Masokis, Makin Disiksa Makin Bergairah

DokterSehat.com – Masokis merupakan kelainan seksual dimana seseorang akan merasa puas atau gairahnya memuncak jika disakiti atau direndahkan. Pelaku masokis disebut dengan masochist, sementara perbuatannya adalah mashochistme.



Biasanya pelaku masokis kerap dikaitkan dengan perilaku sadism. Kebanyakan pelaku sadism berhubungan dengan masokis untuk mendapatkan kepuasan seksual secara timbal balik. Pelaku sadism bisa mendapatkan kepuasan dengan menyakiti pasangannya sedangkan masokis bisa merasa puas saat dirinya disakiti atau direndahkan.

Masokisme seksual biasanya kerap dilakukan dengan mengikat atau menyakiti diri sendiri ketika berfantasi seks atau masturbasi. Dalam beraktivitas seks pasangan juga diminta untuk membatasi gerak dengan mengikat, menutup mata, mencambuk, bahkan memukul.

Aktivitas masokisme seksual yang paling berbahaya adalah hipoksifilia, dimana partisipan terangsang secara seksual dengan dikurangi konsumsi oksigennya, misalnya dengan menggunakan jerat, kantung plastik, bahan kimia, atau tekanan pada dada. Aktivitas ini tak jarang menimbulkan kematian pada masokis.

Masokis bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti trauma saat masih anak-anak, keluarga yang tidak harmonis, dan faktor pergaulan. Kelainan seksual ini juga bisa terjadi pada seseorang yang memiliki latar belakang kehidupan yang normal. Penderita menerima rasa sakit yang diberikan dari luar bukan disebabkan paksaan atau harus menerimanya. Penderita masokis cenderung menghindarkan diri dari kesenangan dan lebih tertarik dengan penderitaan. Mereka lebih senang memancing amarah dan penolakan serta menolak bantuan orang lain.

Pencegahan perilaku masokis bisa dimulai dari anak-anak. Ajarkan anak-anak perilaku orang dewasa yang tidak pantas, cara menolak bujukan, segera menjauh dari situasi yang tidak nyaman, dan melaporkan kejadian yang tidak menyenangkan tersebut kepada orang dewasa yang tepat.

Penting juga untuk mengajarkan anak-anak bersikap tegas untuk mengatakan ‘tidak’ jika ada orang dewasa yang berbicara atau menyentuh sehingga membuatnya merasa tidak nyaman. Intevensi untuk orang dewasa, titik beratnya adalah pada pemaparan terhadap ingatan atas trauma tersebut melalui diskusi atmosfer terapeutik yang aman dan suportif. Mempelajari bahwa seksualitas manusia yang sehat tidak bisa menjadi bagian yang memperkuat kepribadian individu seiring berkembangnya kematangan pribadinya. Hambatan dalam kontak fisik dapat ditangani dalam lingkungan terapi kelompok dengan cara memegang tangan dan mengusap punggung secara terstruktur dan nonseksual.

Baca Juga:  Coklat Efektif Tingkatkan Libido

Pada kasus perkosaan perlu dilakukan upaya untuk membuang rasa bersalah atas apa yang terjadi dengan mengubah konsep diri dari “tingkah laku saya buruk” ke “tingkah laku (pelaku) buruk”. Macam-macam intervensi juga tergantung padausia korban.