Hipotensi – Pengertian

Hipotensi adalah keadaan di mana tekanan darah dalam arteri lebih rendah daripada batas ambang normal. Sementara tekanan darah tinggi dikenal sebagai “silent killer” (pembunuh diam-diam), karena terkait dengan beberapa gejala akut, hipotensi (hipo= rendah + tensi= tekanan darah) dapat merupakan hal normal jika pasien tidak mengeluhkan gejala apapun, tapi dapat menjadi sangat penting jika pasien mengeluhkan gejala, atau pasien datang dengan penurunan kesadaran. Kadang-kadang justru tekanan darah rendah adalah hal yang baik, karena merupakan tujuan yang ingin dicapai dalam menjaga tekanan darah agar tetap di bawah kontrol. Kadang-kadang tekanan darah yang rendah adalah buruk karena tidak ada tekanan yang cukup untuk menyediakan aliran darah ke organ-organ tubuh. Semua itu kembali lagi kepada gejala yang dikeluhkan oleh pasien.

doktersehat-hipotensi-tekanan-darah-rendah

Pembacaan tekanan darah memiliki dua bagian dan dinyatakan sebagai rasio:

  • Tekanan darah “normal”, misalnya di angka 120/80 mmHg dan mengukur tekanan di dalam arteri tubuh.
  • Tekanan sistolik, angka yang pertama, mengukur tekanan dalam arteri saat jantung berkontraksi (sistole) untuk memompa darah ke tubuh.
  • Tekanan diastole, angka yang lebih rendah, mengukur tekanan istirahat dalam arteri, ketika jantung beristirahat.

Dinding pembuluh darah merupakan dinding yang lentur, yang berarti bahwa ruang dalam arteri bisa menyesuaikan menjadi lebih besar atau lebih kecil. Jika ruang lebih besar, dan cairan lebih sedikit, dan tekanan turun. Jika ruang semakin kecil, tekanan akan, sesuai hukum fisika. Arteri memiliki lapisan otot dalam dinding mereka yang dapat berkontraksi dan mempersempit arteri, membuat ruang di dalam pembuluh darah menjadi lebih sempit. Otot-otot dapat relaksasi dan melebarkan arteri, membuat lebih luas ruang di dalam pembuluh darah. Otot-otot ini berada di bawah kendali sistem saraf otonom, sistem otomatis tubuh yang membuat penyesuaian untuk perubahan kondisi tubuh terhadap lingkungan. Sistem saraf otonom memiliki dua jalur yang saling menyeimbangkan.

  • Sistem saraf simpatik menggunakan adrenalin (epinefrin) yang menyebabkan otot pada dinding pembuluh darah untuk berkontraksi (tonus simpatis). Saraf yang membantu dengan kontrol ini terletak di trunkus simpatikus, yang merupakan sekelompok saraf yang berjalan di samping tulang belakang.
  • Sistem saraf parasimpatis menggunakan asetilkolin untuk membuat otot-otot di dinding pembuluh darah rileks melalui saraf vagus.
Baca Juga:  Hipotensi - Penanganan dan Komplikasi

Sebagai contoh, ketika Anda berdiri, pembuluh darah harus menyempit untuk menyebabkan sedikit peningkatan tekanan darah, sehingga darah dapat melakukan perjalanan menanjak ke otak. Tanpa perubahan itu, Anda mungkin merasa pusing atau pingsan.