Jadikan Cabut Gigi Sebagai Pilihan Terakhir

Dokter Sehat – Benarkah cabut gigi itu berbahaya dan bisa berakibat fatal? “Prinsipnya, cabut gigi itu aman dan tidak berbahaya, kok,” kata drg Benny Poliman, MKes, dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Sebagai ilustrasi, setiap hari, di seluruh dunia, ribuan kali dilakukan pencabutan gigi, dan buktinya aman-aman saja. Kalaupun ada yang kemudian menjadi fatal, bisa jadi itu hanya kasus. Misalnya, ternyata pasien punya penyakit berat tertentu sebelumnya.



Gigi memiliki beberapa bagian, antara lain email sebagai bagian terluar, lalu di bawahnya ada dentin, dan bagian paling dalam adalah pulpa. Jika yang rusak email-nya, masih bisa ditambal. Begitu pula bila yang rusak bagian dentin, masih bisa dirawat.

Namun, jika yang rusak adalah bagian pulpa, maka harus dilakukan perawatan saraf. Pulpa adalah suatu rongga di bawah dentin, di mana di dalamnya terdapat berbagai elemen jaringan seperti pembuluh darah dan persarafan.

“Masih belum dicabut, tapi harus dilakukan perawatan saraf. Sebetulnya, meskipun tinggal akar dan dalam kondisi mati, gigi masih bisa dipertahankan. Cuma, biaya perawatannya memang mahal. Semuanya tergantung pasien. Dokter memberi informasi, pasien sendiri yang menentukan,” lanjut Benny.

Dibereskan dulu

Gigi harus dicabut karena berbagai alasan. Pada beberapa kasus, jika gigi tidak dicabut, maka bisa terjadi focal infection. “Bakteri dari gigi busuk bisa terbawa peredaran darah ke mana-mana, ke organ tubuh vital seperti jantung atau ginjal dan organ-organ lainnya,” kata Benny.

Namun, gigi juga tak boleh dicabut sembarangan. “Harus sesuai prosedur. Pasien harus ditanya terlebih dulu, apakah memiliki riwayat penyakit dalam seperti diabetes atau darah tinggi. Penyakit diabetes, misalnya, akan memengaruhi penyembuhan luka, selain ditakutkan bisa menyebabkan infeksi. Contoh lain, pada penderita hipertensi, yang bisa menyebabkan perdarahan,” kata Benny.

Sering kali pasien tidak menyampaikan atau bahkan tidak tahu riwayat penyakit yang ia punya. “Ini yang kadang-kadang membuat dokter kecolongan dan bahkan berakibat fatal. Cabut gigi, kan, termasuk operasi juga. Jadi, sebaiknya standar prosedurnya dilakukan dengan benar,” jelas dokter gigi yang juga praktik di RS Royal Trauma, Jakarta Barat, ini.

Pasien yang baru saja menjalani operasi besar seperti jantung, atau pasien yang tengah menjalani perawatan kanker, juga tak bisa sembarangan mencabut gigi. Jika pasien ternyata memiliki penyakit-penyakit “berat” seperti di atas, atau baru saja menjalani operasi besar (misalnya operasi by pass), maka pencabutan gigi harus dikonsultasikan dengan dokter penyakit dalam yang merawatnya, atau malah ditunda. “Biasanya, sih, sebelum operasi besar, seperti operasi by pass, dilakukan check up menyeluruh, termasuk gigi. Kalau tidak, bisa repot,” kata Benny.

Baca Juga:  Awas, Make Up Anda Berbahaya!

Prinsipnya, sebelum menjalani operasi yang besar, sebaiknya giginya dibenarkan terlebih dulu. “Pasalnya, setelah operasi, pasien harus beristirahat lama untuk perawatan pasca-operasi. Jika terjadi apa-apa dengan gigi pada masa perawatan ini, maka tidak bisa dilakukan perawatan gigi.”

Atau pada pasien kanker yang harus menjalani perawatan dengan penyinaran. “Setelah penyinaran,­ maka selama 5 tahun tidak boleh dicabut giginya. Kalau ada gigi yang bolong atau jelek, sebaiknya dibereskan dulu sebelum penyinaran. Jika tidak, bisa terjadi osteoradionekrose. Pada pasien penyakit jantung yang diberi obat pengencer darah, jika ada gigi yang harus dicabut, maka 5 hari sebelum dan sesudah pencabutan, ia harus berhenti minum obat pengencer darah. Dan harus dikonsultasikan dengan dokter jantung,” papar Benny lagi.

Pilihan terakhir

Pergi ke dokter gigi, bagi kebanyakan orang, memang masih merupakan “momok”. “Kebanyakan orang jarang ke dokter gigi, kecuali giginya sudah sangat mengganggu dan sakitnya tidak hilang-hilang. Biasanya, mereka sudah mencoba minum obat painkiller (penghilang rasa sakit) lebih dulu. Kalau tidak sembuh juga, barulah dia ke dokter gigi,” kata Benny.

Meminum obat-obatan painkiller memang boleh-boleh saja. “Sebetulnya enggak apa-apa. Obat-obat painkiller itu, kan, dijual bebas di apotek dan bukan hanya untuk sakit gigi saja. Tapi, minum obat-obatan painkiller tidak akan menyembuhkan sakit giginya. Mengurangi rasa sakit iya, tapi tidak menyembuhkan. Jika terjadi infeksi pada gigi, maka gigi harus dibersihkan kumannya, yang busuk dibuang, lalu diberi antibiotik, dan sebagainya.”

Prinsipnya, gigi harus dipertahankan karena dengan berkurangnya gigi, fungsi pencernaan akan terganggu. “Pencabutan gigi sebetulnya merupakan pilihan terakhir,” pungkas Benny. (Nova/Hasto Prianggoro @ Kompas)