Komplikasi Akibat Melahirkan Secara Caesar

DokterSehat.com – Operasi caesar merupakan proses pengeluaran bayi tanpa melewati vagina. Dalam operasi ini bayi dikeluarkan dengan membedah dinding perut dan rahim ibu. Tindakan operasi caesar ini berlangsung selama 20 – 90 menit.



Normalnya, operasi caesar dilakukan bila ada alasan medis tertentu yang tidak memungkinkan ibu hamil melahirkan secara normal. Tapi, kini operasi caesar banyak dilakukan dengan alasan pribadi seperti ingin melahirkan pada tanggal yang dianggap spesial, ibu hamil merasa trauma dengan proses melahirkan sebelumnya, atau ibu ingin melindungi area vagina agar tetap kencang seperti belum pernah melahirkan anak. Namun, dibalik keuntungan dari operasi caesar tersebut ada banyak risiko yang perlu diwaspadai dari operasi caesar. Operasi caesar juga bisa menimbulkan komplikasi-komplikasi seperti:

Melukai organ sekitar rahim

Di sekitar rahim terdapat organ penting seperti kandung kemih, saluran kencing, dan usus besar. Organ-organ serta syaraf yang terletak berdekatan bisa saja terkena goresan pisau bedah. Meski begitu, kasus ini sangat jarang terjadi.

Melukai bayi

Bayi juga bisa terluka ketika dinding rahim dibuka.

Perdarahan

Perdarahan lanjutan yang terjadi akibat kontraksi rahim tidak baik setelah plasenta dilahirkan sehingga Anda membutuhkan tranfusi darah. Bila terjadi perdarahan berat saat operasi maka pada kasus yang lebih parah akan dilakukan pengagkatan rahim.

Problem buang air kecil

Pada saat pembedahan dokter akan menodorong kandung kencing agar tidak ikut tersayat ketika membuka dinding rahim. Akibatnya, otot-otot saluran kencing akan terganggu sehingga masih ada sisa urin di kandung kemih meski Anda sudah buang air kecil. Penderita akan mengeluarkan urin saat tertawa, batuk, atau mengejan. Untuk mengatasinya akan dipasang selang kateter untuk membantu mengeluarkan urin. Lakukan latihan otot dasar panggul untuk menghindari masalah ini.

Baca Juga:  Tanda-Tanda Akan Melahirkan

Infeksi

Infeksi bisa terjadi akibat kurangnya sterilitas alat-alat operasi, retensi urin, luka operasi yang terkontaminasi atau melalui transfusi darah. Infeksi bakteri pada umumnya dapat ditangani baik dengan antibiotik.

Perlengketan

Ibu yang menjalani operasi caesar berisiko mengalami perlengkatan plasenta pada rahim (plasenta akreta). Perlengketan juga bisa terjadi bila darah, jaringan rahim (endometrium) atau jaringan plasenta tertinggal dan menempel pada usus atau organ dalam lainnya.

Trombus dan emboli 

Pemberian obat bius selama operasi berlangsung dapat membuat otot-otot berelaksasi, dimikian pula dengan otot-otot pembuluh darah. Kondisi ini menyebabkan aliran darah melambat. Akibatnya, resiko pembentukan trombus dan emboli meningkat. Trombus merupakan bekuan darah yang bisa menyumbat aliran darah. Bila bekuan darah terbawa aliran darah maka dapat menyumbat pembuluh darah di kaki, paru-paru, otak atau jantung. Kondisi ini dapat menimbulkan kematian bila penyumbatan sampai terjadi otak dan jantung.

Emboli air ketuban

Emboli terjadi bila cairan ketuban dan komponennya masuk ke dalam aliran darah hingga menyumbat pembuluh darah. Emboli air ketuban bisa terjadi pada persalinan normal atau  operasi Caesar, sebab ketika proses persalinan berlangsung terdapat banyak pembuluh darah yang terbuka. Kejadian ini amat sangat jarang terjadi.

Sebelum memutuskan untuk melakukan persalinan dengan cara caesar sebaiknya tanyakan kepada dokter keuntungan dan kerugian yang Anda alami bila melahirkan dengan cara caesar.