Kasus Kanker Naik 75 Persen Pada 2030

Doktersehat.com – Kanker bukanlah suatu penyakit yang ringan. Langkah awal dalam pengobatan penyakit kanker adalah deteksi dengan benar bahwa gejala yang muncul pada tubuh pasien adalah benar-benar sel kanker ganas. Deteksi ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan biopsy, sehingga langkah pengobatan bisa dilakukan secara cepat dan tepat. Langkah berikutnya adalah terapi pengobatan dengan cara konvensional. Namun pada kenyataannya pengobatan dengan cara ini sering kali kanker belum bisa diatasi secara total. Disinilah peran tanaman obat/herbal.



Ini adalah kabar yang mesti diwaspadai dan diantisipasi. Kajian para ahli menunjukkan, kasus kanker di dunia diperkirakan bakal melonjak hingga 75 persen pada 2030 mendatang. Peningkatan kasus kanker paling tinggi diramalkan terjadi di negara-negara termiskin dengan proyeksi kenaikan bisa mencapai 90 persen.

Seperti yang dilaporkan dalam jurnal The Lancet Oncology edisi online pada Kamis (31/52012), para ilmuwan menyatakan bahwa rata-rata jenis kanker tertentu seperti kanker serviks dan kanker perut diramalkan menurun di negara-negara berkembang. Tetapi, penurunan ini kemungkinan akan diimbangi oleh melonjaknya berbagai jenis kanker yang berkaitan dengan gaya hidup “barat”, seperti kanker payudara, prostat dan kolorektal.

Dalam risetnya, para ahli menganalisa data kanker International Agency for Research on Cancer (IARC) dari 184 negara pada 2008 lalu. Analisa ini dimaksudkan untuk menguji bagaimana tren kanker saat ini yang bervariasi di berbagai negara berdasarkan tingkat pembangunan, yang diukur berdasarkan indeks pembangunan manusia (Human Development Index/HDI).

Saat ini, negara-negara dengan tingkat HDI rendah (seperti di negara sub-Sahara Afrika) memiliki kasus kanker yang tinggi untuk jenis yang berkaitan dengan infeksi seperti kanker serviks, kanker hati, kanker perut dan tumor Kaposi Sarkoma. Negara-negara dengan tingkat HDI lebih tinggi (seperti Australia, Brazil, Rusia dan Inggris ) memiliki rata-rata kanker yang tinggi untuk jenis yang berkaitan dengan merokok (kanker paru), faktor-faktor reproduktif, obesitas dan diet (payudara, prostat dan kolorektal).

Baca Juga:  Tak Disangka, Tanaman Ternyata Juga Bisa Terkena Kanker

Membaiknya standar kesejahteraan pada negara-negara yang HDI-nya rendah dapat menurunkan kasus kanker yang berkaitan dengan infeksi. Tetapi negara-negara ini juga bisa mengalami peningkatan yang drastis pada jenis-jensi kanker yang kini berkembang di negara dengan rata-rata HDI lebih tinggi, kata peneliti dalam laporannya.

Rata-rata kasus kanker bisa meningkat hingga 93 persen di negara dengan HDI rendah pada 2030 nanti, dan pada periode yang sama peningkatan sebesar 78 persen bakal terjadi di negara-negara dengan HDI menengah (seperti Afsel, China dan India), menurut pimpinan riset Dr. Freddie Bray dari IARC.

Peneliti juga menemukan, rata-rata kanker prostat dan kanker payudara akan meningkat di negara-negara dengan HDI menengah, tinggi, atau sangat tinggi. Selain itu, rata-rata kasus kanker perut dan kanker serviks secara umum akan mengalami penurunan di negara-negara dengan HDI menengah , tinggi atau sangat tinggi.

Kanker paru saat ini bukan merupakan jenis kanker yang banyak ditemukan di negara dengan HDI rendah, tetapi akan berubah jika kebiasaan merokok tidak diatur secara efektif di negara-negara ini. Para peneliti juga menemukan bahwa 40 persen kasus kanker di seluruh dunia pada 2008 terjadi di negara-negara dengan tingkat HDI sangat tingi, meskipun mereka hanya berpenduduk 15 persen dari populasi dunia.

Sebelumnya, IARC pernah membuat prediksi, bahwa pada tahun 2030, akan ada 26 juta kasus baru kanker dan 17 juta orang di antaranya akan meninggal akibat kanker.

Sumber : health.kompas.com & cancerhelps.com