Jangan Meremehkan Nutrisi 1500 Hari Pertama Anak Anda

DokterSehat.com – Asupan nutrisi yang baik selama 1.500 hari pertama pada anak, sejak anak masih dalam kandungan, hingga lahir dan menyusu, kemudian disapih dan memasuki masa kanak-kanak, dapat turut menentukan kehidupan anak tersebut di masa depan.



Dr. Fiastuti Witjaksono MSc, MS, SpGK, Staf Luar Biasa Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, mengatakan betapa pentingnya nutrisi selama 1.500 hari pertama, bagi kesehatan anak di masa depan

Mutu generasi muda dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang baik. Hal ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan milenium (MDGs) di Indonesia, dimana prevalansi balita kekurangan nutrisi telah berkurang dari 31 persen pada 1989 menjadi 18,4 persen pada 2007. Target 2015 diperkirakan menjadi sebesar 15.5. Mendukung komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai MDGs tersebut, Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) terus menerus menyebarluaskan informasi mengenai bagaimana memperoleh kecukupan nutrisi khususnya pada balita.

Masa Kehamilan

Saat hamil, ibu memiliki kebutuhan nutrisi yang khusus dan meningkat untuk mendukung perkembangan janin dan menjaga kesehatan dirinya, sehingga ibu membutuhkan makanan yang seimbang dan sehat.

Menu ibu hamil dapat berupa makanan sumber energi seperti serealia dan biji-bijian untuk mendukung aktivitas dan pertumbuhan janinnya. Makanan sumber protein seperti daging, susu, telur dan kacang-kacangan dan sumber vitamin dan mineral seperti buah dan sayur dapat mendukung perkembangan plasenta, uterus, seperti juga pertumbuhan dan perkembangan janin.

Kekurangan beberapa jenis zat nutrisi selama periode kritis pada kehamilan dapat menyebabkan ketidaknormalan pertumbuhan bayi. Misalnya kekurangan asam folat dapat meningkatkan risiko terjadinya Neural Tube Defects (NTD). Ibu bisa memperoleh asam folat dari sayuran hijau, kacang-kacangan dan buah jeruk.

Banyak penelitian menunjukkan buruknya asupan nutrisi selama kehamilan dapat berakibat pada terganggunya proses tumbuh kembang bayi seperti berat bayi lahir rendah, yang berarti meningkatkan risiko terjadinya infeksi, ketidakmampuan belajar, dan bahkan penyakit. kardiovaskuler serta diabetes tipe 2 di kemudian hari.1,2,3,4

Masa Menyusui

Saat menyusui, ibu membutuhkan lebih banyak energi dan nutrisi tertentu seperti protein, kalsium, seng, DHA serta vitamin A, C, E dan B kompleks untuk menghasilkan ASI yang cukup dan optimal.
Selain nutrisi penting, ibu hamil dan menyusui juga bisa mendapatkan manfaat dari probiotik yang ditambahkan pada minuman bernutrisi khusus untuk ibu. Penelitian oleh Lopez et al. dan Kalliomaki et al. menyimpulkan bahwa probiotik dapat membantu sistem imun bayi dalam mencegah infeksi dan alergi.5,6

ASI tidak hanya mengandung berbagai nutrisi penting untuk memenuhi kebutuhan bayi serta memastikan pertumbuhan dan perkembangannya. ”Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif selama bayi berusia 0 hingga 6 bulan sangat penting, karena ASI memiliki tingkat alergenitas yang rendah, serta mengandung nutrisi yang optimal yang juga bermanfaat untuk mengurangi risiko alergi”, demikian Dr. Fiastuti Witjaksono MSc, MS, SpGK, Staf Luar Biasa Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran UniversitasnIndonesia. ASI tetap mengandung sejumlah kecil protein yang diperoleh dari diet ibu. Hal ini membantu agar protein makanan ditoleransi dengan baik oleh bayi sehingga ASI bermanfaat untuk mengurangi risiko alergi.

Masa Penyapihan

Saat bayi berusia 6 bulan, ASI saja belum mencukupi untuk pertumbuhannya. Bayi membutuhkan makanan padat juga. Pada masa ini, ukuran perut bayi 5 kali lebih kecil dibanding perut orang dewasa, tetapi kebutuhan nutrisinya relatif 5 kali lebih besar, seperti zat besi dan vitamin A.7 Oleh karena itu, memenuhi kebutuhan nutrisi di usia penyapihan tidaklah mudah.

Makanan pendamping yang khusus dibuat sebaiknya padat nutrisi agar sesuai kapasitas perut anak. Makanan pendamping yang difortifikasi berbagai vitamin dan mineral seperti bubur susu dapat menjadi alternatif pilihan yang baik.

Karena sistem imun bayi belum matang, makanan pendamping ASI harus diperkenalkan secara hati-hati untuk menghindari alergi. Alergi tidak dapat disembuhkan dan berdampak pada kehidupan seseorang secara fisik, emosi, sosial dan finansial. Dr. Muzal Kadim SpA(K), Staf Divisi Gastrohepatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM mengatakan bahwa probiotik dapat membantu mendukung kematangan sistem imun bayi dalam mencegah alergi dan infeksi.

Masa Balita

Pemenuhan kebutuhan nutrisi tetap penting untuk kelanjutan pertumbuhan, perkembangan dan proses belajar anak. Makanannya harus memenuhi kecukupan energi dan nutrisi untuk kebutuhannya yang terus bertambah seperti kalsium untuk mendukung pembentukan tulang dan gigi yang kuat, juga zat besi sebagai faktor dalam pembentukan sel darah merah Namun, pemberian makan dapat menjadi sebuah tantangan karena anak-anak cenderung memilih-milih makanan. Mereka juga cenderung menolak buah dan sayur sehingga berisiko menurunkan asupan vitamin A, C dan E. Oleh karenanya penting untuk melengkapi asupan nutrisi anak denga konsumsi susu.

Anak-anak juga suka bereksplorasi sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi. Dalam penelitiannya, Szajewska menyatakan bahwa probiotik dalam makanan seperti sereal atau susu pertumbuhan yang mengandung probiotik, dapat membantu meningkatkan imunitas anak.

Selain infeksi, alergi juga sering timbul pada anak. Sekalipun risikonya lebih tinggi pada anak yang memiliki orang tua ataupun saudara yang menderita alergi (20-80%), anak yang lahir tanpa memiliki keturunan alergi, masih memiliki risiko terkena alergi sebanyak 15%. Pemberian ASI di masa bayi dan mikroflora usus yang sehat membantu perkembangan imun dan dapat melindungi anak dari risiko alergi.

Penelitian yang dilakukan oleh The German Infant Nutritional Intervention Study (GINI) 2010 yang merupakan studi terbesar di dunia mengenai pencegahan alergi, menyatakan bahwa formula terhidrolisa parsial yang diberikan pada usia 16 minggu pertama pada bayi yang karena kondisi medis tidak mendapatkan ASI, secara signifikan dapat mengurangi risiko terjadinya alergi hingga usia 6 tahun.

Kurun waktu 1.500 hari pertama merupakan kesempatan bagi ibu untuk memberikan pondasi nutrisi yang kuat bagi anak mereka. Para ibu sebaiknya mengambil kesempatan ini sebelum terlambat.

Penjelasan diatas dapat disimpulkan mengenai dua hal :

  1. Asupan nutrisi yang baik selama 1.500 hari pertama, amat penting serta berdampak positif dan dapat turut menentukan kesehatan anak di masa depan.
  2. Asupan nutrisi pada anak, berawal sejak sebelum ia dilahirkan atau pada masa kehamilan ibunya, dan kemudian berlanjut pada masa menyusui, kemudian masa penyapihan hingga masa kanak-kanak.

Kontributor DokterSehat.com