Komunikasi Dalam Relasi Sosial

Doktersehat.com– Hubungan sosial memengaruhi kondisi fisik orang terkait. Menurut editor Scientific American Mind, Ingrid Wickelgren, Selasa (24/4), rasa sakit hati yang muncul dalam relasi sosial ataupun rasa sakit fisik terkait dengan bagian otak yang disebut korteks singulat anterior.



Artinya, rasa sakit hati memengaruhi kondisi fisik. Studi yang dipublikasi awal tahun ini menunjukkan, ikatan sosial yang dibangun dengan keluarga dan teman menurunkan risiko kematian pada perempuan muda penderita kanker payudara dan meningkatkan daya hidup pasien pascaoperasi jantung. Sebaliknya, kurangnya hubungan sosial bisa memperburuk kondisi kesehatan.

Hal ini diperoleh dari analisis data 148 studi yang melibatkan 4.775 warga Alameda County, San Francisco, Amerika Serikat, tahun 2010. Responden ditanyai hubungan sosial mereka, seperti status pernikahan, hubungan dengan keluarga besar dan teman, ataupun afiliasi dengan kelompok tertentu.

Dalam konteks sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lain. Karena itu, dalam menjalin hubungan dengan manusia lain memerlukan komunikasi. Kita sebagai muslim begitu bangun tidur mendengar adzan dan melakukan salat Subuh. Ini   komunikasi antara dirinya dengan Sang Pencipta.
Ketika salat, terkadang kita meneteskan air mata, sambil memohon diberi petunjuk oleh Sang Pencipta. Begitu pula manusia sejak lahir,  pada dasarnya sudah berkomunikasi. Contohnya, seorang bayi dengan cara menangis mengomunikasikan keinginannya. Seorang ibu memiliki naluri sehingga mengerti maksud tangisan bayinya yang belum bicara, misalnya saja dengan segera memberikan air susu ibu (ASI).
Bila seseorang berbicara dan temannya tidak mendengarkan, maka tak ada pembagian dan komunikasi. Jika orang pertama menulis dalam bahasa Inggris dan orang kedua tidak dapat membaca bahasa Inggris, maka tidak ada pembagian dan tak ada komunikasi. Dari apa yang dilakukan, komunikasi dalam kehidupan manusia sebenarnya merupakan hal pokok. Melalui komunikasi, orang bakhan dapat memengaruhi dan mengubah sikap orang lain, membentuk konsensus dan membuat keputusan.
Dengan melihat contoh tersebut, kita dapat melihat eksistensi manusia dan  hubungan sosial dengan lingkungan sosialnya, sehingga kualitas sosial manusia ditentukan bagaimana berkomunikasi.
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari bahasa Latin. yakni communicatio dan bersumber dari kata communis yang berarti sama atau sama makna. Karena itu, komunikasi akan terjadi bila terdapat kesamaan makna antara komunikator dan komunikan, ficture in our head kita sama. Hal ini juga dipengaruhi oleh kerangka referensi dan kerangka pengalaman antara komunikator dan komunikan.
Jika daerah kerangka pengalaman dan kerangka referensinya makin besar, semakin besar pula tercipta komunikasi yang efektif.  Sebaliknya, jika kerangka pengalaman dan kerangka referensinya makin menyempit maka komunikasi yang terjadi semakin terbatas bahkan dapat dikatakan gagal.
Memang banyak hambatan yang bisa menyebabkan komunikasi mengalami kegagalan. Beberapa hambatan dalam melakukan komunikasi antara lain: Pertama, hambatan dari proses komunikasi itu sendiri. Hambatan ini bisa dari pengirim pesan, sehingga pesan yang disampaikan tidak maksimal. Hambatan  dalam penyandian/simbol,  bahasa yang dipergunakan tidak jelas, sehingga mempunyai arti lebih dari satu. Hambatan media, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tak dapat mendengarkan pesan yang disampaikan.  Hambatan dalam bahasa sandi, terjadi ketika menafsirkan sandi oleh penerima pesan. Misalnya, kata “atos” ada dalam bahasa Sunda ditafsirkan dalam bahasa Jawa. Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima/mendengarkan pesan, sikap prasangka, tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.  Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan atau feedback yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya, akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu, tidak jelas dan sebagainya.
Kedua, hambatan fisik dan lingkungan,  seperti alat indra kita kurang berfungsi dengan baik atau karena sambil mendengarkan radio, menonton televisi, gangguan cuaca, gangguan alat komunikasi dan lain lain. Ketiga, hambatan semantik, kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima. Keempat, hambatan psikologis dan sosial, misalnya saja ketika kita lapar atau sedang ada masalah seringkali apa yang dibicarakan tidak fokus.
Karena komunikasi sangat vital dalam kehidupan kita, maka sudah sepantasnya komunikasi mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Kemudian, pertanyaan “Mengapa kita berkomunikasi?” Dapat dirumuskan menjadi beberapa pertanyaan. Seperti, “Apa yang mendorong kita berkomunikasi?” “Manfaat-manfaat apa yang kita peroleh dari komunikasi?” “Sejauhmana komunikasi memberikan andil kepada kepuasan kita?” “Kendala-kendala apa saja yang menghalangi kita untuk berkomunikasi” dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya (Mulyana, 2007).

Baca Juga:  Beberapa Hal Penyebab Depresi

 

 

Sumber: health.kompas.com&kabar-cirebon.com