasenta previa tidak menimbulkan gejala apa pun. Sementara itu, banyak kasus plasenta previa ditandai dengan adanya perdarahan yang keluar dari vagina.

Perdarahan akibat plasenta previa terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Darah yang keluar adalah darah segar, dan tidak disertai dengan rasa nyeri maupun kram di perut. Sebagian besar kasus perdarahan vagina pada ibu hamil trimester ketiga disebabkan karena plasenta previa.

Umumnya perdarahan yang timbul karena plasenta previa tidak membahayakan ibu dan janin. Namun bila perdarahan sangat banyak, plasenta previa bisa mengancam nyawa ibu dan janin.

Berikut ini adalah beberapa gejala-gejala lain yang menandakan bahwa Anda harus segera mendapatkan penanganan tenaga medis profesional dengan segera, antara lain:

  • Perdarahan yang berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu.
  • Perdarahan terjadi terjadi setelah hubungan seksual.
  • Menimbulkan kram atau rasa nyeri yang parah.
  • Perdarahan selama paruh kedua kehamilan.

Diagnosis Plasenta Previa

Kondisi plasenta previa dapat diketahui melalui pemeriksaan USG pada kehamilan trimester kedua atau trimester ketiga. Selain itu, Anda juga akan dianjurkan untuk menjalani USG transvaginal yang akan memberikan pencitraan yang lebih mendetail.

Kombinasi kedua jenis USG inilah yang akan membantu dokter untuk memastikan diagnosis. Oleh karena itu, ibu hamil disarankan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.

Jika Anda positif terdiagnosis mengalami plasenta previa, dokter akan menghindari pemeriksaan fisik rutin melalui vagina selama kehamilan. Hal ini dilakukan guna mengurangi risiko perdarahan.

Bahkan, Anda juga bisa menjalani kembali proses USG sebelum melahirkan untuk memeriksa lokasi plasenta serta detak jantung bayi.

Jika plasenta previa masih terjadi sampai mendekati hari kelahiran, Anda akan disarankan untuk mengambil waktu istirahat. Akan lebih baik jika Anda menunda untuk melakukan hubungan seksual, melakukan aktivitas yang berhubungan dengan vagina, atau melakukan aktivitas berat.

Penanganan Plasenta Previa

Tujuan utama penanganan plasenta previa adalah mencegah terjadinya perdarahan dari vagina selama kehamilan masih berlangsung. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan cara menghindari adanya intervensi tertentu pada mulut rahim.

Selain itu, metode persalinan yang akan dilakukan pada kasus kehamilan dengan plasenta previa adalah dengan operasi Caesar. Persalinan normal tidak dapat dilakukan karena jalan lahir tertutup plasenta.

Langkah penanganan akan ditentukan berdasarkan pada beberapa faktor, yaitu:

  • Usia kandungan.
  • Posisi plasenta dan bayi.
  • Tingkat keparahan perdarahan.
  • Apakah perdarahan berhenti atau tidak.
  • Kondisi kesehatan ibu dan janin.

Sementara ibu hamil yang pernah mengalami perdarahan selama masa kehamilan disarankan untuk menjalani sisa masa kehamilan di rumah sakit dari minggu ke-34. Langkah ini dianjurkan agar pertolongan darurat (seperti transfusi darah atau pencegahan kelahiran prematur) bisa segera diberikan jika perdarahan kembali terjadi.

Prosedur Caesar juga akan dilakukan begitu kehamilan mencapai batas usia yang cukup, yaitu minggu ke-36. Sebelum menjalaninya, ibu hamil biasanya akan diberi kortikosteroid untuk mempercepat perkembangan paru-paru bayi dalam kandungannya.

Apabila tidak ditangani dengan cepat, perdarahan ini dapat menyebabkan suatu komplikasi yang mengancam nyawa, yakni syok hipovolemik. Selain itu, komplikasi lain yang dapat ditimbulkan akibat plasenta previa antara lain:

  • Asfiksia, yaitu kegagalan bayi baru lahir untuk bernapas secara spontan dan teratur sehingga menimbulkan gangguan metabolisme.
  • Tromboemboli vena, biasanya disebabkan oleh durasi rawat inap yang terlalu lama dan efek samping dari penggunaan obat antikoagulan (obat anti pembekuan darah).
  • Kelahiran prematur, biasanya terjadi pada ibu hamil dengan perdarahan yang tidak kunjung berhenti. Dokter mungkin akan menganjurkan prosedur Caesar meski usia kandungan belum cukup.
  • Cedera pada bayi saat lahir.

Secara umum terdapat 3 jenis pengananan plasenta previa, yaitu perawatan konservatif, persalinan pervaginam, dan persalinan perabdominal.

  1. Perawatan konservatif

Perawatan konservatif adalah perawatan yang bertujuan mempertahankan kehamilan sampai usia kehamilan maksimal. Syarat Perawatan konservatif adalah:

  • Kehamilan belum cukup bulan.
  • Perdarahan sedikit (Hb masih normal).
  • Tempat tinggal dekat dengan rumah sakit.

Perawatan konservatif dilakukan dilakukan dengan cara:

  • Mengistirahatkan ibu hamil.
  • Memberikan hematinik untuk mengatasi anemia.
  • Memberikan tokolitik untuk mengurangi kontraksi uterus.
  • Memberikan antibiotik bila ada indikasi infeksi.
  • Melakukan pemeriksaan USG .
  • Melakukan pemeriksaan darah.
  1. Persalian pervaginam

Persalinan pervaginam adalah tindakan melahirkan janin dengan cara persalinan normal. Persalinan pervaginam dilakukan pada plasenta previa marginalis, plasenta previa letak rendah, plasenta previa lateralis dengan pembukaan 4 cm atau lebih.

Syarat persalinan pervaginam adalah kehamilan sudah cukup bulan, perdarahan parah dan janin yang dikadung mati.

  1. Persalinan perabdominal

Persalinan perabdominal adalah tindakan melahirkan janin dengan cara operasi Caesar. Indikasi operasi Caesar pada plasenta previa dilakukan pada beberapa kondisi, seperti:

  • Plasenta previa totalis.
  • Plasenta previa lateralis di mana perbukaan masih kurang dari 4 sentimeter.
  • Perdarahan yang banyak dan tanpa henti .
  • Presentasi janin yang tidak normal.
  • Ibu hamil dengan panggul sempit.

Cara ini lebih aman dilakukan pada semua jenis plasenta previa dibandingkan dengan melahirkan dengan cara normal. Operasi Caesar dapat mengurangi risiko Anda untuk mengalami perdarahan parah.