Kelancaran Persalinan Dipengaruhi Tinggi Badan dan Pinggul Ibu?

DokterSehat.com – Tinggi badan dan ukuran pinggul kerap dikaitkan dengan kelancaran proses persalinan. Sering terdengar anggapan bahwa wanita pendek dan berpinggul sempit akan mengalami proses persalinan yang sulit. Benarkah demikian?



Pada dasarnya proses persalinan didukung oleh 3 faktor, yakni tenaga dari ibu (power), jalan lahir (passage), dan bayi (passanger). Power merupakan kekuatan, regularitas, efektivitas dari kontraksi rahim, dan tenaga mengedan ibu. Passage adalah ukuran dan bentuk tulang panggul serta ada tidaknya sesuatu yang menghalangi jalan lahir, termasuk jaringan  seperti otot dan kulit. Sementara passanger adalah ukuran, letak, presentasi, dan posisi bayi yang akan melewati jalan lahir. Secara sederhana bisa terjadi kondisi-kondisi seperti berikut ini:

1. Ibu yang kapasitas panggulnya normal, berat bayinya tidak besar, namun bila kontraksi dan tenaga mengedannya kurang kuat maka bisa menyebabkan persalinan tidak berlangsung lancar.

2.  Ibu yang panggulnya normal, tenaga mengedannya baik, dan kontraksinya adekuat, namun berat badan bayi melebihi 4000 gram maka kemungkinan persalinannya juga tidak berlangsung lancar.

3. Ibu dengan kontraksi dan tenaganya yang adekuat, berat badan bayi hanya 2700 gram, memiliki postur tubuh normal, namun pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan panggulnya menjadi tidak normal kemungkinan tidak bisa melakukan persalinan normal.

Pada ibu yang memiliki postur tubuh kecil dan kapasitas panggul yang kecil memang membutuhkan perhatian lebih berkaitan dengan kelancaran proses persalinan. Bahkan, ukuran sepatu juga menjadi pertimbangan.

Penelitian tahun 1980an melaporkan bahwa ibu yang memiliki tinggi badan kurang dari 152 cm dan ukuran sepatu kurang dari 5,5 maka dipastikan tidak bisa melahirkan secara normal. Sayangnya, hasil penelitian ini tidak cukup membuktikan kebenarannya, dilaporkan 80% wanita yang memiliki tinggi badan kurang dari 160 cm bisa melalui proses bersalian secara normal. Karena itu, tinggi badan lebih dipertimbangkan ketimbang ukuran sepatu.

Baca Juga:  Gejala Kanker yang Kerap Diabaikan

Sebenarnya pengukuran kapasitas panggul ibu bisa dilakukan dengan pemeriksaan radiologis di luar masa kehamilan. Sementara pada masa kehamilan, pengukuran panggul dilakukan setelah usia kehamilan mendekati aterm, sebab pada saat itu otot-otot dan jaringan ikat panggul relatif melunak sehingga tidak senyeri pada usia kehamilan lebih muda.

Bayi yang memiliki berat lebih dari 4000 g diduga menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan normal. Tapi, kini yang menjadi perhatian justru diameter kepala dan lingkar kepala bayi. Kerap terjadi kasus bayi yang memiliki berat di bawah 4000 g tapi tidak bisa lahir secara normal. Dari kasus tersebut disimpulkan bahwa meski berat bayi kurang dari 4000 g tapi diameter dan lingkar kepalanya besar maka bisa menyulitkan untuk masuk ke pinggul ibu. Akibatnya, bayi tidak bisa dilahirkan secara normal.