Kanker Otak Ternyata Menjadi Pembunuh Anak Nomor Satu di Amerika Serikat

DokterSehat.Com – Otoritas kesehatan Amerika Serikat, yakni Centers for Disease Control and Prevention atau CDC menyebutkan jika penyakit yang menjadi pembunuh anak nomor satu di Negara adidaya tersebut. Bahkan, jumlah kematian yang disebabkan penyakit ini jauh lebih banyak dari kanker darah atau leukemia. Hal ini sangatlah kontras mengingat pada tahun 1999 lalu, setidaknya sepertiga anak yang meninggal karena kanker adalah yang menderita leukemia dan satu dari empat anak yang meninggal adalah penderita kanker otak. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

doktersehat-brain-otak-alzheimer-kanker

Pakar keseahtan Sally Curtin dari CDC menyebutkan jika adanya kemajuan di bidang penanganan leukemia ikut bertanggung jawab akan semakin tingginya harapan penderita kanker darah ini untuk sembuh. Bahkan, sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Center for Health Statistics, angka penderita kanker leukemia ini cenderung menurun drastis yakni sekitar 20 persen semenjak tahun 1999. Pada tahun 1999, penderita kanker leukemia yang meninggal bisa mencapai 645 anak dan pada tahun 214 kemarin, angka ini menurun tajam hingga hanya menjadi 445 anak.

Hanya saja, kanker tetap saja menjadi momok bagi kesehatan siapa saja, termasuk diantaranya adalah anak-anak. Data yang diambil pada tahun 2014 saja menunjukkan jika ada 100 ribu anak dan remaja dengan rentang usia satu hingga 19 tahun yang mengidap penyakit mematikan ini. 2,28 persen diantaranya atau sekitr 2280 anak harus rela meregang nyawa karenanya. Salah satu penyebab dari ribuan anak yang meninggal ini adalah kanker otak yang pada tahun 2014 kemarin membunuh setidaknya 534 anak, jauh meningkat dari 516 anak pada tahun 1999.

Curtin menyebutkan jika tidak seperti leukemia, harapan hidup bagi penderita kanker otak memang rendah mengingat kanker ini sangat sulit diobati. Pembuluh darah di otak yang melindingi pusat saraf dari banyaknya racun ternyata juga ikut mengalangi efek dari kemoterapi sehingga kerap kali terapi ini kurang berhasil menyembuhkan penyakit ini. Pakar kesehatan sendiri berusaha keras melakukan berbagai penelitian agar penyakit ini bisa segera dicari solusinya di masa depan.