Disleksia – Komorbiditas dan Diagnosis

Anak-anak dengan disleksia dapat mengalami gangguan simultan (sering disebut “komorbid”) yang mengganggu pembelajaran.

doktersehat-konsultasi-sinus

Kondisi komorbiditas

Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD): Kelainan neurologis ini terutama mempengaruhi kemampuan memperhatikan, dan mungkin disertai oleh hiperaktif dan impulsif. Hal ini dapat berdampak serius pada pembelajaran anak yang terkena dampak disleksia.

Gangguan Afektif (Ansietas, Depresi): Anak-anak dengan disleksia mungkin memiliki kepercayaan diri yang rendah sehubungan dengan perjuangan mereka dalam bidang akademis dan rentan terhadap gangguan depresi dan kecemasan. Hal ini biasanya diidentifikasi oleh perubahan pola perilaku dan kemunduran anak-anak dalam bidang akademikdisertai penarikan diri dari aktivitas, iritabilitas, perubahan mood, penghindaran sekolah, perubahan kewaspadaan, perubahan kebiasaan makan, tidur, dan perubahan pola bermain.

Gangguan Konduktif (ODD, CD): Beberapa anak mungkin menunjukkan perilaku negatif, menantang otoritas, dan perilaku agresif di kelas, dan terlibat dalam menghindari pekerjaan kelas. Oppositional Defiant Disorder (ODD) adalah kondisi di mana anak mengganggu proses belajar dan teman-temannya di dalam ruang kelas.

Diagnosis
Diagnosis disleksia tidak sesederhana dan sering membutuhkan masukan dari beberapa profesional kesehatan yang berbeda. Meskipun memang kelainan yang mempengaruhi pembelajaran dan sebagian besar proses pendidikan, ada juga masalah neurologis dan medis, sehingga usaha kerjasama antara sekolah, dokter, dan profesional perawatan kesehatan lainnya sangat penting untuk melayani anak dan keluarga.

Inti diagnosis “gangguan belajar” di sekolah adalah demonstrasi perbedaan atau “kesenjangan” antara IQ anak dan prestasi akademisnya. Kriteria ketidaksesuaian ini telah diperdebatkan secara luas antara komunitas riset dan komunitas pendidikan, namun pada saat ini, tetap menjadi pertimbangan penting. Hal ini dilakukan agar anak-anak yang diberi talenta dan bakat lain dapat mempelajari sesuai kemampuannya, dan berjuang dengan membaca dan mengeja.

Banyak anak dengan disleksia dilewatkan atau diabaikan sampai mereka berada di sekolah dasar atau sekolah menengah yang lebih tinggi, bila ada penurunan kinerja akademis yang nyata. Mereka sering tidak naik kelas hanya karena dileksia yang tidak diketahui.

Selanjutnya, ada faktor pembias dalam menggunakan kriteria berbasis usia sekolah yang khas untuk perbedaan dalam banyak tes IQ bergantung pada kemampuan bahasa yang kuat yang secara inheren lebih lemah pada banyak anak dengan disleksia, sehingga mempersempit “kesenjangan” dan dengan demikian meniadakan diagnosis disleksia yang pasti.

Ada juga argumen yang terus berlanjut antara profesional medis dan pendidikan mengenai terminologi seputar gangguan membaca. Banyak pendidik tidak percaya bahwa “disleksia” adalah istilah yang valid; Banyak dokter percaya bahwa istilah “gangguan belajar” diterapkan terlalu luas untuk menunjukkan defisit spesifik yang dimiliki seorang anak.

Seorang spesialis komunitas seperti dokter anak atau ahli saraf perkembangan mungkin menggunakan alat skrining seperti Wide Range Achievement Test (WRAT) atau Peabody Individual Achievement Test (PIAT). Alat skrining tersebut dapat mengidentifikasi domain yang menjadi perhatian, namun tidak boleh dianggap sebagai tes diagnostik akhir. Diagnosis final hanya bisa dilakukan oleh spesialis pendidikan atau psikolog yang ahli dalam mengelola IQ dan tes prestasi.

Tes IQ khas di sekolah termasuk tes Wechsler WISC-IV, dan pencapaian diukur dengan tes akademis yang disertakan dalam tes Woodcock-Johnson atau Wechsler Achievement Test (WIAT) atau tes serupa. Pilihan tes dapat bervariasi tergantung pada preferensi tiap sekolah. Biasanya, data pemeriksaan tingkahlaku dan bahasa juga bisa dilakukan tergantung pada penentuan komite sistem sekolah tentang pendidikan khusus.

Disleksia – Halaman Selanjutnya: 1 2 3 4 5 6 7