Tewas Karena Virus Nipah, Perawat Ini Menjadi Pahlawan

doktersehat_lini_virus_nipah
Photo Source: Twitter/deepusebin

DokterSehat.Com– Tak hanya memakan korban meninggal dunia hingga 10 orang dan membuat puluhan orang lainnya dirawat dengan intensif di rumah sakit, virus nipah juga membuat seorang perawat mendapatkan gelar pahlawan setelah meninggal dunia akibat terpapar virus ini. Perawat tersebut adalah wanita berusia 28 tahun bernama Lini Puthussery.

Dilansir dari BBC, Lini adalah perawat yang menangani tiga anggota keluarga yang telah didiagnosis terpapar virus tersebut. Ibu dari dua anak laki-laki ini akhirnya juga ikut tertular setelah merawat dan tinggal di ruangan yang sama dengan anggota keluarga yang sedang sakit. Tatkala mulai mengalami gejala terkena virus nipah seperti demam dan flu, Lini langsung meminta petugas rumah sakit untuk dikarantina agar tidak menularkan virus ini ke orang lain.

Suami Lini yang bekerja di Bahrain, Sajish, langsung pulang ke Kerala, India, tatkala adiknya mengabarkannya bahwa Lini masuk ke rumah sakit dan positif terkena virus nipah. Saat tiba di rumah sakit pada Minggu, 20 Mei 2018, Sajish mendapati istrinya sudah berada di ruangan ICU dan harus mendapatkan bantuan oksigen.

“Dia sudah tidak bisa berbicara tapi masih bisa menggenggam tanganku,” ucap Sajish menceritakan saat-saat terakhirnya bersama dengan istrinya.

Keesokan harinya, Lini meninggal dunia dengan meninggalkan catatan yang menunjukkan bahwa Ia tidak bisa bertemu dengan keluarganya lagi dan meminta suaminya merawat anak-anak dengan baik. Catatan ini kemudian viral di media sosial.

Jasad Lini tidak diberikan kepada keluarganya karena dikhawatirkan bisa menularkan infeksi virus nipah. Lini pun akhirnya dikremasi dengan pengawasan ketat.

Pengorbanan Lini akhirnya membuat banyak orang, baik itu para dokter hingga petugas pemerintah menganggapnya sebagai pahlawan. Bahkan, Menteri Pinarayi Vijayan pun ikut mengunggah cuitan belasungkawa atas kematian sang perawat.

Penyakit yang belum ada vaksin dan obatnya ini kini menjadi perhatian besar WHO karena dianggap berpotensi menjadi wabah yang mengerikan sebagaimana ebola atau zika. Semoga saja penyakit ini tidak sampai ke Indonesia.