Mahasiswa AS yang Dibebaskan Korea Utara Meninggal Dunia Karena Botulisme

DokterSehat.Com – Media sosial belakangan ini dihebohkan dengan berita mengenai Otto Warmbier, seorang mahasiswa dari Amerika Serikat yang selama ini ditahan di Korea Utara. Otto sendiri sebelumnya dituduh mencuri slogan propaganda di hotel dimana Ia mengidap di Korea Utara tahun lalu. Gara-gara tuduhan ini, Ia pun divonis harus melakukan kerja paksa selama 15 tahun di Negara yang dipimpin oleh Kim Jong-Un ini. Berita penahanan Otto sendiri menjadi viral dan dikecam banyak pihak yang meminta mahasiswa ini segera dibebaskan. Sayangnya hukuman ini tetap saja harus Ia jalani.



Meskipun banyak pihak terus mengusahakan perjuangan pembebasan Otto, berita mengenai dirinya sempat meredup hingga tiba-tiba saja minggu lalu pihak Korea Utara mengembalikan Otto ke kampung halamannya di Ohio, Amerika Serikat. Yang menjadi masalah adalah, Otto dipulangkan dalam kondisi koma. Demi menyelamatkan nyawanya, Otto pun langsung dirawat secara intensif di UC Health University of Cincinnati Medical Center. Sayangnya, Otto kemudian dinyatakan meninggal dunia karena sudah kehilangan sebagian besar jaringan otaknya.

Pihak Korea Utara menyebutkan jika penyebab dari kematian Otto adalah penyakit botulisme, kondisi yang sangat langka dan serius yang disebabkan oleh racun yang diproduksi bakteri bernama clorstridium botulinum. Racun dari bakteri ini bisa menyerang sistem saraf pada otak atau tulang belakang sehingga akan memicu kelumpuhan otot. Bakteri ini sendiri bisa masuk melalui makanan yang dikonsumsi atau kontaminasi pada luka terbuka. Gejala dari botulisme sendiri bisa berupa kesulitan berbicara atau menelan, penglihatan yang memburuk, gangguan pernafasan, mual-mual, nyeri perut, hingga akhirnya menyebabkan kelumpuhan.

Meskipun begitu, pihak tim medis yang merawat kondisi Otto setelah dipulangkan ke Amerika Serikat menyebutkan bahwa tidak ada tanda-tanda dari botulisme pada jaringan tubuh sang mahasiswa malang ini. Fakta ini menyebabkan banyak kecaman dari berbagai pihak pada Korea Utara sekaligus pemerintah Amerika Serikat yang dianggap kurang serius dalam membebaskan Otto sebelumnya.