Kasus KLB Difteri di Berbagai Tempat, Waspadai Gejala Penyakit Ini

DokterSehat.Com– Belakangan ini di beberapa provinsi di Indonesia sedang terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri. Wabah penyakit ini tiba-tiba saja memakan begitu banyak korban di banyak tempat meskipun pemerintah sudah berusaha dengan sebaik mungkin melakukan imunisasi demi mencegah munculnya penyakit ini. Agar keluarga kita tidak ada yang terkena penyakit berbahaya ini, ada baiknya kita mengenal lebih dalam tentang difteri.

doktersehat-anak-sakit-termometer

Salah satu kesulitan untuk mengenali gejala awal dari difteri adalah kecenderungannya yang mirip dengan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Hal ini membuat korbannya terlambat untuk ditangani secara medis. Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. HM Subuh, MPMM, gejala difteri memang sama dengan masalah infeksi saluran nafas akut dan hanya bisa dibedakan oleh dokter yang memeriksa, yakni berupa demam, batuk, sesak nafas, dan mirip-mirip dengan flu. Hanya saja, penderita difteri akan mengalami bercak-bercak berwarna putih tebal pada tenggorokannya. Selama masa inkubasi penyakit yang berlangsung 2 hingga 5 hari, penderitanya juga akan mengalami demam.

Difteri bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal usia meskipun anak-anak dengan usia 5 hingga 9 tahun menjadi yang paling beresiko terkena penyakit ini. Yang menjadi masalah adalah, jika ada satu saja orang yang terkena, anggota keluarganya atau tetangganya yang memiliki kekebalan tubuh rendah bisa saja tertular. Karena alasan inilah penderita difteri harus segera ditangani secara medis dengan baik agar tidak sampai menularkannya pada orang lain. Biasanya, mereka akan mendapatkan obat suntik khusus anti difteri yang sayangnya persediaannya cenderung terbatas.

Untuk mencegahnya, tentu saja kita harus melakukan imunisasi yang bisa mencegah difteri. Konsultasikan pada dokter untuk mendapatkan imunisasi tersebut, apalagi jika kita belum pernah mendapatkannya atau ingin melakukan imunisasi ulang.