Jangka Waktu Pemeriksaan Kehamilan

Doktersehat.com – Pemeriksaan kehamilan menjadi bagian dari  ANC (Antenatal Care). Antenatal Care dapat membantu mencegah berbagai masalah yang muncul pada masa hamil termasuk munculnya risiko kematian ibu yang disebabkan kehamilan.



Antenatal Care meliputi pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi ibu hamil dan janin, mempersiapkan persalinan, serta memberikan info selengkapnya pada orangtua terkait proses persalinan yang akan dijalani. Pemeriksaan rutin bertujuan untuk mengawal kehamilan supaya dapat berjalan normal, sehingga ibu dan anak berada dalam kondisi sehat.

“Jangka waktu pemeriksaan berbeda, bergantung pada usia kehamilan. Makin tua usia kehamilan, jangka waktu semakin rapat,” kata spesialis kandungan dr Bramundito SpOG dari Rumah Sakit Pondok Indah, pada temu media bertajuk Antenatal Care untuk Antisipasi Risiko Kehamilan, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bram menyarankan, untuk kehamilan awal sampai 28 minggu, pemeriksaan dilakukan sebulan sekali. Durasi meningkat jadi 2-3 kali dalam seminggu hingga kehamilan menginjak pekan ke 36. Pemeriksaan menjadi satu kali dalam seminggu hingga memasuki minggu-minggu kelahiran. Kelahiran biasanya terjadi pada pekan ke 38 sampai 40.
“Untuk pemeriksaan awal sebaiknya dilakukan sedini mungkin, walau calon ibu belum hamil. Pada tahap ini bisa dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium terhadap kondisi calon ibu,” kata Bram.

Melalui pemeriksaan yang mencakup penilaian kesehatan dan potensi hipertensi, diabetes, atau kehamilan berisiko tinggi ini, bisa diketahui apakah calon ibu siap hamil. Jika saat pemeriksaan awal ibu sudah hamil, maka sedini mungkin bisa dilakukan pantauan kondisi dan posisi janin.

“Pemeriksaan ultrasonografi (USG) awal sedini mungkin akan memudahkan pantauan pergerakan janin. Selanjutnya bisa diperkirakan apakah bayi lahir normal atau sungsang, termasuk proses kelahiran yang dijalani,” terangnya.

Baca Juga:  Pentingkah memantau Tumbuh Kembang Anak?

Pada setiap kunjungan, Bram memastikan tiap ibu hamil melakukan beberapa pemeriksaan rutin. Pemeriksaan ini adalah tekanan darah, berat badan, urin, ukuran uterus, bunyi jantung dan gerakan janin, kontraksi yang mungkin terjadi, potensi pendarahan serta pecah ketuban.

Pemeriksaan urin, kata Bram, bertujuan mengetahui potensi infeksi, preeklamsia, dan diabetes. Hal ini dimungkinkan karena melalui pemeriksaan urin akan diketahui kadar glukosa, protein, dan ada tidaknya darah.

Hal yang sama juga terjadi pada cek darah dan tekanannya secara rutin. Untuk usia kehamilan lebih dari 24 minggu, Bram menyarankan ibu bertanya tentang pergerakan janin. Selain itu Bram menyarankan ibu hamil mengeluarkan semua keluhannya supaya dicatat, dan dipastikan kondisinya baik-baik saja.

“Jangan lupa untuk menanyakan ada tidaknya kista dan kondisi rahim. Untuk kehamilan yang memasuki minggu ke-36 tanyakan bagian paling bawah,” saran Bram.

Penilaian bagian paling bawah bisa digunakan untuk memperkirakan proses persalinan yang dijalani. Selama pemeriksaan, ibu hamil harus aktif bertanya dan mencari pengetahuan terkait kondisinya. Hal ini akan membantu ibu cepat tanggap pada perubahan kondisi tubuh dan kehamilannya. Pengetahuan yang dimiliki ibu juga membantu komunikasi antar dokter dan pasien, untuk memastikan persalinan berjalan lancar.