Tanda Anak Mengalami Pelecehan Seksual

doktersehat anak bintitan
Designed by Freepik

DokterSehat.ComРPelecehan seksual adalah jenis trauma yang sangat menyeramkan karena rasa malu yang terjadi pada korban. Dengan pelecehan seksual anak, korban masih terlalu muda untuk tahu bagaimana mengungkapkan apa yang terjadi dan mencari bantuan. Ketika tidak ditangani dengan benar, ini dapat menyebabkan PTSD (post traumatic stress disorder), depresi dan kecemasan seumur hidup.

Trauma yang dihasilkan dari pelecehan seksual adalah sindrom yang memengaruhi bukan hanya korban dan keluarga mereka, tetapi semua masyarakat. Karena pelecehan seksual, penganiayaan dan pemerkosaan adalah konsep yang dipenuhi rasa malu, budaya kita cenderung menekan informasi tentang mereka.

Menurut childtrauma.org, di Amerika Serikat, satu dari tiga wanita dan satu dari lima pria telah menjadi korban pelecehan seksual sebelum usia 18 tahun. Menurut American Academy of Experts in Traumatic Stress (AAETS), 30% dari semua anak laki-laki dilecehkan dengan cara tertentu, dibandingkan dengan 40% perempuan.

Beberapa statistik paling mengejutkan yang digali selama penelitian tentang pelecehan seksual adalah bahwa anak-anak tiga kali lebih mungkin menjadi korban anak kecil diperkosa daripada orang dewasa, dan pelecehan orang asing merupakan kasus minoritas. Lebih mungkin bagi seorang anak untuk mengalami pelecehan seksual di dalam anggota keluarga atau orang dewasa lain yang dianggap dapat dipercaya.

Pelecehan seksual adalah masalah yang benar-benar sangat merusak mental. Ini memengaruhi anak-anak dan orang dewasa pada etnis, sosioekonomi, pendidikan, agama, dan hubungan sosial.

Baca juga: Pelecehan Seksual Bukan Hanya Dari Tindakan, Tapi Juga Dari Hal ini

Tanda Terjadi Pelecehan Seksual

Gejala seorang anak yang mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas. Ada anak-anak yang menyimpan rahasia pelecehan seksual yang dialaminya dengan bersikap “manis” dan patuh, berusaha agar tidak menjadi pusat perhatian.

Meskipun pelecehan anak tidak memperlihatkan bukti mutlak, tetapi jika tanda-tanda di bawah ini tampak pada anak dan terlihat terus-menerus dalam jangka waktu panjang, kiranya perlu segera mempertimbangkan kemungkinan anak telah mengalami pelecehan seksual.

Tanda dan indikasi ini diambil Jeanne Wess dari buku yang sama: Tanda-Tanda Fisik Balita, antara lain memar pada alat kelamin atau mulut, iritasi kencing, penyakit kelamin, dan sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa merupakan indikasi seks oral.

Tanda perilaku emosional dan sosial, antara lain sangat takut kepada siapa saja atau pada tempat tertentu atau orang tertentu, perubahan kelakuan yang tiba-tiba, gangguan tidur (susah tidur, mimpi buruk, dan ngompol), menarik diri atau depresi, serta perkembangan terhambat. Anak usia prasekolah gejalanya sama ditambah tanda-tanda berikut:

1. Tanda fisik

Tanda ini antara lain perilaku regresif, seperti mengisap jempol, hiperaktif, keluhan somatik seperti sakit kepala yang terus-menerus, sakit perut, sembelit.

2. Tanda perilaku emosional dan sosial

Tanda yang bisa dikenali adalah kelakuan yang tiba-tiba berubah, anak mengeluh sakit karena perlakuan seksual.

3. Tanda perilaku seksual

Masturbasi berlebihan, mencium secara seksual, mendesakkan tubuh, melakukan aktivitas seksual terang-terangan pada saudara atau teman sebaya, tahu banyak tentang aktivitas seksual, dan rasa ingin tahu berlebihan tentang masalah seksual.

Tanda Pelecehan pada Anak dan Remaja

Ciri-ciri pada anak dan remaja yang telah mengalami pelecehan seksual dapat dilihat dari berbagai aspek, berikut ulasannya:

1. Pelecehan pada anak

Anak usia sekolah memperlihatkan tanda-tanda pelecehan seksual seperti yang dijelaskan sebelumnya. Anak nak yang mengalami pelecehan akan mengalami perubahan kemampuan belajar, seperti susah konsentrasi, nilai turun, telat atau bolos, hubungan dengan teman terganggu, tidak percaya kepada orang dewasa, depresi, menarik diri, sedih, lesu, gangguan tidur, mimpi buruk, tak suka disentuh, serta menghindari hal-hal sekitar buka pakaian.

2. Pelecehan pada remaja

Sementara pada remaja, tandanya sama dengan di atas, di antaranya kelakuan yang merusak diri sendiri, pikiran bunuh diri, gangguan makan, melarikan diri, berbagai kenakalan remaja, penggunaan obat terlarang atau alkohol, kehamilan dini, melacur, seks di luar nikah, atau kelakuan seksual lain yang tak biasa.

Baca juga: Mengenali Anak Korban Sodomi dari Anusnya

Cara Menangani Anak Korban pelecehan

Bagaimana jika anak buka rahasia? Jagalah, jangan sampai anak terkejut oleh respons Anda.

Jika anak membuka rahasia, penting menyadari reaksi Anda dan anak itu sendiri. Anda perlu tahu apa yang mesti dilakukan. Mendengar apa yang dialami anak mungkin kita merasa marah, terkejut, dan bingung. Semua itu adalah reaksi yang normal untuk Anda. Tetapi, Anda harus menjaga jangan sampai anak terkejut oleh respons kuat Anda. Jika Anda dikuasai perasaan Anda sendiri, bicaralah kepada rekan yang Anda percayai.

Jika merasa tak mampu berbicara dengan anak, minta tolong ahli untuk mengolah perasaan Anda sendiri dan memintanya berbicara dengan si anak. Percaya apa yang dikatakan anak.

Ketika anak-anak membuka rahasia pelecehan yang dialami, hampir semua dipastikan mengandung kebenaran. Mereka kadang mengatakan sedikit apa yang terjadi untuk melihat bagaimana reaksi kita. Kalau anak tampak kacau dan ceritanya tak logis, itu wajar.

Perlihatkan kepada anak bahwa menceritakan hal itu adalah perbuatan benar. Jangan desak anak untuk menceritakan detail pengalamannya. Anak harus diyakinkan bahwa dia tak bersalah. Hal ini dalam kenyataan tak mudah melakukannya karena anak kerap menganggap dirinyalah penyebabnya.

Contoh Kasus Pelecehan Seksual pada Anak

Seperti kasus yang menimpa anak bernama Clara (bukan nama sebenarnya). Selama bertahun-tahun, anak berusia 12 tahun ini dijadikan obyek seks oleh ayahnya sendiri.

Dalam konseling, kalimat yang berulang-ulang dikatakannya adalah, “Pastilah ada yang salah pada diriku sampai bapak tega melakukannya kepadaku.” Berhati-hatilah, jangan perlihatkan ekspresi marah Anda terhadap pelaku. Sebaiknya kita membedakan antara orang dan kelakuannya.

Steve (bukan nama sebenarnya) dalam sesi konseling di sekolah mengatakan, dia dilecehkan kakeknya sendiri. Steve yang juga berusia 12 tahun membuka rahasia ini karena baru bertengkar dengan kakek. Tanpa pikir panjang, konselor memperlihatkan kemarahannya kepada si kakek. Steve yang terkejut oleh reaksi itu segera meninggalkan ruang dan menghilang.

Malam hari Steve ditemukan di belakang sekolah sambil menangis tersedu-sedu, Steve mengatakan, dia sangat cinta kepada kakek. Jika berbicara dengan anak, gunakanlah bahasa anak, jangan menggunakan kata-kata yang mengandung kemarahan kepada anak, karena persepsi kita kerap berbeda dengan anak.

Yuli (bukan nama sebenarnya, 3) mengatakan “bokong”, yang dimaksud adalah vaginanya. Susi (bukan nama sebenarnya, 4) bicara tentang boneka kura-kura yang dimainkannya di kamar mandi, padahal yang yang ingin ia katakann adalah penis pamannya.

Baca juga: Beberapa Dampak Buruk Yang Akan Dialami Anak Yang Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Dengan kasus seperti itu, perlihatkan kepada anak kesungguhan Anda untuk mendukungnya. Pelecehan seksual anak adalah tindak kriminal. Di sini tidak berlaku hukum kerahasiaan. Katakan kepada anak bahwa Anda akan menyampaikan cerita itu kepada orang lain demi keselamatan anak. Jangan buat janji untuk merahasiakannya. Pastikan anak merasa aman. Akhirnya, tidak berbuat apa-apa ketika mendengar pelecehan terjadi adalah salah. Anak-anak mempunyai hak untuk tumbuh aman dan sehat.

Sebagaimana judul bukunya, Slayer of the Soul, Child Sexual Abuse and The Catholic Church, Stephen J Sossetti dengan tepat mengatakan, dampak pelecehan seksual pada anak adalah membunuh jiwa. Masalah ini tidak hanya urusan para konselor dan terapis, melainkan kita semua. Kepekaan kita atas tanda-tanda pelecehan seksual dan tahu bagaimana meresponsnya kiranya akan sangat membantu ke arah berhentinya pelecehan.