Jarak Aman Kehamilan Setelah Melahirkan

DokterSehat.com – Normal saja bila beberapa pasangan menyegerakan untuk mendapat momongan lagi setelah kelahiran anak pertama. Meski begitu, penting sekali bagi orangtua untuk mengatur jarak kehamilan supaya terhindar dari segala risiko yang merugikan.



Jarak kehamilan yang terlalu dekat dengan kehamilan sebelumnya bisa menimbulkan banyak risiko baik pada ibu ataupun janin. Kondisi rahim yang belum benar-benar pulih setelah persalinan sebelumnya belum bisa maksimal dalam membentuk cadangan makanan bagi janin dan ibu. Akibatnya, bayi bisa lahir dengan berat badan rendah atau kekurangan zat gizi sehingga bayi menjadi tidak sehat. Bayi juga berisiko mengalami kelainan plasenta.

Pada penelitian terakhir menunjukkan bahwa bayi yang jarak kehamilannya terlalu dekat berisiko terkena autisme. Kondisi akan mengurangi kualitas dari bayi dan ibu pun berisiko terkena anemia akut. Jika terkena anemia akut maka ibu rentan mengalami komplikasi kehamilan, perdarahan, bayi lahir prematur, perdarahan saat persalinan, bahkan keguguran.

Jarak kehamilan yang aman kami sarankan adalah antara 18 sampai 48 bulan sejak dari persalinan sebelumnya. Secara medis jarak 12 bulan pun Anda sudah bisa hamil lagi, namun sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter. Jarak kehamilan yang aman memberi kesempatan rahim untuk beristirahat sehingga bisa menyiapkan asupan nutrisi untuk bayi bisa berjalan baik. Alhasil, bayi bisa tumbuh sehat dan terhindar dari segala risiko yang merugikan.

Untuk mengatur jarak kehamilan Anda bisa menggunakan sistem kalender. Perhatikan waktu ovulasi Anda yang bisa diketahui dari siklus haid serta kenaikan hormon LH yang drastis selama beberapa jam sampai satu hari sebelum ovulasi.

Kenaikan suhu basal tubuh yang dapat dideteksi menggunakan termometer rektal, perubahan konsistensi lendir rahim yang menjadi lebih tipis dan mulur, dan rasa tidak nyaman pada bagian perut bawah yang terkadang disertai spotting.

Baca Juga:  Pelihara Kucing Saat Hamil, Bahayakah?

Sebaiknya jangan berhubungan intim pada waktu lima hari sebelum ovulasi hingga tiga hari sesudahnya. Pada masa ini jangan lakukan hubungan seks baik di vagina maupun di dubur. Bisa juga dilakukan azl, yakni menarik batang penis sebelum ejakulasi sehingga ejakulasi terjadi di luar tubuh istri. Hal ini dilakukan untuk menghindari pembuahan yang bisa mengakibatkan terjadinya kehamilan.

Cara lainnya adalah dengan menggunakan kondom. Meskipun demikian, cara ini masih memiliki peluang meskipun sangat kecil untuk terjadinya kehamilan.