Kenali Dan Waspadai Perilaku Seksual Yang Menyamping Di Sekitar

DokterSehat.Com – Beberapa waktu yang lalu kita dikagetkan dengan kasus AS atau Emon yang mencabuli lebih dari seratus anak laki-laki di Sukabumi dan juga kasus kekerasan seksual yang terjadi di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Istilah Pedofilia mengemuka. Apa sebenarnya Pedofilia tersebut? Bagaimana seseorang menjadi Pedofil (sebutan bagi orang yang Pedofilia)? Dan yang paling penting, apa yang bisa kita lakukan jika menemukan Pedofil di sekitar kita?



Pedofilia merupakan salah satu bentuk Parafilia yaitu sekelompok gangguan mental yang melibatkan ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak biasa atau aktivitas seksual yang tidak biasa. Pada orang yang mengidap gangguan Pedofilia, objek yang dapat memberikan kepuasan seksual baginya ialah anak prapubertas. Jadi, para Pedofil ini ialah orang dewasa yang memperoleh kepuasan seksual melalui kontak fisik dan seksual dengan anak prapubertas.

Apa yang menyebabkan seseorang mengidap gangguan perilaku seksual menyimpang atau salah satunya Pedofilia? Menurut pandangan Psikodinamika, orang yang mengidap Parafilia ialah seseorang yang takut pada hubungan heteroseksual (hubungan antara laki-laki dan perempuan) yang konvensional, bahkan untuk hubungan yang tidak berkaitan dengan seks. Orang seperti ini mengalami masalah/hambatan dalam perkembangan keterampilan sosial dan perkembangan seksualnya. Ia tidak mampu menjalin hubungan sosial maupun hubungan seksual yang wajar dalam dunia orang dewasa.

Sedangkan ahli/ilmuwan Cognitive-Behavioral memiliki beberapa pandangan lain yaitu :

  • Parafilia merupakan hasil pengkondisian atau pembelajaran, bahwa apabila seseorang merangsang dirinya dengan suatu cara tertentu yang ternyata dianggap tidak wajar secara sosial ia memperoleh kepuasan, ia lalu mengulanginya sehingga tercipta perilaku parafilia.
  • Masa kanak-kanak sebagian besar orang yang mengidap parafilia menunjukkan mereka seringkali merupakan korban penyiksaan fisik dan seksual dan tumbuh dalam keluarga dimana hubungan antara kedua orang tuanya terganggu. Pengalaman ini dapat berkontribusi terhadap rendahnya tingkat keterampilan sosial, rendahnya kepercayaan diri, rasa kesepian, dan tidak adanya hubungan yang intim, sehingga mereka berusaha mencari kepuasan seksual dengan cara-cara yang dianggap tidak wajar (karena mereka mampunya begitu).
  • Distorsi (kekacauan) kognitif (menganggap wajar hal yang tidak wajar, banyak  pemikiran yang irasional).

Para pengidap Parafilia umumnya memiliki latar keluarga dengan hubungan emosional berjarak (tidak dekat secara emosi), nilai-nilai tidak jelas/tidak konsisten, ekspresi emosi di keluarga yang tidak wajar (misalnya menunjukkan rasa sayang berlebihan, marah berlebihan), atau hubungan emosi double bind (orangtua posesif tapi menelantarkan pada saat yang bersamaan), dan adanya riwayat kekerasan fisik dan seksual di dalam keluarga.  Kesimpulannya dalam keluarga itu sendiri sudah terdapat patologis.

Gangguan Parafilia biasanya mulai tampak pada usia remaja, dan seringkali ini gagal diidentifikasi keluarga karena keluarga itu sendiri bermasalah. Biasanya mulai teridentifikasi setelah masalah muncul. Orang tersebut  ketahuan melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak, barulah ia diketahui sebagai pengidap Parafilia atau Pedofilia. Yang perlu kita

ketahui pula, seseorang mungkin menampilkan satu atau lebih Parafilia, dan pola ini mungkin merupakan aspek dari gangguan mental lain seperti skizofrenia, depresi, atau salah satu gangguan kepribadian.

Baca Juga:  Pilek Bisa Menyebabkan Kematian

Apa yang bisa kita lakukan bila menemukan seseorang yang mengidap gangguan Parafilia atau Pedofilia di sekitar kita? Bawa ke psikolog untuk diterapi. Semakin cepat diketahui dan diterapi, semakin sedikit korban dan semakin besar probabilitas perubahan perilaku. Apabila dibutuhkan obat-obatan, psikolog akan bekerjasama dengan psikiater dalam penanganan. Akan tetapi, bila sudah melibatkan tindakan kriminal seperti kasus Emon tersebut tentu

itu menjadi ranah polisi terlebih dahulu.

Terapi yang efektif biasanya melibatkan berbagai bentuk terapi (kognitif dan behavioral)  lalu kemudian juga disertai pelatihan peningkatan keterampilan sosial. Terapi membutuhkan waktu. Dan hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan Parafilia bisa sembuh total (tidak kambuh lagi gangguannya seumur hidup) dikarenakan keterbatasan dalam penelitian yang bisa dilakukan terhadap kasus Parafilia ini.

Tips bagi orangtua guna mencegah anak-anaknya memiliki perilaku seksual

yang menyimpang :

  • Ciptakan kedekatan emosional dalam keluarga dengan menciptakan pola komunikasi yang penuh kasih sayang, pengertian, dan keterbukaan.
  • Berikan waktu untuk keluarga. Dampingi anak dalam bermain dan menonton. Ajaklah mengobrol tentang aktivitas dan perasaannya. Bimbinglah ia untuk memahami hal-hal yang baru ditemuinya sehingga ia dapat memperoleh pemahaman yang benar akan hal tersebut.
  • Terapkan nilai-nilai yang jelas dan konsisten dalam keluarga.
  • Lakukan kegiatan rekreasi dan ibadah bersama, ini memperkuat hubungan antar anggota keluarga dan meningkatkan iman.
  • Terimalah satu sama lain apa adanya. Bersikap terbuka dan penuh kasih sayang, tidak hanya bisa mengkritik dan mencari kesalahan. Ini akan membuat anak lebih terbuka terhadap apa yang ia rasakan, dapat memahami dan menerima dirinya sendiri, dan lebih percaya diri. Dengan demikian anak tidak mudah terpengaruh oleh nilai-nilai yang salah dimanapun ia berada dan mampu membawa diri dalam pergaulan.

Jenis Parafilia lainnya

  • Fetishism
    ketergantungan seseorang pada objek yang tidak hidup untuk memperoleh rangsangan seksual. Penderitanya kebanyakan laki-laki. Misalnya terangsang dengan pakaian dalam wanita atau sepatu wanita.
  • Transvertic Fetishism
    Gangguan dimana seorang laki-laki terangsang secara seksual apabila ia mengenakan pakaian ataupun perlengkapan perempuan lainnya.
  • Inses
    Hubungan seksual antara keluarga dekat, dimana pernikahan tidak diperbolehkan antara mereka.
  • Voyeurism
    Preferensi yang nyata untuk memperoleh kepuasan seksual dengan melihat orang lain dalam keadaan tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual.
  • Eksibisionisme
    Preferensi yang jelas dan berulang untuk memperoleh kepuasan seksual dengan mempertunjukkan alat kelaminnya pada orang lain yang tidak menghendakinya, terkadang pada anak-anak.
  • Frotteurism
    Orientasi seksual dengan menyentuh orang yang tidak disangka-sangka. Pelaku (laki-laki) mungkin menggosokkan alat kelaminnya pada paha atau pantat seorang perempuan, atau memegang payudara atau alat kelamin seorang perempuan. Biasanya dilakukan di tempat-tempat yang memungkinkan pelaku melarikan diri, misalnya bus yang ramai atau jalanan.
  • Sadisme dan masokisme seksual.
    Sadisme: kegemaran untuk memperoleh atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menimbulkan kesakitan (fisik) atau mempermalukan orang lain.
  • Masokisme
    kegemaran untuk memperoleh atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menjadikan dirinya sebagai objek yang disakiti atau dipermalukan.