Kapankah Sebaiknya Kita Mengganti Alat Cukur?

DokterSehat.Com – Salah satu peralatan yang digunakan oleh pria dan wanita dewasa adalah alat cukur. Dengan peralatan ini, mereka bisa mencukur bulu di berbagai tempat di tubuh mereka, dari kumis, jenggot, bulu ketiak, atau bahkan bulu kemaluan. Setelah digunakan beberapa waktu, alat cukur biasanya mulai kehilangan ketajamannya dan cenderung lebih kasar saat digunakan. Apakah hal ini menjadi tanda jika kita perlu mengganti alat cukur?



Pakar kesehatan dermatologi yang bernama Whitney Bowey berkata jika kebanyakan orang tidak begitu memperhatikan penempatan alat cukurnya. Banyak dari kita yang dengan enteng meninggalkannya di dalam kamar mandi atau dekat dengan wastafel. Padahal, andai kita menempatkan alat cukur di tempat yang cenderung lembab, maka alat cukur akan lebih mudah berkarat dan tentu akan kehilangan ketumpulannya. Alih-alih menunggu hingga tumpul sehingga bisa memicu lecet-lecet atau iritasi pada kulit yang dicukur, Bowey menyarankan kita untuk segera mengganti alat cukur tersebut setelah lima atau tujuh kali digunakan.

Karena kebiasaan kita menempatkan alat cukur di tempat yang cenderung lembab dan basah, apalagi jika kita tidak membungkusnya dan membiarkannya dalam kondisi terbuka, maka bisa dipastikan alat cukur ini juga akan lebih mudah terpapar berbagai macam bakteri. Bowey berkata jika andai kita menemukan lepuhan kecil pada kulit setelah bercukur, hal ini disebabkan oleh kombinasi antara alat cukur yang sudah tumpul dan juga adanya paparan bakteri yang sudah menempel pada alat cukur tersebut. Yang menjadi masalah adalah, bakteri ini bisa saja memasuki bagian kulit yang sudah terkelupas oleh alat cukur dan akhirnya memicu iritasi.

Lantas apakah ada cara yang bisa kita lakukan agar alat cukur tidak mudah tumpul dan terpapar bakteri? Ada baiknya kita segera membilas alat cukur dengan air bersih dan kemudian simpan di tempat yang kering, bukan di tempat yang basah layaknya dekat dengan wastafel atau di kamar mandi.