Ibu dengan HIV Positif: ASI atau Susu Formula?

DokterSehat.Com – HIV telah dikenal luas sebagai virus yang berbahaya dan mematikan. Seperti yang telah diketahui, penularan HIV dapat terjadi melalui kontak seksual dan jarum suntik yang tidak steril,  sedangkan penularan dari ibu pengidap HIV ke bayinya dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, hingga saat menyusui. Namun, yang masih sering menjadi pertanyaan banyak pihak, mulai dari masyarakat awam, penderita HIV, kader kesehatan, hingga tenaga kesehatan sendiri adalah, “Mana yang lebih baik bagi ibu dengan HIV positif, ASI atau susu formula?”

doktersehat-hiv-aids-antibodi-obat

Dari buletin yang dilansir oleh WHO pada Januari 2010, dinyatakan bahwa pada beberapa penelitian mengenai HIV/ AIDS di Afrika, pada keadaan di mana ibu dengan HIV positif tidak dapat memberikan susu pengganti (susu formula ) yang dapat diterima, layak diberikan, mampu dibeli, berkelanjutan, dan aman, sebaiknya memberikan ASI pada anaknya. Hal ini dikarenakan dalam ASI telah terkandung zat-zat yang dibutuhkan untuk perkembangan anak, selain itu ASI juga mengandung antibodi yang melindungi anak dari berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Memang benar bahwa ASI dapat menular melalui laktasi, bahkan risiko tertular meningkat dengan semakin lamanya waktu paparan ASI pada bayi. Oleh karena itu ibu harus tetap mengkonsumsi ARV secara teratur, yang dimulai sejak masa kehamilan, bersalin, hingga saat menyusui. Bahkan penelitian “Kesho Bora” yang dilakukan oleh WHO menunjukkan berkurangnya jumlah penularan HIV dari ibu ke bayi sebanyak 42% pada ibu yang mengkonsumsi ARV selama masa kehamilan, persalinan, dan laktasi.

Alasan lain mengenai tidak dianjurkannya pemberian susu formula untuk warga di negara berkembang adalah masalah ekonomi dan masalah higiene. Susu formula diangap kurang ekonomis jika dibandingkan dengan ASI. Tidak semua ibu dengan HIV positif, secara ekonomi, mampu menyediakan susu formula. Hal ini akan berujung pada terjadinya pemberian susu formula yang diselingi dengan pemberian ASI. Penelitian menunjukkan bahwa memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama menurunkan kemungkinan bayi tertular HIV sebanya 3 hingga 4 kali jika bayi mendapatkan ASI yang diselingi dengan susu atau makanan lain.

Baca Juga:  Permen Karet Xylitol Turunkan Risiko Angular Cheilitis

Berikutnya adalah masalah higiene yang hampir selalu menjadi sumber masalah utama di negara-negara berkembang. Masalah yang tampaknya sepele ini dapat terjadi mulai sejak produksi hingga pengemasan susu di pabrik, cara pembuatan susu yang salah (tidak mencuci tangan sebelumnya, tidak memasak air hingga mendidih, tidak mensterilkan botol susu), hingga kurangnya kebersihan lingkungan. Di masa lampau, dimana bayi dari ibu dengan HIV positif tidak mendapatkan ASI, melainkan susu formula, memang mengurangi angka kematian bayi akibat HIV. Di sisi lain, terjadi peningkatan kematian bayi akibat diare, pneumonia, gizi buruk, dan penyakit-penyakit lain yang tidak terkait dengan HIV.

WHO dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) merekomendasikan pada seluruh ibu dengan HIV positif untuk memberikan ASI ekslusif (ASI saja, tanpa diselingi makanan atau susu/minuman lain) selama enam bulan pertama. Setelah enam bulan, bayi harus mendapatkan makanan pengganti. Dan selama kehamilan hingga menyusui, ibu sebaiknya mengkonsumsi obat ARV. Konseling dengan dokter atau konselor terlatih dan berpengalaman dapat memberikan informasi dan saran yang lebih bermanfaat untuk masing-masing individu.

Sumber: WHO & International Child Health Review Collaboration