Jangan Sembarangan Minum Obat Demam

doktersehat-anak-sakit-panas-demam

DokterSehat.Com– Demam berdarah dengue atau DBD merupakan penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue. Penderita demam berdarah dengue sangat membutuhkan asupan cairan yang dapat diserap oleh tubuh.

Umumnya gejala DBD disertai dengan meningkatnya suhu tubuh penderita. Sebagai pertolongan pertama penderita sebaiknya diberikan obat penurun panas. Menurut, dr. Marisa Melisa, “Obat penurun panas itu ada banyak golongannya, tapi yang sering dipakai itu ada tiga golongan obat, yaitu paracetamol, ibuprofen, dan asetosal. Ini bukan merek, tapi nama-nama bahan aktif. Ketiga obat tersebut, secara klinis memiliki tingkat efektivitasnya sama, tapi dalam hal safety, yang paling aman adalah paracetamol.”

WHO sudah menyetujui paracetamol sebagai obat penurun panas yang aman dikonsumsi oleh ibu hamil serta menyusui. Penggunaan paracetamol di saat lambung kosong juga masih aman. Obat penurun panas dengan kandungan bahan aktif paracetamol masih aman dikonsumsi di saat Anda belum makan. “Misalnya, mengalami demam atau sakit kepala saat puasa, ketika berbuka langsung minum obat paracetamol itu aman. Tapi, kalau yang mengandung asetosal harus makan dulu,” jelas dr. Maria.

Obat yang mampu membunuh virus dengue sampai sekarang belum ada. Pengobatan yang diberikan hanya sebatas untuk mengobati gejala-gejala yang muncul, contohnya obat penurun panas, obat sakit kepala, dan mengkonsumsi cairan dalam jumlah yang banyak. Jika hal ini tidak dilakukan, maka akan menyebabkan iritasi pada lambung dan risiko pendarahan semakin besar.

Sebaiknya jangan konsumsi sembarangan obat penurun panas saat Anda sudah dipastikan terserang penyakit DBD. WHO merekomendasikan paracetamol sebagai obat penurun panas dengan bahan aktif untuk demam berdarah. “Sebelum diketahui seorang pasien menderita DBD, diawali dengan gejala seperti demam. Sedangkan penyebab demam itu bermacam-macam. Bisa jadi karena hanya batuk dan pilek, juga bisa DBD. Jadi, bisa penyakit yang ringan sampai yang parah. Saat masih demam saja, kita tidak tahu apakah itu demamnya apa. Jadi yang pertama disarankan ialah penurun panas yang paling aman, yaitu paracetamol,” katanya.

Untuk pemakaian obat penurun panas berparasetamol, dr. Maria menyarankan untuk menggunakannya bila suhu tubuh di atas 38,5 derajat Celcius. Ia menambahkan, bila ingin panas cepat turun jangan memberikan dosis parasetamol yang sesuai dengan usia anak seperti yang tertera pada kemasan.

“Cara yang paling manjur menurunkan panas anak adalah memberikan parasetamol dengan dosis 15 mg per kilogram berat anak. Itu merupakan dosis sekali minum,” tandasnya. Jadi, semakin besar bobot anak, semakin banyak pula dosis parasetamol yang harus diberikan. Jika penurun panas yang diberikan pada anak yang demam adalah asetosal dan ternyata penyebab demamnya ialah infeksi virus, maka akan menimbulkan sindrom reye.

“Sindrom reye menyebabkan trombosit turun. Kalau sampai terjadi kerusakan liver yang parah, maka pasien bisa sampai meninggal. Untuk itulah, pertama-tama dianjurkan menggunakan paracetamol dulu, sampai ketahuan oleh dokter diagnosisnya apa. Kalau batuk pilek, ya pakai ibuprofen tidak apa. Tapi kalau demam-demam yang karena infeksi virus, jangan pakai asetosal, lalu juga demam-demam yang memiliki risiko perdarahan tinggi, seperti demam berdarah ini. Jika DBD, jangan pakai ibuprofen atau asetosal,” tambahnya.