Kenali Gejala Lumpuh Otak

DokterSehat.Com – Pertama kali lumpuh otak ditemukan adalah pada tahun 1860 oleh ahli bedah yang bernama William Little. Tetapi hanya pada tahun 1897 ahli syaraf Sigmund Freud berhasil  mengetahui bahwa kondisi ini berasal dari sebab yang berbeda-beda yang terjadi pada saat perkembangan janin. Pada tahun 1980 beberapa ilmuwan dari Institut Nasional Kelainan Syaraf dan Stroke menyatakan bahwa beberapa kasus dari lumpuh otak sebenarnya bisa disebabkan oleh kekurangan persediaan oksigen yang terjadi terutama saat proses kelahiran.



Semua jenis dari kondisi ini ditandai dengan refleks, otot, koordinasi dan perkembangan motorik yang tidak normal. Gejala umumnya diketahui dari kejang-kejang, masalah dengan keseimbangan badan, berkurangnya massa otot, gaya berjalan yang tidak seimbang, dan beberapa pergerakan tubuh yang tidak disengaja lainnya.

Beberapa orang yang mengidap lumpuh otak adalah orang-orang yang mempraktekkan cara berjalan toe walking dan scissor walking. Akibat dari kondisi ini dapat terlihat mulai dari kecanggungan sederhana sampai ke pergerakan tubuh yang janggal dan kaku.

Bayi yang terlahir dengan kondisi ini biasanya mempunya postur tubuh yang tak beraturan. Hal ini bisa terlihat dari tubuh pasien yang bersangkutan yang kaku dan terkulai. Ada juga kemungkinan terjadi cacat lahir seperti  tulang rahang yang kecil, struktur tulang belakang melengkung dan kepala yang kecil. Dalam banyak kasus, gejala awal ini akan memburuk dan menjadi lebih serius di kala anak bertumbuh dan bertambah umur. Dalam banyak kasus juga, orang tua tidak sadar bahwa anaknya mengidap lumpuh otak. Pada umumnya, gejala lumpuh otak ini sudah mulai tampak pada bayi di bawah umur satu tahun.

Ada kemungkinan juga bahwa ada kondisi sekunder yang muncul secara alami dengan adanya lumpuh otak ini. Diantaranya adalah epilepsi, kekejangan, makan dengan cara abnormal, keterbelakangan mental, kelainan tingkah laku dan kerusakan sensorik. Gejala sekunder ini hampir tidak bisa dirasakan oleh beberapa orang.

Baca Juga:  Cara Ampuh Sembuhkan Spondilitis Ankilosis

Kelainan dalam berbicara dan kecepatan sangat sering ditemui pada pasien pengidap lumpuh otak. Dysarthria atau kesulitan mengeja kata-kata umum terjadi pada sekitar 31% sampai 88% kasus yang ditemui. Kesulitan berbicara ini juga berhubungan dengan kontrol pernapasan, velopharyngeal dysfunction (kerusakan mekanisme antara rongga mulut dan rongga hidung), dan masalah tenggorokan. Kasus-kasus umum yang bisa digolongkan ke dalam 3 jenis dasar dari lumpuh otak adalah spastik (paling umum), ataxic (kedua yang sering ditemui), dan atetoid atau dyskinetic (yang terjadi hanya pada beberapa orang.)

Ada juga keterlambatan berbicara yang berhubungan dengan masalah-masalah seperti keterbelakangan mental, ketidakberdayaan, dan kerusakan pendengaran. Pada banyak kasus, anak-anak lumpuh otak umumnya lebih cenderung beresiko mengalami perasaan tidak berdaya. Mereka cenderung pasif dalam berkomunikasi dan hampir tidak pernah memulai komunikasi dengan orang lain.

Penanggulangan awal ditujukan supaya anak yang mengalami lumpuh otak dapat berkomunikasi dengan orang lain. Dengan cara ini mereka belajar sendiri bahwa mereka dapat mengontrol diri dan barang-barang di sekitarnya dapat pula digunakan dalam berkomunikasi.

Aktivtas otak yang terkena lumpuh otak cenderung tidak berubah seiring dengan perkembangan waktu. Karena itulah gejala-gejala utama ini sering menjadi lebih buruk dengan bertambahnya usia.  Lumpuh otak pada anak-anak bisa juga terjadi pada waktu yang sama dengan kelainan syaraf yang lainnya seperti  kekejangan dan keterbelakangan mental. Gejala-gejala lainnya adalah cara berjalan asimetris, meneteskan air liur secara berlebihan, kesulitan dalam mengisap, menelan atau bahkan berbicara, dan kesulitan dalam melakukan pergerakan yang membutuhkan ketepatan, seperti memasang kancing baju atau menulis.

Penderita lumpuh otak juga ditemukan sering gemetar dalam banyak kasus.