Hari Ayah Nasional, Ada Baiknya Mengenal Depresi yang Dialami Ayah Pasca Kelahiran Anak

DokterSehat.Com – 12 November adalah Hari Ayah Nasional. Berbeda dengan Hari Ibu yang banyak dirayakan oleh banyak orang, Hari Ayah masih cenderung tidak banyak dirayakan dan menjadi perhatian banyak orang. Memang, dalam hal mengurus rumah tangga atau bahkan merawat anak-anak, ayah cenderung tidak memiliki peran besar layaknya ibu. Namun, dalam realitanya, ayah juga berusaha keras di dalam keluarga sehingga tentu layak mendapatkan apresiasi.

doktersehat-pusing-vertigo

Memperingati Hari Ayah Nasional kali ini, kita akan membicarakan depresi yang dialami ayah pasca kelahiran anak. Ya, depresi setelah melahirkan ternyata tidak hanya dialami oleh ibu, namun juga ayah, khususnya yang baru pertama kali mendapatkan keturunan. Pakar konseling dari Colorado, Amerika Serikat, bernama Craig Mullins mengungkapkan jika banyak pria yang kaget bukan main saat memiliki anak untuk pertama kali. Angan-angan dan kebahagiaan menjadi seorang ayah tiba-tiba saja dihempaskan dengan kenyataan yang membuatnya kebingungan dan putus asa, apalagi jika sang anak terus mengalami kolik dan menangis tanpa henti.

Menurut Mullins, banyak pria yang cenderung mudah marah dan tersinggung setelah mendapatkan anak. Sayangnya, banyak orang yang masih menganggap ayah sebagai pihak yang harusnya mendukung ibu dalam merawat anaknya, mengingat ada resiko ibu mengalami syndrome baby blues, sehingga mereka tidak boleh dan dianggap tidak mungkin terkena depresi. Padahal, ayah juga mengalami banyak hal yang harus dipikirkan layaknya masalah finansial, namun juga mengalami masalah layaknya kurang tidur, karena harus ikut mengurus anak. Mullins sendiri menyebutkan jika 4 hingga 10 persen pria yang menjadi ayah untuk pertama kalinya akan mengalami depresi ini.

Mullins menyebutkan jika tak seperti wanita yang bisa mengeluarkan emosinya dan menangis, banyak pria yang kebingungan dan putus asa berusaha menyimpan perasaannya karena tidak ingin membuat pasangannya ikut kebingungan dalam merawat bayi. Alhasil, mereka justru beresiko mengalihkan emosinya dengan rokok atau bahkan alkohol yang tentu akan kurang baik bagi kesehatanya.

Baca Juga:  Thalasemia Pada Ibu Hamil

Menurut Mullins, koordinasi dan komunikasi antara suami dan istri bisa dilakukan untuk mengatasi depresi ini. Keduanya harus saling pengertian dan mampu membagi kesibukan sehingga merawat anak tidak menjadi hal yang membuat depresi.