Ketentuan Olahraga Pada Penderita Jantung Koroner

DokterSehat.Com– Sebelum membahas mengenai jenis olahraga yang cocok untuk penderita jantung koroner, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dapat melakukan beberapa pemeriksaan awal, di antaranya elektrokardiografi yang diikuti dengan tes treadmill. Ini untuk mengetahui kemungkinan dan keparahan penyakit jantung koroner. Pemeriksaan ini juga berperan menentukan intensitas latihan yang sesuai dan batas toleransi berolahraga dari masing-masing pasien.

jantung-koroner-doktersehat

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah ekokardiografi atau USG jantung yang mampu menilai fungsi jantung pasien, termasuk di dalamnya kemampuan pompa jantung. Pada kondisi jantung dengan daya pompa yang kurang baik, olahraga dapat memicu timbulnya gagal jantung yang memiliki dampak negatif pada pasien. Karena itu, pada kasus-kasus tertentu pemeriksaan pendahuluan, dokter wajib menentukan jadwal, intensitas, dan jenis olahraga yang cocok bagi para pasien.

Meskipun belum ada panduan resmi mengenai aturan olahraga pada penderita penyakit jantung koroner, sebagian besar ahli menyarankan para penderita penyakit jantung koroner tetap berolahraga. Tentu bergantung pada berat dan ringannya penyakit jantung koroner yang dialami. Para ahli di Amerika Serikat merekomendasikan olahraga ketahanan atau endurance training ringan sampai moderat bagi para penderita penyakit jantung koroner pada umumnya. Setiap minggu disarankan agar penderita penyakit jantung koroner melakukan olahraga dengan pengeluaran energi setidaknya 500-1000 kalori per minggu.

Sebagai contoh, seorang penderita penyakit jantung koroner dengan riwayat serangan jantung ringan ingin memulai berolahraga. Setelah berkonsultasi, dokter memutuskan bahwa pasien boleh berolahraga dengan intensitas ringan (500 kalori seminggu). Untuk mencapai target kalori yang diinginkan pasien memilih olahraga jalan pagi. Sesuai dengan tabel 2 mengenai pengeluaran kalori kita dapat melihat bahwa jalan pagi dengan kecepatan 5 km/jam mampu mengeluarkan kalori sebanyak 280 kalori. Dengan demikian, pasien harus berjalan sedikitnya 9 km dalam waktu seminggu.

Apabila pasien memilih berolahraga 6 kali dalam seminggu, ia harus berjalan sekitar 1,5 km setiap harinya dan apabila ia hanya memiliki waktu 3 kali dalam seminggu, ia harus berjalan setidaknya 3 km setiap hari. Apabila 3 km terlalu jauh untuk pasien dalam sekali perjalanan, maka ia dapat membagi jarak tersebut di waktu pagi dan sore hari. Tentu penyusunan jadwal, intensitas, dan waktu harus didiskusikan dengan dokter yang merawat disesuaikan dengan jadwal kerja pasien. Intinya, olahraga sangat berguna untuk kesehatan jantung pasien dan sangat aman bila dilakukan dengan benar. Syaratnya sebelumnya, mesti konsultasi dengan dokter spesialis penyakit jantung koroner dan pembuluh darah.

Solusi penting

Apabila pasien memilih berolahraga 6 kali dalam seminggu, ia harus berjalan sekitar 1,5 km setiap harinya dan apabila ia hanya memiliki waktu 3 kali dalam seminggu, ia harus berjalan setidaknya 3 km setiap hari. Apabila 3 km terlalu jauh untuk pasien dalam sekali perjalanan, maka ia dapat membagi jarak tersebut di waktu pagi dan sore hari. Tentu penyusunan jadwal, intensitas, dan waktu harus didiskusikan dengan dokter yang merawat disesuaikan dengan jadwal kerja pasien. Intinya, olahraga sangat berguna untuk kesehatan jantung pasien dan sangat aman bila dilakukan dengan benar. Syaratnya sebelumnya, mesti konsultasi dengan dokter spesialis penyakit jantung koroner dan pembuluh darah.

Namun, perlu pula diperhitungkan risiko dan manfaat yang didapat oleh penderita dengan berolahraga, meskipun dari penellitian yang telah dilakukan di Universitas Harvard, tampak bahwa olahraga memilki lebih banyak manfaat daripada kerugian asal dilakukan secara tepat bekerja sama dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu tidak ada istilah terlambat untuk memulai mengubah gaya hidup bagi para penderita penyakit jantung koroner dengan berolahraga, meskipun tentunya harus dengan pengawasan yang lebih ketat dan konsultasi dokter secara rutin.

Tetapi langkah yang terbaik bagi para pembaca adalah untuk memulai berolahraga sebelum penyakit jantung koroner mendahului kita. Di samping itu, cara hidup pasif atau sedentary lifestyle harus dihindari, ditambah dengan diet dan nutrisi yang seimbang, dan konsultasi kesehatan rutin untuk mendapatkan kesehatan yang maksimal sampai usia senja.