Manfaat Anggur untuk Tulang Perempuan

DokterSehat.Com – Tulang merupakan jaringan hidup, dimana tulang tua akan diganti dalam proses yang disebut renovasi. Sedangkan pada penderita osteoporosis, tulang yang rusak lebih banyak ketimbang tulang yang diregenerasi. Wanita menopause berada pada risiko tertentu karena ada penurunan hormon estrogen, hormon yang penting untuk kekuatan tulang.

doktersehat-kelainan-tulang-kurva-skoliosis

Sebuah penelitian terbaru menyebutkan, satu gelas anggur sehari, ternyata dapat menyelamatkan wanita menopause dari osteoporosis alias tulang keropos.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari University of East Anglia dan King College London ini melibatkan lebih dari 1.000 pasang wanita kembar di Inggris yang berusia 50 tahun ke atas untuk mengeksplorasi hubungan antara diet dan risiko patah tulang.

Pola diet pascamenopause para peserta pun dipantau untuk melihat bagaimana makanan dan minuman berkorelasi dengan jumlah patah tulang. Peserta ditanyai mengenai daftar makanan mereka dan kebiasaan minum alkohol. Kemudian mereka menjalani serangkaian scan untuk mengukur ketebalan tulang di pinggul, dan tulang belakang.

Para peneliti pun menemukan konsumsi alkohol dari anggur terkait dengan kepadatan mineral tulang yang sangat baik bagi kondisi wanita pascamenopause.

Sementara itu mereka menemukan pula fakta yang menjelaskan pola makan tradisional Inggris yang kaya akan ikan, keripik, kacang panggang, dan daging terbukti memiliki efek merusak pada kekuatan tulang.

Meski belum mendapat penjelasan lebih dalam mengenai perngaruh anggur dan tulang, tetapi ilmuwan percaya pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan kandungan polifenol dalam anggurlah yang punya peran. Kandungan polifenol tinggi terdapat pada kulit anggur, ini yang membuat jenis alkoholnya sangat baik bagi tulang, dan tidak ditemui dalam minuman beralkohol lain.

Sebagai bagian dari gaya hidup sehat, alkohol dapat memperlambat keropos tulang dengan mengurangi pergantian tulang, papar Iwaniec. Hal itu berarti dapat pula menurunkan risiko osteoporosis.

Iwaniec mencatat, meskipun penyalahgunaan alkohol merupakan masalah kesehatan yang serius secara medis dan umum, efek  minum alkohol pada level yang moderat (sedang) terhadap kesehatan belum banyak mendapat perhatian.

Baca Juga:  Terapi Akupuntur untuk Osteoporosis

Menurut data US National Institutes of Health, sekitar separuh dari semua wanita AS dan seperempat pria akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Disamping itu, resep obat untuk mencegah atau mengobati osteoporosis masih sangat mahal dan dapat membuat efek samping yang tidak menyenangkan.Oleh karena itu, kata peneliti, penting untuk mengidentifikasi faktor gaya hidup yang dapat membantu dalam melindungi tulang.

Dalam kajiannya yang dipublikasikan secara online pada 11 Juli 2012., Iwaniec dan timnya mengamati 40 wanita pascamenopause berusia rata-rata 56 tahun, yang minum cukup alkohol secara moderat dan tidak menggunakan terapi hormon pengganti. Minum secara moderat diartikan sebagai satu setengah sampai dua gelas sehari atau 8 sampai 10 gram alkohol. Kebiasaan minum alkohol dalam tingkat yang moderat ini dilakukan partisipan selama setahun sebelum studi dimulai.

Ketika para wanita berhenti minum selama dua minggu, para peneliti menemukan bukti peningkat pergantian tulang dalam darah, yang merupakan faktor risiko untuk patah tulang akibat osteoporosis. Namun, dalam waktu kurang dari sehari setelah para wanita kembali minum alkohol, tanda-tanda pergantian tulang kembali ke tingkat sebelumnya.

Studi sebelumnya telah menemukan, peminum moderat memiliki kepadatan tulang lebih tinggi ketimbang yang tidak minum alkohol atau peminum berat, tetapi apa alasannya masih belum jelas. Peneliti menduga bahwa alkohol bertindak seperti estrogen dalam mengurangi pergantian tulang.

“Sebagian besar perempuan dalam penelitian kami adalah peminum anggur (wine),” kata Iwaniec.

Iwaniec mengungkapkan, efek yang sama dari konsumsi alkohol justru tidak terjadi pada pria. Studi ini juga tidak membuktikan bahwa konsumsi alkohol secara moderat dapat mencegah osteoporosis. Temuan ini hanya menunjukkan hubungan antara keduanya.