Irritable Bowel Syndrome (IBS) – Makanan yang Harus Dihindari dan Perubahan Gaya Hidup

Berikut adalah beberapa makanan apa yang harus dihindari jika terkena Iritable Bowel Syndrome (IBS). Baik jenis IBS-D atau IBS-C, ada makanan tertentu yang harus dihindari agar tidak memicu gejala.

doktersehat-kanker-mulut-bau-cegukan

Makanan tertentu bisa memperburuk kembung dan meningkatkan gas di saluran pencernaan. Makanan yang harus dihindari meliputi sayuran dan kacang polong, seperti:

  • Kubis
  • Kembang kol
  • Lobak
  • Selada air
  • Wasabi
  • Kubis brussel
  • Bok choy
  • Arugula
  • Kubis
  • Brokoli
  • Sawi putih

Kacang-kacangan juga bisa memperburuk kembung, seperti:

  • Kacang hitam
  • Kacang polong
  • Buncis
  • Edamame
  • Kacang fava
  • Kacang-kacangan
  • Kacang lima
  • Kacang merah
  • Kacang kedelai

Beberapa makanan bisa memicu gejala kram perut dan diare, diantaranya:

  • Makanan berlemak
  • Gorengan
  • Kopi
  • Kafein
  • Alkohol
  • Sorbitol (pemanis yang banyak ditemukan pada makanan diet, permen, dan gusi)
  • Fruktosa (ditemukan secara alami pada madu dan beberapa buah, dan juga digunakan sebagai pemanis)

Makan makanan dalam porsi besar juga bisa memicu kram perut dan diare.

Apa perubahan gaya hidup lainnya yang membantu meringankan gejala Irritable Bowel Syndrome (IBS)?

  • Selain perubahan pola makan, ada beberapa kebiasaan sehat yang juga bisa membantu mengurangi gejala IBS
  • Menjaga kebugaran fisik yang baik untuk memperbaiki fungsi usus dan membantu mengurangi stres
  • Berolahraga secara teratur
  • Berhenti merokok untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan
  • Hindari kopi/ kafein dan permen karet
  • Mengurangi atau menghilangkan konsumsi alkohol dapat membantu
  • Manajemen stres dapat membantu mencegah atau mengurangi gejala IBS
    • Gunakan teknik relaksasi: Pernapasan dalam, visualisasi, Yoga
    • Lakukan hal-hal yang menurut Anda menyenangkan: Bicaralah dengan teman, baca, mendengarkan musik
    • Hipnosis yang diarahkan pada hal yang bisa mengurangi stres dan kecemasan
    • Biofeedback mengajarkan Anda untuk mengenali respons tubuh terhadap stres dan Anda dapat belajar memperlambat denyut jantung dan bersantai
  • Teknik manajemen nyeri dapat meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit
  • Terapi perilaku kognitif atau psikoterapi dengan konselor terlatih