Inilah Penyebab Pasangan Senang Nonton Pornografi

pasangan-menonton-porno-doktersehat
Photo Credit: lovepanky.com

DokterSehat.Com– Apakah Anda memiliki pasangan yang gemar melihat film porno? Jika iya, berarti terdapat masalah seksual dalam kehidupan rumah tangga Anda. Menurut sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Sex & Marital Therapy, pria atau wanita yang mengalami masalah atau ketidakpuasan dalam kehidupan seksualnya, cenderung lebih sering untuk melihat pornografi.

Photo Credit: lovepanky.com

“Apa yang tampak jelas adalah bahwa pornografi bisa menjadi masalah bagi beberapa orang. Memang, sebagian kecil pengguna mengembangkan sifat kompulsif yang ditandai dengan sulitnya mengendalikan penggunaan pornografi dalam kehidupan mereka,” kata penulis studi Marie-Ève Daspe dari University of Southern California.

Penelitian yang dilakukan pada 471 pria dan 565 wanita ini menyurvei tentang bagaimana konsumsi pornografi di internet, kepuasan seksual, kepuasan hubungan, dan kontrol diri terhadap penggunaan pornografi.

“Sebagian besar peserta (98,1% pria dan 73,1% wanita) melaporkan telah menggunakan materi pornografi online dalam 6 bulan terakhir,” kata Daspe.

“Ini menunjukkan bahwa penggunaan pornografi sangat umum terjadi, bahkan di kalangan individu yang secara teknis memiliki akses untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya,” imbuhnya.

Dari sini, para peneliti menemukan bahwa frekuensi penggunaan pornografi dikaitkan dengan perasaan tidak puas saat berhubungan seksual dengan pasangan. Sementara mereka yang terpuaskan secara seksual cenderung mengacuhkan pornografi.

“Namun, ketidakpuasan terhadap pasangan dan kehidupan seks memperkuat hubungan antara frekuensi penggunaan dan kurangnya kontrol terhadap pornografi. Dalam kasus inilah mereka berisiko kehilangan kendali untuk menonton pornografi,” ungkapnya.

Meski begitu, penelitian ini memiliki keterbatasan. Para peneliti menggunakan metode cross sectional, yang mencegah periset untuk menarik kesimpulan mengenai sebab dan akibat dari subjek yang diteliti.

“Oleh karena itu, kami tidak dapat menentukan apakah hubungan dan kepuasan seksual memengaruhi persepsi kurangnya kontrol terhadap penggunaan pornografi terlebih dulu, atau apakah persepsi kurangnya kontrol bertanggung jawab untuk mengurangi hubungan dan kepuasan seksual,” jelasnya.

Apakah pengaruh pornografi pada kesehatan?
Menurut Lonnie Barbach, PhD, seorang sex therapist, semua hal yang berbau pornografi selalu membuat seorang laki-laki merasa tertarik. Otak laki-laki sangat sensitif dan mudah mengalami peningkatan gairah hanya dengan melihat pornografi. Karenanya, akan lebih baik jika kebiasaan ini dibatasi.

Tanpa disadari, sensasi peningkatan gairah seksual yang didapat saat melihat pornografi akan memicu keinginan diri untuk melihat hal-hal tersebut berulang-ulang, dan hal tersebut akan menimbulkan hubungan yang tidak sehat dalam kehidupan berumah tangga.

Sementara itu, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal PLOS ONE, para peneliti membandingkan otak pecandu pornografi, pecandu narkoba, dan pecandu alkohol. Hasilnya adalah, bagian striatum ventral pada otak yang berfungsi sebagai pemberi penghargaan atau jalur kesenangan akan aktif tatkala pecandu alkohol sedang melihat gambar minuman keras. Hal yang sama terjadi pada pecandu narkoba saat melihat gambar kokain dan pecandu pornografi saat melihat gambar yang berbau porno.

Meskipun terlihat sebagai hal yang menyenangkan dan biasa saja, kecanduan film porno tidak bisa diselepekan karena bisa mengubah cara berpikir sekaligus menurunkan produktifitas seseorang.

Untuk dikteahui, saat Anda menonton film porno, otak akan dibanjiri oleh hormon dopamin, hormon yang bisa membuat perasaan bahagia.Yang menjadi masalah adalah, semakin sering Anda menonton film porno, semakin menurun pula produksi dopamin dalam otak. Hal ini akan membuat tubuh menagih sensasi dopamin terus menerus sehingga akhirnya akan membuat Anda kecanduan menonton film porno.

Bagaimana pun juga, kebiasaan menikmati pornografi tidak akan membawa manfaat bagi kesehatan tubuh maupun jiwa. Bahkan, jika kebiasaan ini tidak bisa dilepaskan, justru aspek kejiwaanlah yang paling besar terkena dampaknya.