Kurang Pendengaran – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

DokterSehat.Com – Kondisi-kondisi tertentu, termasuk faktor usia, penyakit, dan genetik dapat berperan dalam terjadinya kurang pendengaran. Selama beberapa generasi, gaya hidup modern juga dapat merusak komponen-komponen dalam telinga, contohnya penggunaan obat-obatan tertentu dan kebiasaan mendengarkan suara keras secara terus-menerus.

ktersehat-gangguan-pendengaran

Penyebab kurang pendengaran

  • Pertambahan usia. Merupakan penyebab kurang pendengaran yang paling sering. Satu dari tiga orang yang berusia 65-74 tahun mengalami kurang pendengaran dengan berbagai derajat. Di atas usia 75 tahun, angka perbandingan ini meningkat menjadi satu banding dua. Para peneliti masih belum dapat memahami mengapa fungsi pendengaran menurun seiring dengan pertambahan usia. Kemungkinan karena paparan suara yang lama atau faktor-faktor lain yang secara perlahan-lahan menurunkan kerja komponen-komponen di dalam telinga. Faktor genetik juga ikut berpengaruh.
  • Suara atau bunyi. Suara yang terlalu keras dan didengarkan secara terus-menerus dapat menurunkan fungsi pendengaran. Dalam beberapa bidang pekerjaan, telinga terpapar oleh tingkat kebisingan yang cukup tinggi setiap hari. Pekerjaan yang menimbulkan kebisingan ini misalnya tukang kayu (suara mesin pemotong kayu), militer (suara tembakan senjata), pertambangan, industri, pertanian, dan transportasi. Bahkan seorang musisi juga berisiko mengalami kurang pendengaran. Saat ini sudah banyak digunakan pelindung telinga untuk orang-orang yang berkerja dengan tingkat kebisingan yang tinggi seperti di atas.
  • Obat-obatan. Obat-obatan tertentu dapat merusak fungsi pendengaran dan/atau keseimbangan. Lebih dari 200 obat dan zat kimia lain memiliki efek samping pada fungsi pendengaran dan/atau keseimbangan. Contohnya beberapa antibiotik dan obat-obat kemoterapi, aspirin, loop-diuretics, obat anti malaria, dan beberapa obat untuk disfungsi ereksi.
  • Kurang pendengaran mendadak. Penurunan pendengaran 30 desibel atau lebih (pendengaran normal 60 desibel) dapat terjadi dalam hitungan jam atau hari. Pada 9 dari 10 kasus, kurang pendengaran mendadak hanya terjadi pada salah satu telinga. Meskipun ada sekitar 4000 kasus baru kurang pendengaran mendadak setiap tahunnya, hanya 10-15% yang dapat ditemukan penyebabnya.
  • Penyakit tertentu. Penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes meningkatkan risiko kurang pendengaran karena penyakit-penyakit tersebut dapat mengakibatkan gangguan aliran darah ke telinga. Otosklerosis adalah penyakit tulang-tulang pendengaran di telinga tengah dan penyakit Menierre mengenai telinga bagian dalam. Kedua penyakit ini juga dapat menyebabkan kurang pendengaran.
  • Trauma atau cedera. Cedera yang mengakibatkan patah tulang tengkorak atau robeknya gendang telinga meningkatkan risiko kurang pendengaran.
  • Infeksi atau kotoran telinga dapat menyumbat saluran telinga sehingga menurunkan fungsi pendengaran.

Gejala Kurang Pendengaran

Pada beberapa kasus, kurang pendengaran terjadi secara perlahan-lahan sehingga tidak disadari. Mungkin orang tersebut mulai merasa pendengarannya menurun dan kesulitan mendengarkan suara orang lain melalui telepon. Namun, karena masih bisa mendengar suara (walaupun kecil), orang seringkali merasa fungsi pendengarannya baik-baik saja.

Pada tahap awal kurang pendengaran, suara-suara yang terdengar nyaring seperti suara wanita dan anak-anak, serta suara huruf “S” dan “F” terasa sulit untuk dibedakan. Gejala lain kurang pendengaran meliputi:

  • Kesulitan memahami percakapan melalui telepon
  • Kesulitan mendengar suara di suasana yang ramai
  • Kesulitan mengikuti percakapan jika ada lebih dari satu orang yang berbicara
  • Merasa bahwa orang lain berbicara kurang jelas
  • Sering salah memahami perkataan orang lain dan memberikan tanggapan yang tidak sesuai
  • Sering meminta orang lain untuk mengulangi perkataannya
  • Sering mendapat keluhan dari orang lain karena menyalakan TV atau radio terlalu keras
  • Suara mendesis, bergemuruh, atau berdenging di dalam telinga, yang disebut tinitus
Baca Juga:  Tanda-Tanda dan Efek Hipertensi

Derajat Kurang Pendengaran

Dokter mengelompokkan kurang pendengaran berdasarkan derajatnya: mulai dari ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Gejala-gejalanya meliputi:

  • Kurang pendengaran ringan. Berbicara satu lawan satu masih dalam batas normal, tetapi sulit apabila berada dalam suasana yang ramai.
  • Kurang pendengaran sedang. Sering meminta orang lain untuk mengulang perkataannya baik pada percakapan langsung maupun melalui telepon.
  • Kurang pendengaran berat. Hampir tidak bisa mengikuti pembicaraan tanpa alat bantu dengar, kecuali jika lawan bicara berbicara dengan suara keras.
  • Kurang pendengaran sangat berat. Tidak bisa mendengarkan perkataan orang lain tanpa alat bantu dengar.

Pengobatan Kurang Pendengaran

Kurang pendengaran dapat diatasi berdasarkan derajat dan penyebabnya. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui kondisi pendengaran. Dokter mungkin akan memberikan obat-obatan, meresepkan alat bantu dengar, atau bahkan menyarankan tindakan operasi sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Pastikan segera menghubungi dokter jika kurang pendengaran terjadi secara mendadak karena mungkin juga disebabkan oleh masalah kesehatan yang lebih berat.

Pencegahan Kurang Pendengaran

Dengan banyaknya kasus-kasus kurang pendengaran yang tidak bisa disembuhkan (sehingga terpaksa menggunakan alat bantu dengar seumur hidup), pencegahan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan untuk menjaga fungsi pendengaran. Kenakan pelindung telinga jika berada di tempat-tempat yang bising. Jika mungkin, jauhi sumber kebisingan tersebut. Misalnya jika melewati tempat konstruksi bangunan yang bising, bisa menjauhi tempat konstruksi tersebut atau menutup telinga pada saat melewati tempat tersebut.

Secara sederhana, pencegahan kurang pendengaran dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

  • Hindari kebisingan. Bagaimana kita tahu suara di sekitar kita terlalu bising? Mudah saja. Jika kita harus berteriak agar suara kita dapat terdengar orang lain, artinya suara di sekitar kita terlalu bising dan dapat merusak pendengaran. Contohnya suara sepeda motor, suara musik pada saat konser, alat-alat seperti bor mesin atau gergaji mesin, dan bahkan earphone dapat merusak pendengaran kita secara perlahan-lahan.
  • Menciptakan keheningan. Misalnya dengan membeli perabot rumah tangga atau alat-alat yang tidak menimbulkan suara bising. Jika suara di sekitar terlalu keras, misalnya di restoran, gym, bioskop, maupun tempat lain, jangan segan untuk meminta kepada petugas yang bertanggung jawab di tempat tersebut agar volume suaranya dikecilkan.
  • Membatasi waktu mendengarkan suara keras. Lamanya seseorang mendengarkan suara keras juga berpengaruh dengan terjadinya kurang pendengaran.
  • Mengenakan pelindung telinga. Jika dirasa akan mendengar suara yang terlalu keras, persiapkan diri dengan menggunakan earplug atau earmuff.
  • Jangan merokok. Merokok juga meningkatkan risiko kurang pendengaran.
  • Membersihkan kotoran telinga secara teratur. Kotoran telinga dapat menyumbat saluran telinga sehingga mengganggu pendengaran. Jika kotoran telinga keras atau sulit untuk dikeluarkan, hubungi dokter.
  • Teliti sebelum menggunakan obat. Tanyakan kepada dokter apakah obat-obat yang diminum memiliki efek samping pada pendengaran. Bila ya dan tetap harus diminum karena diperlukan untuk penyembuhan penyakit yang diderita (misalnya antibiotik atau obat kemoterapi), periksakan pendengaran secara teratur ke dokter selama masa pengobatan.
  • Pemeriksaan fungsi pendengaran. Jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter jika merasa memiliki faktor risiko seperti mempunyai anggota keluarga kandung yang mengalami kurang pendengaran, kesulitan mendengarkan perkataan orang lain, bekerja di tempat yang bising setiap hari, atau sering mendengar suara berdenging di dalam telinga.