Mengenal Glaukoma dan Jenisnya

DokterSehat.Com – Glaukoma merupakan salah satu penyebab utama kebutaan. Bentuk glaukoma yang paling banyak ditemui, glaukoma kronik sudut terbuka, umunya terjadi pada usia paruh baya dan cenderung diturunkan secara genetik. Satu dari lima orang dengan glaukoma memiliki keluarga dekat dengan kondisi yang sama. Pada glaukoma kronik sudut terbuka, penglihatan mulai menghilang di lapangan pandang bagian luar (perifer); jika tidak segera diatasi, lapangan penglihatan penderitanya akan semakin menyempit (tunnel vision) dan akhirnya terjadi kebutaan.

doktersehat-Retinopati-Diabetikum

Bagian dalam mata secara terus-menerus menghasilkan dan mengalirkan cairan yang disebut dengan humor aqueus. Cairan ini dihasilkan oleh sel-sel di dalam mata, dan jumlah yang sama akan dialirkan keluar dari mata melalui jalur drainasenya (trabekular meshwork). Jika cairan yang keluar dari mata lebih sedikit daripada cairan yang dihasilkan oleh sel-sel di dalam mata, cairan tersebut akan terkumpul di dalam bola mata, mengakibatkan tekanan di dalam bola mata meningkat. Tekanan dalam bola mata yang tinggi ini dapat merusak serabut saraf di retina dan serabut saraf optik (yang berfungsi mengirim sinyal penglihatan ke otak) sehingga terjadi kebutaan permanen.

Glaukoma sejak dulu dikenal sebagai “the silent thief of sight” atau pencuri penglihatan karena biasanya baru terdeteksi setelah terjadi kerusakan yang berat pada mata. Kerusakan serabut saraf mata karena glaukoma ini bersifat ireversibel, artinya bila sudah terjadi kerusakan, tidak mungkin bisa disembuhkan menjadi seperti semula.

 

Jenis-jenis glaukoma

Glaukoma merupakan kumpulan dari beberapa penyakit, yang semuanya memberikan dampak yang sama yaitu kerusakan permanen pada serabut saraf penglihatan yang berfungsi menangkap dan mengirim sinyal penglihatan ke otak. Jenis glaukoma yang paling banyak terjadi di luar Asia adalah glaukoma kronik sudut terbuka, sekitar 75-90% dari semua kasus glaukoma. Terdapat berbagai penyebab dari glaukoma jenis ini. Glaukoma jenis ini dapat terjadi pada kedua mata secara bersamaan, tetapi biasanya pada salah satu mata lebih parah daripada mata yang lain.

Baca Juga:  Mengapa Hujan Bisa Menyebabkan Sakit Kepala?

Glaukoma sudut tertutup atau sudut sempit lebih jarang ditemukan dan dapat terjadi secara mendadak – biasanya awalnya hanya pada salah satu mata – dengan gejala penglihatan kabur, nyeri kepala dan mata, serta mata merah. Pada glaukoma sudut tertutup, aliran humor aqueus tersumbat oleh iris, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan bola mata secara cepat. Tekanan yang terlalu tinggi ini akhirnya dapat merusak serabut saraf. Glaukoma akut sudut tertutup merupakan suatu kegawatdaruratan medis dan harus segera ditangani untuk mengembalikan aliran humor aqueus agar lancar seperti semula, menurunkan tekanan dalam bola mata, dan mencegah kerusakan permanen pada mata. Glaukoma kronik sudut tertutup, seperti halnya glaukoma kronik sudut terbuka, menimbulkan kerusakan secara perlahan dalam waktu yang lebih lama. Glaukoma jenis ini banyak terjadi di negara-negara Asia.

Glaukoma kongenital merupakan penyakit yang jarang ditemui. Glaukoma ini terjadi pada bayi baru lahir atau pada anak yang masih sangat kecil. Bayi dengan glaukoma biasanya memiliki kornea (bagian depan mata yang jernih) yang keruh, mata lebih sensitiv terhadap cahaya, dan produksi air mata berlebihan. Penurunan penglihatan berat dan bahkan kebutaan dapat terjadi jika kondisi ini tidak segera diatasi. Jika glaukoma yang mirip dengan ini terjadi pada usia 3 tahun sampai remaja, disebut dengan glaukoma juvenil.

Glaukoma sekunder merupakan jenis glaukoma yang biasanya berkaitan dengan penyakit atau kelainan mata yang lain, misalnya katarak, uveitis (peradangan di bagian dalam mata, perdarahan, tumor mata, atau riwayat cedera mata sebelumnya. Pada orang dengan diabetes, dapat terbentuk pembuluh darah abnormal di dalam mata, membuat mata lebih rentan mengalami glaukoma neovaskuler, jenis glaukoma berat dimana pembuluh darah abnormal tersebut menyumbat aliran humor aqueus.

 

 

 

Sumber: WebMD Medical Reference