Gila, Pria Ini Menyuntikkan Racun Ular Ke Tubuhnya Sendiri

DokterSehat.Com – Apa yang dilakukan oleh Steve Ludwin dari California, Amerika Serikat, ini sangatlah tidak dipercaya. Bagaimana tidak, jika orang lain sebisa mungkin menghindari ular karena tidak ingin terkena racunnya, Ia justru menyuntikkan tubuhnya sendiri dengan racun ular tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi?



Pria berusia 49 tahun ini mengaku jika meskipun terlihat gila, Ia menyuntikkan racun ular pada tubuhnya dengan tujuan meningkatkan sistem imun tubuh. Ludwin bahkan mengaku jika kegiatan ini sudah Ia lakukan semenjak remaja, yakni pada usia 17 tahun. Pada awalnya, Ia tertarik dengan hal ini tatkala bertemu dengan dr. Bill Haast saat usianya 10 tahun. Dr. Haast sendiri dikenal sebagai manusia dari dunia Barat pertama yang menyuntikkan racun ular pada tubuhnya.

Dengan menyuntikkan racun ular pada tubuhnya sendiri, Ia mengaku jika sistem kekebalan tubuhnya semakin meningkat dan bahkan membuatnya awet muda. Sayangnya, dalam beberapa kasus, Ia juga pernah hampir kehilangan nyawa setelah melakukan hal gila ini, khususnya andai Ia salah menghitung dosis racun yang Ia masukkan ke dalam tubuh. Ia bahkan berkelakar jika gara-gara kegiatan gilanya ini, Ia sudah dalam kondisi layaknya kucing yang sudah kehilangan 8 nyawanya dan andai ada insiden yang berkaitan dengan suntikan racun ular ini lagi, bisa jadi Ia akan benar-benar kehilangan nyawanya.

Pakar kesehatan Wolfgang Wüster dari University of Wales menyebutkan jika apa yang dilakukan oleh Ludwin tidak akan memberikan manfaat apapun bagi kesehatan. Meskipun Ludwin mengaku merasa awet muda, bisa jadi hal ini disebabkan oleh hal lain, bukan karena suntikan racun ular.

Beruntung, kini Ludwin sudah berhenti dari kebiasaan gilanya, apalagi setelah mengalami dua kali insiden dalam satu tahun terakhir yang hampir merenggut nyawanya. Meskipun tak lagi menyuntikkan racun ular pada tubuhnya, Ludwin masih terlibat penelitian yang ditujukan untuk melihat apa dampak dari paparan racun ular pada tubuhnya. Penelitian yang dilakukan di Copenhagen sejak tahun 2013 ini hanya mengambil sampel darahnya sehingga tidak akan membahayakan kesehatan ataupun nyawanya.