Keputihan pada Anak Kecil

DokterSehat.Com – Keputihan bisa terjadi pada siapa saja. Termasuk pada balita, bahkan bayi. Keputihan, adalah semua cairan yang keluar dari vagina selain darah.Keputihan dibedakan menjadi dua, yaitu keputihan normal dan patologis atau penyakit. Jadi, tidak semua keputihan adalah penyakit. Pada anak pun, keputihan normal juga bisa terjadi. Cara membedakannya adalah Pada keputihan normal, jumlahnya sedikit. Sedangkan keputihan penyakit, jumlahnya lebih banyak. Warna putih jernih untuk keputihan normal dan kuning, cokelat, kehijauan, bahkan kemerahan pada keputihan penyakit. keputihan normal, bau yang ditimbulkan tidak menyengat dan khas.

19

Pada keputihan penyakit, bau yang ditimbulkan bisa asam, amis, atau bahkan busuk. Pada keputihan normal cairan yang keluar biasanya agak lengket, sedangkan pada keputihan penyakit, cairannya bisa cair atau putih kental seperti kepala susu. Pada bayi atau anak, yang menjadi penyebab keputihan antara lain adalah kurangnya kebersihan daerah sekitar vagina dan lubang dubur,sekitar 70 % kasus disebabkan oleh hal ini.

Terbanyak disebabkan bakteri coli yang berasal dari feses (tinja) terjadi terutama kalau cebok arahnya dari belakang ke depan sehingga bakteri dari feses terbawa ke daerah kemaluan. Jadi membersihkan harusnya arahnya dari depan ke belakang. Penyebab lain yang sering adalah bakteri streptokokus dan stapilokokus yang ditularkan melalui tangan dari daerah mulut dan kerongkongan.

Kebiasaan anak yang duduk sembarangan oleh karena dareah kemaluannya belum menutup sempurna, maka mudah saja jamur, bakteri, dan benda asing masuk ke daerah itu,atau Menahan buang air kecil karena asyik bermain,akibatnya, air kencing menetes sedikit-sedikit yang membuat daerah itu rawan iritasi, lembap, dan gatal, pakaian kotor, popok basah,pakaian / celana yang terlalu ketat. Bahan kimia kosmetik, sabun, detergen yang menimbulkan iritasi.

Baca Juga:  Dokter Hari Martono

Pencegahan Keputihan Pada bayi dan anak adalah sebagai berikut :

  • Lebarkan posisi lutut bayi dan anak ketika buang air kecil. Ini perlu dilakukan agar air kencing tidak tertahan di sekitar vagina.
  • Keringkan alat kelamin bayi dan anak sesudah buang air kecil.
  • Bilas vagina bayi dan anak dengan benar, yaitu dari depan ke belakang.
  • jangan biarkan bayi dan anak rnandi terlalu lama, apalagi berendam. Hal ini perlu dilakukan agar vagina mereka tidak terlalu lembap.
  • Hindari membedaki area vagina.
  • Hindari penggunaan sabun secara langsung pada vagina bayi dan anak.
  • Jangan menggosok vagina bayi dan anak terlalu keras.
  • Jangan gunakan sabun mandi yang mengandung parfum.
  • Pilihlah pakaian dalam yang longgar dan terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat, sehingga vagina bayi dan anak tetap kering dan tidak lembap.
  • Biasakan mengganti pakaian dalam anak sekitar 2-3 kali sehari agar vaginanya tetap kering.
  • Kontrol kebersihan alat kelamin anak yang masih berusia 5-10 tahun.

Segera periksakan ke dokter jika anak mengeluh merasa sakit ketika buang air kecil, bahkan menahan buang air kecil.

Waspadalah jika anak mulai sering menggaruk vaginanya.

Perhatikan ada atau tidaknya bercak pada celana dalam bayi dan anak.