Kasus TBC Meningkat, WHO Kenalkan OAT Ramah Anak

DokterSehat.Com – Tuberkulosis (TBC)  di Indonesia bisa digolongkan sebagai penyakit re-emerging. Artinya, penyakit ini dulu pernah menjadi wabah di masa lampau namun kemudian mengalami penurunan kasus dan sekarang jumlah kasusnya kembali banyak. TBC tidak hanya ditemukan di masyarakat dengan sosial ekonomi rendah, tak jarang pula ditemukan di masyarakat menengah ke atas. Walaupun organ yang paling diserang adalah paru, tetapi banyak pula ditemukan kasus TBC ekstraparu, seperti pleuritis TBC, limfadenopati TBC, dan meningitis TBC.

doktersehat-anak-kecil-dokter

Penyebab TBC adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dikenal khas karena bentuknya batang dan sifatnya yang tahan asam sehingga mudah ditentukan dari pengecatan kuman. Untuk TBC paru pada dewasa, gejalanya cukup khas, antara lain batuk berdahak putih kekuningan selama lebih dari dua minggu, bisa disertai batuk darah, demam yang tidak terlalu tinggi namun menetap hingga beberapa minggu, rasa lemas, nafsu makan turun, dan kehilangan berat badan yang cukup signifikan. Sedangkan pada TBC paru anak, gejala-gejala tersebut tidak khas. Lagipula, anak mungkin kesulitan untuk mengeluarkan sputum, yang merupakan bahan terbaik untuk memeriksa ada tidaknya kuman TBC.

Untuk mendiagnosis TBC paru anak terdapat sebuah sistem skoring, dimana item yang paling signifikan adalah adanya kontak dengan penderita TBC, hasil tes Mantoux, dan status gizi anak.

Pengobatan TBC cukup membosankan karena pasien diharuskan minum obat secara teratur setiap hari selama enam bulan. Terlebih lagi anak-anak. Pasien TBC anak harus meminum tablet yang sama seperti dewasa dan kebanyakan harus minum versi puyer dari tablet tersebut. Tentunya ini tidak enak dan sulit untuk membuat anak-anak patuh minum obat setiap hari selama enam bulan. Hal inilah yang menyebabkan banyak pasien TBC anak tidak menyelesaikan pengobatannya.

Baca Juga:  Politisi Sutan Bhatoegana Sedang Menderita Penyakit Sirosis Hati yang Berbahaya

Oleh karena itu WHO mendorong produsen obat untuk mengembangkan obat-obatan TBC, khususnya untuk pengembangan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) yang kid-friendly. Hasilnya, pada Union World Conference on Lung Health tahun ini di Cape Town, Afrika Selatan, para peneliti meluncurkan OAT yang kid-friendly. Obat ini hadir dengan ukuran yang lebih kecil dan dosis yang telah disesuaikan untuk anak-anak. Tersedia rasa strawberry dan raspberry dan diminum dengan cara dilarutkan dalam air.

Saat ini obat tersebut telah disetujui oleh WHO dan pemerintah berbagai negara telah me-review obat ini. Kenya misalnya, telah melakukan pemesanan dan distribusi obat ini akan dimulai dua hingga tiga bulan ke depan.

Hingga saat ini TBC masih menjadi salah satu paling mematikan, walaupun sebenarnya dapat disembuhkan. Berdasarkan statistik WHO tahun 2015, 1,5 juta warga dunia meninggal akibat TBC dan 140.000 di antaranya adalah anak-anak.Diharapkan, formulasi baru ini dapat mengurangi jumlah kasus TBC anak di seluruh dunia. Dan semoga, OAT yang kid-friendly ini dapat segera beredar di Indonesia.

 

Sumber: World Health Organisation (WHO)