Jangan Pernah Gunakan Koran Sebagai Pembungkus Makanan

DokterSehat.Com – Kita tentu kerap kali melihat jajanan yang kita temukan di pinggir jalan yang dibungkus dengan kertas koran atau plastik. Selain karena mudah untuk ditemukan, kedua bahan pembungkus makanan tersebut juga berharga murah dan mudah untuk digunakan. Sayangnya, menurut pakar kesehatan, makanan yang dibungkus dengan kedua bahan tersebut cenderung tidak sehat bagi kesehatan karena ada bahan kimia dari bungkus tersebut yang bisa tercampur dalam makanan dan berpengaruh bagi kesehatan tubuh kita. Bagaimana hal ini bisa terjadi?



Food Safety and Standard Authority of India (FSSAI) menyebutkan jika andai kita membungkus makanan dengan kertas bekas layaknya koran, maka dikhawatirkan tinta yang menempel pada kertas ini bisa ikut tercampur pada makanan. Padahal, di dalam tinta percetakan kita bisa menemukan bahan bioaktif layaknya pigmen, zat pengawet, binder, hingga zat aditif yang sangat buruk bagi kesehatan. Tak hanya tinta, kertas bekas layaknya koran juga tidak bisa kita pastikan kehigienisannya sehingga besar kemungkinan kertas tersebut sudah kotor, kaya akan bakteri atau bahkan berbagai mikroorganisme patogen yang bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.

Andai kita kerap mengkonsumsi makanan yang dibungkus dengan bahan kertas koran, dikhawatirkan beberapa organ vital dan juga sistem kekebalan tubuh terkena gangguan kesehatan. Kita juga akan meningkatkan resiko terkena kanker dan beberapa komplikasi penyakit yang berbahaya.

Selain koran, bahan plastik juga kerap digunakan sebagai pembungkus makanan, termasuk makanan-makanan panas atau berkuah panas. Padahal, andai plastik terkena makanan dengan suhu panas, ada beberapa kandungan kimia dalam plastik yang akhirnya meleleh dan tercampur pada makanan yang tentu akan sangat berbahaya bagi tubuh. Penelitian yang dilakukan di Mount Sinai Hospital di New York, Amerika Serikat, pada tahun 2015 menyebutkan jika bahan pembentuk plastik yang bernama diethylhexyl phthalate atau DEHP bisa tercampur pada makanan dan sangat berbahaya bagi tubuh, khususnya ibu yang sedang hamil karena bisa memicu masalah kesehatan pada organ genital anaknya di dalam kandungannya.