Ingin Cepat Langsing, Wanita Ini Rela Menelan Balon

DokterSehat.Com – Sebuah percobaan unik dilakukan di Amerika Serikat. Pada percobaan ini, wanita bernama Dana Goossens diminta untuk menelan balon khusus yang diyakini bisa membuat tubuhnya cepat langsing. Meskipun terlihat tidak masuk akal, pakar kesehatan yang terlibat dalam penelitian ini yakin jika cara ini bisa menjadi alternatif baru bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan. Seperti apakah balon yang ditelan oleh wanita berusia 29 tahun ini?



Balon khusus yang diyakini mampu menurunkan berat badan ini dinamai Obalon Balloon System. Dana sendiri mengaku tertarik untuk terlibat dalam percobaan ini karena sebelumnya telah berusaha keras ingin menurunkan berat badan namun gagal. Ia sendiri mengaku pernah mencoba pil diet, mengkonsumsi makanan hanya 500 kalori dalam sehari, menggunakan injeksi hormon, bahkan melakukan program Weight Watcher. Sayangnya, semua cara ini tidak mampu menjaga berat badannya dalam jangka panjang. Mengingat tekadnya untuk menurunkan berat badan masih sangat tinggi, Ia pun tertarik untuk mencoba program diet ini setelah membaca artikelnya.

Dana sendiri mengaku jika program diet balon ini sangat sederhana. Ia hanya perlu menelan kapsul kecil yang telah dikaitkan pada mikrokateter. Setelah itu, kapsul kecil yang ternyata adalah balon yang sudah masuk ke dalam perut ini akan mengembang hingga seukuran buah jeruk dan kateter pun kemudian ditarik keluar. Ia pun tinggal menerapkan pola makan yang sehat dan berolahraga secara rutin.

Setelah enam bulan, Ia mengaku berhasil menurunkan berat badannya hingga 18 kg. Ia pun mengaku takjub dengan hasil program diet balon ini. Dana sangat suka dengan program diet ini karena tidak perlu membuatnya menjalani proses bedah apapun sehingga Ia pun tidak mengalami kesulitan untuk melakukannya.

Baca Juga:  Wanita Memang Lebih Rentan Terkena Penyakit Dibandingkan Pria

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, FDA, pun menyetujui program diet balon ini . Siapapun yang tertarik untuk mencobanya tinggal menyiapkan dana sebesar US$ 6.000 hingga US$ 9.000, atau sekitar Rp 78 juta hingga Rp 117 juta. Sayangnya, program ini masih belum mendapatkan kover dari asuransi.