Konsumsi Fast Food Bisa Sebabkan Berbagai Penyakit Mental

DokterSehat.Com – Kita tentu telah sering mendengar tentang bahayanya makanan cepat saji bagi kesehatan tubuh. Sayangnya, meskipun telah ada ribuan berita tentang bahaya fast food, makanan ini masih cukup populer di kalangan anak muda sebagai makanan yang enak dikonsumsi. Selain kesehatan fisik, pakar kesehatan ternyata juga menemukan fakta mengejutkan dimana makanan cepat saji bisa memberikan efek buruk bagi psikologis seseorang, khususnya mereka yang memiliki kecanduan pada makanan ini. Apa sajakah efek buruk mengkonsumsi makanan cepat saji bagi psikologis?

doktersehat-makanan-ketagihan-kalori-junk-food

Makanan cepat saji memiliki banyak sekali kandungan lemak trans. Banyaknya lemak yang dikonsumsi bisa mempengaruhi neurotransmitter dengan signifikan dan bahkan meningkatkan resiko terkena penyakit alzheimer dan juga depresi. Minimnya kandungan vitamin dan mineral pada makanan cepat saji juga berpengaruh besar pada minimnya nutrisi baik bagi otak sehingga otak mudah mengalami kerusakan. Otak pun akan mengalami ketidakseimbangan hormon yang tentu saja bisa mempengaruhi banyak fungsi organ tubuh.

Di dalam fast food, ada banyak kandungan pengawet dan pewarna selain kandungan lemak yang tinggi. Kandungan-kandungan ini bisa memicu perubahan psikologis layaknya emosi yang cenderung lebih labil dan merasa hampa dengan dunia nyata yang kini mereka hadapi. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa mereka yang ketagihan makanan cepat saji akan merasakan ketidakbahagiaan dan ingin sekali kehidupan kembali layaknya saat mereka masih kecil. Selain itu, banyaknya kandungan karbohidrat olahan dan asam lemak omega tiga akan memicu fluktuasi pada gula darah seihngga bisa memicu depresi, kecemasan, hingga mudahnya rasa lelah muncul. Selain fast food, kandungan lemak trans tinggi juga bisa ditemukan pada makanan gorengan.

Gangguan mental berikutnya yang bisa disebabkan karena konsumsi makanan cepat saji adalah hiperaktif. Bahan pewarna dan pengawet layaknya natrium benzoat diyakini bisa memicu aktifitas tubuh yang hiperaktif, khususnya jika makanan cepat saji dikonsumsi anak-anak atau mereka yang masih berusia remaja.