Jaga Lambung Selama Puasa

DokterSehat.Com – Puasa bukan sekadar kegiatan keagamaan yang wajib dilakukan umat muslim. Lebih dari itu,puasa juga memiliki khasiat yang baik untuk menjaga kesehatan terutama lambung kita, dan  jika disertai dengan diet yang benar, puasa memberikan efek luar biasa bagi kesehatan tubuh.

doktersehat-penyakit-lambung-GERD-Gastroesophageal-reflux-disease-nyeri-dada

Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Ali Imron mengatakan saat berpuasa, seseorang harus menjaga pola makannya agar tidak diserang dispepsia atau nyeri lambung. Puasa hanya akan memberi manfaat besar bagi kesehatan jika mengonsumsi karbohdrat kompleks, protein, serat, dan air dalam jumlah cukup saat buka dan sahur.

“Dispepsia adalah ketidaknyamanan bahkan hingga nyeri pada saluran pencernaan, terutama bagian atas,” kata dokter Ali Imron, Rabu (18-7), ketika ditemui Lampung Post, di ruangannya.

Menurut dia, semua orang pernah mengalami dispepsia, baik laki-laki maupun perempuan. Satu di antara 4 orang pasti mengalami hal ini. Dispepsia juga merupakan suatu sindroma (kumpulan gejala) yang mencerminkan gangguan saluran cerna.

Kumpulan gejala tersebut adalah rasa tidak nyaman, mual, muntah, nyeri ulu hati,bloating (lambung merasa penuh atau sebah), kembung, sendawa, cepat kenyang, perut keroncongan hingga selalu buang angin. Gejala itu bisa akut, berulang, dan bisa juga menjadi kronis. Disebut kronis jika gejala itu berlangsung lebih dari satu bulan terus-menerus.

“Nah, pada saat berpuasa, kita bisa terhindar dari dispepsia karena makannya menjadi teratur saat sahur dan berbuka. Selain itu, faktor stresnya terkendali sehingga menjadi lebih tenang,” ujar Ali Imron.

Beberapa kebiasaan yang bisa menyebabkan dispepsia adalah menelan terlalu banyak udara, misalnya, mereka yang mempunyai kebiasaan mengunyah secara salah (dengan mulut terbuka atau sambil berbicara). Atau mereka yang senang menelan makanan tanpa dikunyah (biasanya konsistensi makanannya cair).

Keadaan itu bisa membuat lambung merasa penuh atau bersendawa terus. Kebiasaan lain yang bisa menyebabkan dispesia adalah merokok, konsumsi kafein (kopi), alkohol, atau minuman yang sudah dikarbonasi (softdrink), atau makanan yang menghasilkan gas ( tapai, nangka, durian). “Pola makan kita teratur saat puasa, sehingga lambung tidak banyak bekerja dan lebih rileks,” kata dia.

Ali Imron mengatakan meskipun tidak terlalu signifikan, puasa juga bermanfaat bagi yang ingin menurunkan berat badan berlebih. Dengan berpuasa, otomatis seseorang akan menahan keinginan untuk ngemil dan frekuensi makan juga berkurang. “Bagi penderita obesitas yang berpuasa hal ini sangat bagus dan dianjurkan,” kata dia.

Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa kekosongan saluran pencernaan saat berpuasa meningkatkan kadar asam lambung namun kondisi asam lambung akan kembali normal setelah berbuka.

“Jadi penderita sakit maag tetap bisa berpuasa. Bagi penderita sakit maag tertentu, puasa justru dapat menyembuhkan,” katanya.

Selain Ali Imron,  Staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan pula, bahwa sakit maag ataudispepsia, yang ditandai dengan gejala rasa tidak nyaman/perih/sakit di sekitar ulu hati, mual dan muntah, kembung, cepat kenyang, sering bersendawa dan kurang nafsu makan itu, dibedakan menjadi dua yaknidispepsia fungsional dan dispepsia organik.

Dispepsia fungsional, menurut dia, adalah gangguan fungsi lambung yang disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur, kebiasaan makan camilan berlemak, minum kopi dan minuman bersoda sepanjang hari, stres dan merokok. “Sedangkan dispepsia organik adalah gangguan kesehatan yang ditandai dengan luka atau tukak di lambung dan usus dua belas jari, antara lain akibat infeksi kuman Helicobacter pylori,” katanya.

Baca Juga:  Bahaya Alat Makan Melamin

Ia menjelaskan, penderita dispepsia fungsional diperbolehkan dan dianjurkan tetap berpuasa selama Ramadhan karena aktivitas tersebut tidak menimbulkan gangguan yang signifikan terhadap kondisi lambungnya.

“Pada dispepsia fungsional, kondisi lambung sebenarnya normal. Hanya saja, karena pola makan yang tidak teratur asam lambung jadi bergejolak sehingga menimbulkan gangguan. Keteraturan makan saat berpuasa justru bisa membuat gangguan maag berkurang atau bahkan hilang sama sekali,” jelasnya.

Hal itu, menurut dia, antara lain terjadi karena selama berpuasa pola makan menjadi teratur dan konsumsi camilan berlemak, rokok serta minuman bersoda akan sangat berkurang.

“Perilaku yang dapat meningkatkan keasaman lambung dikendalikan karena itu kalau puasa sakit maag fungsionalnya justru akan membaik,” tegasnya. Namun, ia menambahkan, ada baiknya penderita sakit maag fungsional mengonsumsi obat-obatan seperti antasidaranitidineomeprazole atau kombinasi antasida danfamotidine selama berpuasa untuk berjaga-jaga. Sedangkan penderita dispepsia organik, kata dia, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu bila hendak berpuasa.

Penderita dispepsia organik ringan, kata dia, memang bisa menjalankan ibadah puasa bila selama periode awal berpuasa kondisi lambungnya tidak terganggu. Bila saat berpuasa penderita terus-menerus muntah, ia menyarankan, sebaiknya puasa dihentikan saja atau berkonsultasi dengan dokter kalau ingin tetap berpuasa.

Sebab jika dilanjutkan, berpuasa bisa memperparah kondisi penderita dispepsia organik yang belum diobati, terutama bila ada tanda-tanda alarm.

Tanda-tanda alarm yang harus diwaspadai penderita maag organik, katanya, adalah bila kasus sakit maag pertama kali muncul pada usia di atas 45 tahun, terjadi penurunan berat badan, pucat, terjadi pendarahan di saluran cerna, muntah atau muntah darah berulang, dan berak berwarna kehitaman.

Ia menyebutkan pula bahwa maag organik antara lain bisa diobati dengan obat anti asam seperti antasida,ranitidinesimetidine, kombinasi antasida dan famotidineomeprazoleesomeprazolelansoprazolerebeprazoledan pantoprazole.

Agar Aman
Agar lambung aman dan nyaman selama menjalankan ibadah puasa dr.Ari menyarankan agar penderita sakit maag tidak mengonsumsi makanan yang mengandung banyak gas seperti makanan berlemak, makanan berserat, sayur kol dan sawi, nangka, pisang ambon, buah-buahan yang dikeringkan dan minuman bersoda.

“Hindari pula makanan yang merangsang pengeluaran asam lambung seperti kopi, minuman beralkohol dan bersoda, anggur putih, sari buah sitrus dan susu,” katanya menambahkan.

Selain itu, ujarnya, makanan yang sulit dicerna seperti kue tart, keju dan daging kambing sebaiknya juga tidak dikonsumsi karena dapat memperlambat pengosongan isi lambung.

Makanan yang secara langsung dapat merusak dinding lambung seperti makanan pedas dan makanan yang mengandung cuka atau bumbu merangsang serta sumber karbohidrat tertentu seperti beras ketan, mie, bihun, bulgur, jagung, ubi, singkong, tales, dan dodol sebaiknya juga dihindari.

“Makanan yang melemahkan klep kerongkongan seperti coklat, makanan tinggi lemak dan gorengan sebaiknya juga tidak dikonsumsi,” katanya.

Semua itu perlu dilakukan karena pengaturan makan yang baik merupakan salah satu kunci untuk menghindari terjadinya gangguan lambung.