Mengenal Cerebral Palsy

DokterSehat.Com – Cerebral palsy adalah penyakit yang menyerang pada bayi akibat tidak berfungsinya otak secara normal. Penyakit ini juga sering disebut sebagai kelumpuhan otak pada bayi yang menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Terkadang gejala awal lumpuh otak pada bayi yang baru lahir sudah dapat terlihat, tapi terkadang orang tua akan menganggap gejala itu sebagai keterlambatan pertumbuhan, sehingga melewatkan masa pengobatan yang paling baik. Para orang tua harus memperhatikan dan mengetahui dengan pasti gejala dari lumpuh otak untuk dapat menjalani pengobatan sedini mungkin.

doktersehat-cerebral-palsy-anak

Gejala utama lumpuh otak yang dapat dilihat sedini mungkin diantaranya:

  1. Gangguan gerak

Kaki dan tangan tidak terkoordinasi dengan baik saat bergerak, kondisi tubuh lemah. Kedua tangan tidak bisa menggenggam benda, kedua kaki tidak bisa berjalan, bahkan ada yang tidak bisa membalikkan badan, tidak bisa duduk, tidak bisa berdiri dan tidak bisa mengunyah dan menelan.

  1. Gangguan dalam sikap tubuh

Kelainan berbagai sikap tubuh, stabilitas sikap tubuh yang rendah, kepala bayi masih tidak bisa tegak lurus saat usia 3 bulan dan selalu miring ke sebelah atau posisi kepala selalu bergoyang ke depan atau ke belakang. Bayi masih belum bisa membalikkan badan saat berusia 6 bulan. Saat berusia 8 bulan, bayi masih belum bisa untuk duduk dengan stabil. Biasanya, anak tidak suka mandi dan saat mencuci tangan tidak mudah untuk membuka kepalan tangannya.

  1. Gangguan mental

Dari keseluruhan anak yang menderita lumpuh otak, perbandingnnya hanya sekitar seperempat dari total keseluruhan penderita yang memiliki tingkat intelegensi normal. Gangguan mental ringan dan sedang mencakup sekitar setengah dari total keseluruhan. Dan sekitar seperempat dari total penderita yang memiliki gangguan mental berat. Gangguan mental adalah salah satu gejala utama lumpuh otak.

  1. Kesulitan untuk berbicara, tidak bisa melafalkan kata dengan jelas atau gagap
  2. Gangguan penglihatan dan pendengaran

Anak yang berusia sekitar lebih dari satu setengah tahun biasanya akan disertai oleh gangguan penglihatan. Sebagian dari anak penderita lumpuh otak mungkin akan mengalami kemunduran fungsi pendengaran atau tuli.

  1. Gangguan pertumbuhan gigi

Pada anak cerebral palsy gigi mudah patah. Otot wajah dan lidah terkadang akan mengalami kejang atau kontraksi yang tidak terkoodinasi. Penderita akan mengalami kesulitan untuk mengunyah dan menelan, sulit untuk menutup rongga mulut dan meneteskan air liur.

  1. Gangguan emosi dan perilaku
Baca Juga:  Cara Meredakan Nyeri Payudara Menjelang Siklus Menstruasi

Gejala ini dapat berupa keras kepala, semaunya, mudah marah, susah bergaul, pergolakan emosi yang tidak stabil. Terkadang akan muncul tindakan yang memaksa atau melukai diri sendiri.

Lumpuh otak membuat bayi yang baru lahir kehilangan kemampuan geraknya, selain itu juga menghambat perkembangan mental. Ada dampak yang ringan dan dampak yang berat dari lumpuh otak. Dampak bahaya lumpuh otak dapat dibagi menjadi 4 tingkat.

Tingkat pertama dan kedua termasuk dalam gangguan gerak yang ringan. Tingkat ketiga dan keempat termasuk dalam gangguan gerak yang berat.

  1. Tingkat pertama: Kemampuan gerak yang tidak leluasa tapi tidak mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Contohnya penderita dapat berjalan, menaiki tangga, menggunakan tangan untuk melakukan sesuatu.
  2. Tingkat kedua: Kemampuan gerak tangan terbatas sehingga mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Tapi masih tetap bisa berjalan dan mengenggam barang.
  3. Tingkat ketiga: Sebelum menginjak usia 5 tahun tidak bisa berjalan, hanya bisa merangkak dan membalikkan badan. Tidak dapat menggenggam benda tetapi dapat mendorong benda.
  4. Tingkat keempat: Kehilangan semua kemampuan gerak.

Sebenarnya apa yang menjadi penyebab lumpuh otak? Menurut hasil penelitian, penyebab lumpuh otak dikategorikan menjadi 3 jenis:

  1. Faktor prenatal (sebelum persalinan): Ayah dan ibu merokok, pecandu alkohol, sang ibu menderita gangguan mental, menderita diabetes saat hamil, faktor genetik (contohnya ada anggota keluarga yang menderita lumpuh otak, gangguan mental dan lainnya), abortus imminens (abortus yang mengancam), infeksi dalam rahim, kembar atau lebih, fetal distress atau gawat janin, leher janin terlilit tali pusar, gangguan plasenta dan lainnya.
  2. Faktor saat persalinan: Bayi kekurangan oksigen saat di dalam atau di luar kandungan, kesulitan saat persalinan, luka pada saat persalinan.
  3. Faktor postnatal (setelah persalinan): Bayi prematur/ lahir dengan berat badan ringan, kekurangan oksigen, hyperbilirubinemia pada bayi, pendarahan otak, infeksi sistem saraf pusat pada bayi yang baru lahir dan lainnya.