Hipertensi pada Anak

doktersehat-anak-kecil-tidur
pic credit: lars plougmann

Doktersehat.com – Hipertensi tidak hanya dialami orang dewasa saja, ternyata anak bahkan bayi dapat mengalami hipertensi. Serangan hipertensi pada anak jarang sekali terjadi, namun orang tua tetap harus mewaspadai gangguan hipertensi pada anak. Karena hipertensi pada anak bisa membahayakan keselamatan jiwa anak. Penyakit ini tidak dapat dipandang sebelah mata karena penyakit ini dapat menimbulkan kematian.Sebaiknya lakukan deteksi dini dengan pengukuran darah secara rutin pada setiap anak usia 3 tahun ke atas paling sedikit sekali setahun.

Hipertensi pada anak dibagi dua kategori, yaitu hipertensi, yaitu hipertensi primer bila penyebab hipertensi tidak dapat dijelaskan atau tidak diketahui penyakit dasarnya, biasanya berhubungan dengan faktor keturunan, masukan garam, stres, dan kegemukan. Sedangkan hipertensi sekunder terjadi akibat adanya penyakit lain yang mendasarinya seperti gagal ginjal.

Gejala timbulnya hipertensi pada anak antara lain adalah:

  • sering mengeluh sakit kepala
  • terjadi pembengkakan pada bagian kaki dan tangan
  • penglihatan kabur
  • nyeri perut
  • muntah
  • nafsu makan berkurang
  • gelisah
  • berat badan turun
  • keringat berlebih

Pada beberapa kasus (seperti pada gagal ginjal) gangguan hipertensi sering diikuti dengan gejala awal berupa:

  • anak muntah–muntah tanpa adanya penyebab yang jelas
  • rusaknya beberapa organ lainnya

Penanganan Hipertensi Pada Anak
Saat anak menunjukan gejala–gejala hipertensi segera periksakan anak ke dokter, khususnya jika pemicu anak mengalami tekanan darah tinggi tidak diketahui secara pasti.

Mulai lakukan diet garam pada anak jika anak positif mengalami gangguan tekanan darah tinggi sesuai dengan pemeriksaan yang dilakukan.

Pengobatan hipertensi pada anak tergantung dari derajat berat ringannya hipertensi dan penyakit yang mendasarinya. Pengobatan tanpa obat (nonfarmakologik), biasanya digunakan pada remaja dengan hipertensi primer dalam derajat ringan.

Pengobatan terdiri atas perubahan pola makan dengan mengurangi garam dalam makanan sehari-hari, olahraga, menurunkan berat badan, mengurangi stres, berhenti merokok dan minum alkohol dan menghentikan pemakaian obat-obatan yang menyebabkan hipertensi.

Pengobatan dengan obat antihipertensi (farmakologik) harus di tentukan terlebih dahulu indikasi yang pasti, seperti tidak berespons terhadap pengobatan tanpa obat, hipertensi berat, adanya gejala klinis yang berhubungan dengan kenaikan tekanan darah. Obat untuk mengontrol tekanan darah atau peninggian tekanan darah mendadak pada anak umumnya hidroklorotiazid, furosemid, kaptopril, propanolol, dan klonidin.

Tindakan operasi biasanya ditujukan untuk mengobati penyebab hipertensi sekunder yang berkaitan dengan penyakit ginjal, penyakit pembuluh darah ginjal dan koarktasio aorta.