Memahami Penyakit OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

DokterSehat.Com – Penyakit OCD mungkin di sebagian besar masyarakat kita tidak menganggapnya sebagai gangguan yang serius. Memang orang yang menderita penyakit ini terlihat seperti anak normal. Namun, kalo anda berbicara dengan dia pasti ada sesuatu yang tidak beres. Biasanya penderita OCD kalau bicara sering mengulang kata-katanya dan kalau menceritakan suatu kejadian atau peristiwa dia akan menceritakan secara urut dari awal sampai akhir. Dan kalo dia merasa salah dalam berkata dia akan menceritakannya mulai dari awal lagi kalao tidak pasti di raut mukanya terlihat cemas.

doktersehat-sabun-cuci-tangan-ocd

Bisa dikatakan ocd (obsessive compulsive disorder) adalah penyakit kejiwaan. Yaitu suatu gangguan pikiran cemas yang dimiliki seseorang, dan dalam pikiran otaknya terdapat obsesi yang sangat besar. Untuk menyalurkan obsesinya itu dengan melakukan pekerjaan secara kompulsif (berulang-ulang) untuk mengurangi kecemasanya. Atau dengan kata lain suatu keadaan yang sangat susah sekali mengontrol keinginan didalam otaknya sehingga menyalurkanya menjadi sebuah tindakan yang diluar wajar.

Gejala OCD yang muncul pada tiap penderita berbeda-beda. Ada yang ringan di mana penderita menghabiskan sekitar satu jam bergelut dengan pikiran obsesif dan perilaku kompulsifnya, tapi ada juga yang parah mengalami gangguan ini hingga mengendalikan hidupnya.

Penderita OCD juga umumnya terpuruk dalam pola pikiran dan perilaku tertentu. Ada empat tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, kompulsi, dan kemudian kelegaan sementara.

Obsesi muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh rasa ketakutan atau kecemasan. Kemudian obsesi dan rasa kecemasan akan memancing aksi kompulsi di mana penderita akan melakukan sesuatu agar rasa cemas dan tertekan dikurangi. Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara, tapi obsesi serta kecemasan akan kembali dan membuat penderita mengulangi pola tersebut.

Baca Juga:  Respon Cerdas Otak dalam Menghadapi Stresor Sosial

Sifat perfeksionis berbeda dengan gejala OCD. Menjaga kebersihan serta kerapian yang berlebihan bukan berarti Anda menderita OCD. Pikiran OCD bukan hanya sekadar rasa cemas yang ekstrem tentang masalah dalam kehidupan. Jika obsesi dan kompulsi sudah menghambat rutinitas, periksakan diri ke dokter atau psikolog.

Faktor resiko
Penyebab OCD belum berhasil diketahui secara pasti, tapi banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menganalisis adanya sejumlah faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko OCD, diantaranya:

  • Faktor genetika
    Ada bukti yang menunjukkan bahwa gangguan ini berhubungan dengan gen tertentu yang memengaruhi perkembangan otak.
  • Ketidaknormalan pada otak
    Hasil penelitian pemetaan otak memperlihatkan adanya ketidaknormalan pada otak penderita OCD yang melibatkan serotonin yang tidak seimbang. Serotonin adalah zat penghantar yang digunakan otak untuk komunikasi di antara sel-selnya.

Pengobatan
Tingkat pengobatan OCD bergantung kepada sejauh apa dampak OCD yang Anda alami dalam kehidupan Anda. Ada beberapa langkah dalam penanganan OCD, yaitu:

  • Terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi ini dapat membantu Anda untuk mengurangi kecemasan dengan mengubah cara pikir dan perilaku Anda.
  • Penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan gejala yang Anda alami.

Mencari bantuan medis adalah hal terpenting bagi penderita OCD karena mereka memiliki kemungkinan untuk sembuh atau setidaknya untuk menikmati hidup dengan mengurangi gejalanya.

Jika tidak ditangani, perasaan tertekan dapat bertambah parah dan membuat penderita makin sulit untuk menghadapi OCD sehingga mengalami depresi. Tingkat depresi yang parah bahkan dapat memicu dorongan untuk bunuh diri.