Infeksi Cytomegalovirus – Pengertian dan Ulasan Singkat

Infeksi cytomegalovirus merupakan infeksi kongenital (bawaan dari lahir) yang meluas di dunia dan merupakan infeksi kongenital yang paling sering terjadi dengan bentuk klinis yang berbeda-beda. Janin dapat terinfeksi karena infeksi ibu baru (primer) atau infeksi ibu rekuren (berulang/ reaktivasi). Kecenderungan infeksi janin dan risiko terkait sekuel (gejala sisa) dan kerusakan jaringan lebih tinggi setelah infeksi primer. Meskipun kebanyakan infeksi kongenital CMV asimptomatis (tanpa gejala) ketika bayi dilahirkan, infeksi CMV pada akhirnya menyebabkan kehilangan pendengaran sensorineural (kerusakan pendengaran karena syarafnya), retardasi mental, dan defisit neurologis (kerusakan saraf).

doktersehat-kehamilan-hamil-Infeksi-Cytomegalovirus

CMV merupakan kompleks famili virus DNA Herpesviridae. Virus kekuranan enzim timidin-kinase, sehingga resisten terhadap agen antiviral yang bergantung pada kerja enzim tersebut. Virus ini dinamakan cytomegalovirus karena ada benda inklusi di intranuklear dan intrasitoplasma yang tampak dengan penyakit simptomatik.

Epidemiologi
Infeksi CMV kongenital terjadi pada sekitar 0,2–2,5% dari semua kelahiran hidup. Infeksi lebih sering pada negara yang kurang maju dan pada kelompok masyarakat dengan sosial ekonomi rendah, di mana pemukiman padat masih banyak. Infeksi primer maupun rekuren pada ibu selama hamil akan menyebabkan infeksi CMV kongenital. Sekitar 1–4% wanita mendapatkan infeksi CMV primer pada kehamilannya, sekitar 10% wanita hamil sero-positif memiliki reaktivasi selama kehamilan mereka. Transmisi ke janin setelah infeksi primer sekitar 40%, di mana transmisi setelah infeksi rekurens hanya 1–3%.

Bentuk Klinis Infeksi CMV
Bentuk klinis dari infeksi CMV sekitar 90% asimptomatis ketika bayi dilahirkan. Namun terdapat trias klasik infeksi CMV yaitu ikterik (bayi berwarna kekuningan sebanyak 62% kasus infeksi CMV), peteki (bintik perdarahan pada kulit akibat pecahnya kapiler pembuluh darah sebanyak 58% kasus infeksi CMV), dan hepatosplenomegali (pembesaran organ hati dan lien pada 50% kasus infeksi CMV). Manifestasi klinis lainnya meliputi oligohidramnion (kurangnya jumlah air ketuban ketika mengandung), polihidramnion (kurangnya jumlah air ketuban ketika mengandung), prematuritas, retardasi pertumbuhan intrauteirin, hipotonia (otot yang lemah pada anak), kemampuan menyusui yang buruk, lethargi, ketidakstabilan suhu, ventrikulomegali serebri (lebarnya ventrikel otak yang memuat cairan otak), mikrosefal (ukuran kepala anak yang lebih kecil dari seharusnya), kalsifikasi intrakranial, biasanya merupakan distribusi periventrikuler, titik “blueberry muffin”, dan korioretinitis (radang pada bagian organ mata tertentu). Bayi dengan infeksi CMV simtomatis (bergejala) dapat berada pada risiko lebih untuk mengalami kejadian malformasi kongenital seperti hernia inguinal (turunnya usus sampai ke skrotum) pada laki-laki, langit-langit mulut dengan lengkung tinggi, kerusakan pada pembentukan enamel di gigi, hidrosefalus (kepala membesar akibat cairan di otak yang terlalu banyak), deformitas jempol, dan clubfoot (telapak kaki rata). Beberapa bayi dapat terkena hepatitis, pneumonia, osteitis, dan perdarahan intrakranial.