Kasus Gizi Buruk Pada Dua Balita di Kendari, Benarkah Karena Konsumsi Susu Kental Manis?

DokterSehat.Com– Salah satu makanan yang paling sehat bagi tubuh kita adalah susu. Sayangnya, belakangan ini masyarakat cukup ragu dengan manfaat dari salah satu susu paling terjangkau di pasaran, yakni susu kental manis. Apalagi dengan adanya kasus dua balita yang mengalami gizi buruk dan busung lapar di Kendari, Sulawesi Tenggara yang diduga disebabkan oleh kebiasaan orang tuanya memberikan susu kental manis. Sebenarnya, apakah susu kental manis memang bisa memberikan dampak kesehatan tersebut?

Pihak rumah sakit yang merawat salah satu balita yang bernama Adam menyebutkan bahwa orang tuanya, Tunru, memang selalu memberikan susu kental manis. Memang, kini susu ini sudah diganti dengan susu formula, namun, kita masih bertanya-tanya apakah susu kental manis memang sebaiknya tidak dikonsumsi oleh bayi atau balita?

Dr. Astrid Wulan Kusumoastuti menyebutkan bahwa di dalam susu kental manis, kita bisa menemukan kandungan lemak jenuh, protein, karbohidrat, gula, natrium, kalium, vitamin, niasin, kolin, kalsium, dan fosfor dengan jumlah yang sangat tinggi. Susu ini memang bisa memberikan manfaat bagi kesehatan anak, namun, ternyata memang kurang baik jika dikonsumsi balita. Salah satu dampak balita mengkonsumsi susu kental manis adalah munculnya diare karena tingginya kadar gula dan lemak dari susu ini.

Untuk masalah apakah susu ini bisa menyebabkan busung lapar dan gizi buruk sebagaimana yang dialami oleh kedua balita dari Kendari ini, pakar kesehatan menyebutkan bahwa masalah kesehatan ini bisa dipicu oleh banyak sekali faktor, tidak hanya karena karena susu kental manis saja. Namun, jika anak masih dalam fase menyusui, ada baiknya mereka diberi ASI yang memiliki nilai gizi jauh lebih baik. Sementara itu, jika anak sudah berada dalam fase balita, ada baiknya orang tua tidak memberikan susu kental manis yang memiliki kandungan gula dan lemak yang terlalu tinggi sehingga kurang baik bagi kesehatan. Orang tua juga sebaiknya selalu memastikan keseimbangan gizi dalam makanan yang diberikan pada anak demi mendukung perkembangan dan kesehatannya.